Hai
kali saya akan mengutarakan apa yang ada di otak saya setelah membaca sebuah ff
bts yang ketjeh abis-abisan!!! Ya pemirsah saya terobsesi wkwk Entah kenapa
bayang-bayang lanjutan ff itu memenuhi otak say.____. Ya gara-gara ff itu
nge-gantung alias langsung tamat membuat saya terngiang-ngiang akan sambungan
ff itu ala pikiran sendiri... aneh sih tapi daripada saya gila mening di
tumpahkan sajalan di ketikan keyboard saya hehehehehe.________. Buat author
yang memberi inspirasi i love you so muchhhh:*****
Wide
Awake
Tak
pernah terfikirkan jika kehilangan sahabat begitu menyiksa Tae Hyung. Ia mulai
mengalami kejadian aneh semenjak Jung Kook meninggal. Apa kelanjutan kisah
mereka? Let’s find out what im thinking about....
“Hey!”
Tae
Hyung terkisap. Ia seperti terbangun dan kembali ke dunia nyata. Dengan gusar
ia segera mengalihkan pandangan ke sekitarnya. Dilihatnya beberapa anak yang
sedang sibuk lalu lalang dan saat ia menunduk ia mendapati secangkir latte nya
yang sudah dingin. Beberapa detik kemudian Tae Hyung baru sadar jika ia sedang
berada di sebuah cafe.
“Hey
Tae Hyung!” ulang Namjoon yang sebenarnya sudah dari tadi ada di samping Tae
Hyung. Jin dan Jimin juga ada disitu, mereka bertiga tak mengerti kenapa kelakuan
Tae Hyung begitu aneh. Ia tampak sangat kebingungan, bahkan di cuaca yang
sedingin ini dahinya kelihatan berkeringat dan sekilas mereka dapat melihat
ketakutan yang tersirat dimatanya.
“Kau
baik-baik saja?” sambung Jin sambil meneliti Tae Hyung.
“Ya.
Aku baik-baik saja,” akhirnya ia menjawab. Dalam hati Tae Hyung ia sangat
berterima kasih pada teman-teman nya ini karena membuat nya terlepas dari apapun
yang terjadi padanya barusan. Ya, baru saja ia merasa sedang berada di sebuah
kota bersalju. Kota itu menyimpan kesunyian yang mengerikan. Tak ada siapapun
disana. Hembusan angin yang begitu dingin menusuk tulang. Lalu tiba-tiba
semuanya menjadi padam dan berisik. Tae Hyung melihat api merah yang berkobar
hebat di hadapan nya. Api itu seperti iblis yang sangat murka. Ia mendengar
jeritan, lengkingan dan tangisan ketakutan yang serasa hampir memecahkan
gendang telinganya. Lalu kemudian Tae Hyung berusaha berlari sambil melindungi
telinganya meninggalkan tempat itu. Di belakang nya terdengar suara tawa yang
amat menggelegar dan kejam. Serasa ada tangan-tangan halus yang menggelayuti
bahunya. Menarik nya kebelakang. Tae Hyung tak berani menoleh kebelakang. Ia
terus berlari. Berlari sampai ia menyadari jika jalan yang ia tempuh tak
berujung.
“Kau
jadi aneh semenjak kejadian yang menimpa Jung Kook. Aku mengerti kau adalah
sahabat terbaik nya tapi kami harap kami bisa membantu mu mulai sekarang, kita
semua kan teman” Namjoon membuka pembicaraan saat mereka bertiga bergabung duduk
dikursi yang mengitari meja Tae Hyung.
“Kejadian
nya memang mengerikan sekali,” komentar Jimin. Pikiran Tae Hyung kembali melayang
pada Jung Kook. Semakin lama ia serasa semakin sedih saja jika mengingat
sahabatnya itu.
“Yah,
aku sangat kehilangan dia. Aku berterima kasih pada kalian karena sudah peduli
padaku,” ucap Tae Hyung melihat ketulusan teman-teman nya. Detik selanjutnya,
entah bagaimana caranya saat Tae Hyung berniat mengalihkan pandangan pada
cangkirnya semua yang ada di hadapan nya tadi menghilang.
Jantung
nya mulai kembali berpacu. Dan rasa tak nyaman itu kembali merasuki jiwanya.
Perasaan itu kemudian bermuara pada satu kesimpulan yang menakutkan.
Kematian.
Ada apa ini?
Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
Semuanya berwarna merah, bahkan
tanah yang ia pijaki. Lalu Tae Hyung baru tersadar jika ia berada di tengah
puing-puing bara api. Bau daging yang terbakar pun menguar, menusuk hidung nya.
“Aku
sudah memperingatkan mu bocah,” bisikan yang terasa sepanas api itu berhembus
tepat ke telinga Tae Hyung.
“Siapa
kau?” teriaknya kesal. “Apa yang kau mau dariku?”
Tawa
yang menyeramkan itu kembali terdengar. “Kau sama bodohnya dengan teman mu itu
ya..” beo nya mencemooh. “Tentu saja kehidupan!!!” bentaknya kejam.
Sekonyong-konyong
ada yang mencengkram kedua kaki TaeHyung. Saat ia mencoba melepaskan nya, Tae
Hyung melihat tangan-tangan yang setengah terbakar itu menyeruak dari bara api
yang dipijakinya. Semakin lama, semakin banyak dan kencang tangan-tangan itu
menariknya ke dalam. Sekuat tenaga ia mencoba terlepas dari jeratan itu. Tetapi
semakin ia mencoba terlepas semakin kuat tangan-tangan itu menariknya. Ia
berteriak kesakitan saat merasakan api yang panas itu membakar pergelangan
kakinya.
Ia
akan tenggelam di lautan api itu.
“Buka matamu!”
Tae Hyung kembali mendengar bisikan
lain di telinganya.
Api
itu serasa terus merambat menjilatinya. Panas yang menggigit.
“Tae Hyung! Kau harus buka matamu sekarang!”
Jung Kook?
Bahunya
terasa terdorong keras. Lalu Tae Hyung mengerjap.
“Apa
yang terjadi dengan nya?” suara Jimin terdengar meninggi dan bergetar. Ia
bertanya pada Jin yang sebenarnya sama tak mengertinya dengan dia tentang
perilaku aneh Tae Hyung yang lagi-lagi mereka saksikan.
Semuanya
telah kembali. Tae Hyung kembali berada di cafe bersama tiga teman nya.
“Maaf
jika aku menyenggol mu terlalu keras,” ujar Namjoon cepat. Saat ini Tae Hyung
dapat menangkap ekspresi kebingungan di wajah ketiga teman nya itu. “Kau tadi
memejamkan matamu sebentar dan tenggelam dalam fikiran mu sendiri. Kau bahkan
berkeringat di cuaca bersalju seperti ini.”
“Aku
mendengar suara Jung Kook,” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Tae
Hyung. Ia tahu pasti mereka akan mengiranya sudah sinting.
“Maksudmu?”
tanya Jin hati-hati. Ia takut membuat Tae Hyung tersinggung.
“Aku
mendengar nya! Ia menyuruhku membuka mata supaya aku keluar dari bayangan
mengerikan itu,” Tae Hyung sudah tak tahan lagi,ia harus berbicara pada seseorang
walaupun akhirnya mereka mungkin menganggap nya sudah gila. Apakah ini sebabnya Jung Kook selalu cerita
hal yang aneh-aneh?
“Hyung, apakah mungkin kita bermimpi
tapi tak sedang tidur?”
“Hyung pernah merasa jiwamu
tiba-tiba terbang tidak? Misalnya ke tempat yang mengerikan?”
“Hyung tau kah kau apa yang
menyebabkan orang bermimpi kapan saja walaupun sedang terjaga sekalipun?
Tae Hyung sekarang lebih
mengerti.
Mungkin
jika sekarang Jung Kook bertanya pertanyaan seperti itu ia akan memikirkan nya
baik-baik bukan nya memukul kepala nya dengan buku atau memarahinya dan
berdalih ia kekanak-kanakan.
Jung Kook yang malang, batin nya sedih.
Aku membiarkan sesuatu yang mengerikan ini terjadi padanya. Membiarkan makhluk
jahat itu merenggut kehidupan nya.
Setelah
merasa sedikit lega karena Tae Hyung telah menceritakan kejadian aneh yang
dialaminya akhir-akhir ini, mereka berempat pun akhirnya memutuskan berpisah.
NamJoon, Jin dan Jimin mengantarkan Tae Hyung kerumah nya dengan mobil yang
mereka kendarai. Di sepanjang perjalanan Tae Hyung merasakan suasana yang
canggung. Tentu saja ketiga teman nya itu sudah menganggap nya benar-benar sinting
dan lebih ingin mengantarkan nya ke psikiater daripada kerumah nya.
“Kau
yakin tak ingin kami temani lebih lama
lagi? Yah sekedar meringankan perasaan dan fikiran mu saja,” tawar
Namjoon saat Tae Hyung keluar dari mobil.
“Kau
ini bagaimana, nanti kita bisa-bisa tertular gila,” Jimin berbisik sangat pelan
sambil menyikut Namjoon. Ia ingin segera jauh-jauh dari Tae Hyung dan semua
cerita aneh nya. “Pergi saja yuk,” tambah Jimin tak sabaran.
“Ah
terima kasih tapi tak usah. Aku yakin kalian punya hal yang lebih penting,”
ujar Tae Hyung berusaha tersenyum dan terlihat baik-baik saja.
“Tae
Hyung benar, mungkin itu hanya imajinasinya saja dan yeah kau benar, kami punya
setumpuk tugas dirumah jadi byeeee!” Jimin menyembul keluar jendela sambil
melambai-lambai.
“Mmm..
Dirumah mu ada siapa?” tanya Jin sambil melihat-lihat rumah Tae Hyung yang
kelihatan sepi dari luar.
“Ibuku
ada dirumah, tenang saja,” jawab Tae Hyung tertawa hampa.
“Baiklah.
Jangan mikir yang macam-macam! Besok kita ketemu disekolah!” Lalu mobil itu pun
berlalu di hadapan Tae Hyung. Ia terus memandangi mobil itu sampai benar-benar
menghilang.
“Eomma?”
panggil Tae Hyung saat memasuki rumah.
Deg.
Ini
bukan rumah nya.
Lalu
ia melihat seorang wanita sedang membelakanginya berjalan keluar dari salah
satu pintu.
Tenggorokan
nya mendadak kering.
“Eomma?”
ulang nya ragu.
Wanita
dengan seringai lebar yang terobek sampai ke pipi yang menyebabkan gigi-gigi
tajam yang terlihat itu juga bukan ibunya.
“Selamat
datang kembali!” suara itu kembali berbisik jahil bersamaan dengan
menghamburnya wanita menyeramkan itu kepada Tae Hyung.
Kuku-kuku
panjang nya yang runcing dapat dengan mudah merobek kulit Tae Hyung dan
menyebabkan kepedihan yang amat sangat. Darah segar merembes dari luka cakaran
yang cukup dalam itu. Dengan penuh gairah, makhluk itu pun segera menjilati kukunya.
Tae Hyung mengerahkan seluruh tenaga nya untuk bergumul melawan wanita setan
itu. Mereka saling membanting ke segala arah.
“Kau
lebih kuat daripadanya!”
Suara
itu lagi. Suara Jung Kook!
Tae
Hyung menggeram kesal dan mendorong makhluk itu menjauh darinya. “Lepaskan aku,
makhluk sialan!!” umpatnya diiringi terlepas nya ia dari wanita menyeramkan
itu.
Terima
Kasih Jung Kook, batin nya dalam hati.
Tae
Hyung sadar, ia tak boleh takut menghadapi semua ini.
Dimensi
disekitar nya mendadak mengelupas dan apa yang dipijaki Tae Hyung ikut roboh. Ia
terjatuh. Terjatuh pada kegelapan yang pekat dan kelam. Lalu ia mendarat di
sebuah kubangan cair yang lengket. Begitu lengket sampai Tae Hyung merasa
tubuhnya terhisap perlahan. Bau anyir yang membuatnya ingin mengeluarkan isi
perutnya sudah memastikan apa yang tengah mencoba menghisap nya kali ini.
Darah. Tae Hyung terjebak di kubangan darah. Ia berusaha agar tetap bisa bernafas
walaupun paru-parun seakan diremas dari dalam. Kali ini Tae Hyung benar-benar
kehabisan tenaga. Tubuhnya sudah letih sekali. Dengan lambat tapi pasti Tae
Hyung akan tenggelam, terhisap kubangan darah ini. Kini hanya tinggal kepalanya
saja yang tak terendam.
“Ada
kata-kata terakhir?”suara itu kembali terdengar diikuti tawa kecil. Bukan suara
Jung Kook, melainkan suara iblis itu.
“Kenapa
kau lakukan ini pada kami?”
“Well.
Mudah saja! Aku benci kalian! Aku benci manusia!”
“Kau
iblis jahat! Brengsek kau! Kau tak pantas memperlakukan Jung Kook seperti itu!!”
Iblis
itu tertawa lebih kencang. “Oh kau rupanya masih mengingat dia ya? Haha kau, taukah
betapa bodoh nya dia dulu?! Dia bilang kau tak suka ber-imajinasi! Nyatanya
apa? Sekarang kau sekarat di depan
mataku!”
Tae
Hyung semakin tenggelam. Darah-darah itu sudah
mulai memasuki mulutnya. Membuatnya tersedak-sedak—sekarat setengah
mati.
Jung
Kook bilang, ia tak pernah berimajinasi.
Tak
pernah berimajinasi.
Tak
pernah berimajinasi.
Kalimat
itu berputar-putar memenuhi kepalanya.
Di
tengah kepanikan dan ke putusasaan nya Tae Hyung menemukan sesuatu.
Imajinasi.
Semua
ini hanya imanjinasinya.
Jung
Kook benar.
Ia
tak pernah dan jarang berimajinasi sebelum Jung Kook meninggal.
Tae
Hyung harus mengubahnya. Sekarang sebelum terlambat.
Tubuhnya
kini tenggelam sempurna. Iblis itu tertawa puas. Mengangkat ursula nya
tinggi-tinggi.
Tae
Hyung memejamkan matanya.
Ia
membayangkan hal-hal baik yang pernah ia alami.
Keluarganya.
Ayah- ibu- adik perempuan nya. Tawa mereka.
Lalu
kemudian sahabatnya. Jung Kook.
Mereka
sering menjahili guru sejarah mereka yang membosankan. Mencoba menarik
perhatian para gadis disekolah dengan hal-hal konyol yang mereka lakukan.
Mencoba membolos bersama tapi kemudian malah berakhir di ruang kesiswaan dan di
hukum berlari area sekolah sampai kaki mereka terasa mau copot.
Ya.
Semuanya itu hal baik yang nyata, sedangakan yang sedang dialaminya adalah hal
buruk yang tidak nyata.
Ini
tidak nyata.
“Apa
yang kau lakukan bocah sialan?” kata iblis itu tak menyangka ketika tiba-tiba
cahanya muncul dari segala arah. Tae Hyung merasakan tubuhnya kembali ringan,
tak ada yang membebaninya. Cahaya segera menyambutnya saat ia membuka mata.
Lalu
perlahan cahaya mulai membakar iblis berjubah itu. “Tidakkkkk!!!! Apa yang
terjadi??!!!” ia melolong murka. Tongkat
Ursulanya dihentakan beberapa kali tetapi tak ada yang terjadi sampai
akhirnya ia terbakar habis. Jubahnya yang kosong pun tergeletak di lantai dan seperti
ratusan kunang-kunang, jiwa-jiwa yang bercahaya itu berseliweran keluar dari
sana.
“Buka matamu!”
“Jung
Kook? Kau kah itu?”
“Hey! Buka matamu!”
Tae Hyung merasakan sesuatau yang
keras memukul kepalanya. Ia pun seketika mendongkak dan melongo saat mendapati
Jung Kook tengah menatap nya dengan aneh sambil masih memegang buku paket
sejarah yang sangat tebal di tangan nya.
“Kauuuu!!!”
panggil Tae Hyung setelah semua roh nya terasa utuh. “Berani-beraninya memukul
kepalaku!” ujar nya sambil cepat-cepat memukulkan buku lain ke kepala Jung Kook.
“Baik.
Aku minta maaf,”aku nya sambil tertawa.
“Yah
tak apa. Kau harus selalu masuk sekolah ya! Aku bisa gila jika duduk sendiri!”
“Ah
kenapa hyung?”
“Tak
apa-apa. Eh JungKook aku rasa kita sebaiknya berpelukan,”
“Hah?”
sebelum Jung Kook mengutarakan ke tidak mengerti-an nya Tae Hyung sudah
terlanjur memeluknya. “Aku merindukanmu!”
~~~~~~~


0 komentar:
Posting Komentar