Sabtu, 28 Desember 2013

My Imagine about sambungan Fanfiction BTS yang saya baca ,,,lol





Hai kali saya akan mengutarakan apa yang ada di otak saya setelah membaca sebuah ff bts yang ketjeh abis-abisan!!! Ya pemirsah saya terobsesi wkwk Entah kenapa bayang-bayang lanjutan ff itu memenuhi otak say.____. Ya gara-gara ff itu nge-gantung alias langsung tamat membuat saya terngiang-ngiang akan sambungan ff itu ala pikiran sendiri... aneh sih tapi daripada saya gila mening di tumpahkan sajalan di ketikan keyboard saya hehehehehe.________. Buat author yang memberi inspirasi i love you so muchhhh:*****

Wide Awake

            Tak pernah terfikirkan jika kehilangan sahabat begitu menyiksa Tae Hyung. Ia mulai mengalami kejadian aneh semenjak Jung Kook meninggal. Apa kelanjutan kisah mereka? Let’s find out what im thinking about....

“Hey!”
            Tae Hyung terkisap. Ia seperti terbangun dan kembali ke dunia nyata. Dengan gusar ia segera mengalihkan pandangan ke sekitarnya. Dilihatnya beberapa anak yang sedang sibuk lalu lalang dan saat ia menunduk ia mendapati secangkir latte nya yang sudah dingin. Beberapa detik kemudian Tae Hyung baru sadar jika ia sedang berada di sebuah cafe.
            “Hey Tae Hyung!” ulang Namjoon yang sebenarnya sudah dari tadi ada di samping Tae Hyung. Jin dan Jimin juga ada disitu, mereka bertiga tak mengerti kenapa kelakuan Tae Hyung begitu aneh. Ia tampak sangat kebingungan, bahkan di cuaca yang sedingin ini dahinya kelihatan berkeringat dan sekilas mereka dapat melihat ketakutan yang tersirat dimatanya.
            “Kau baik-baik saja?” sambung Jin sambil meneliti Tae Hyung.
            “Ya. Aku baik-baik saja,” akhirnya ia menjawab. Dalam hati Tae Hyung ia sangat berterima kasih pada teman-teman nya ini karena membuat nya terlepas dari apapun yang terjadi padanya barusan. Ya, baru saja ia merasa sedang berada di sebuah kota bersalju. Kota itu menyimpan kesunyian yang mengerikan. Tak ada siapapun disana. Hembusan angin yang begitu dingin menusuk tulang. Lalu tiba-tiba semuanya menjadi padam dan berisik. Tae Hyung melihat api merah yang berkobar hebat di hadapan nya. Api itu seperti iblis yang sangat murka. Ia mendengar jeritan, lengkingan dan tangisan ketakutan yang serasa hampir memecahkan gendang telinganya. Lalu kemudian Tae Hyung berusaha berlari sambil melindungi telinganya meninggalkan tempat itu. Di belakang nya terdengar suara tawa yang amat menggelegar dan kejam. Serasa ada tangan-tangan halus yang menggelayuti bahunya. Menarik nya kebelakang. Tae Hyung tak berani menoleh kebelakang. Ia terus berlari. Berlari sampai ia menyadari jika jalan yang ia tempuh tak berujung.
            “Kau jadi aneh semenjak kejadian yang menimpa Jung Kook. Aku mengerti kau adalah sahabat terbaik nya tapi kami harap kami bisa membantu mu mulai sekarang, kita semua kan teman” Namjoon membuka pembicaraan saat mereka bertiga bergabung duduk dikursi yang mengitari meja Tae Hyung.
            “Kejadian nya memang mengerikan sekali,” komentar Jimin. Pikiran Tae Hyung kembali melayang pada Jung Kook. Semakin lama ia serasa semakin sedih saja jika mengingat sahabatnya itu.
            “Yah, aku sangat kehilangan dia. Aku berterima kasih pada kalian karena sudah peduli padaku,” ucap Tae Hyung melihat ketulusan teman-teman nya. Detik selanjutnya, entah bagaimana caranya saat Tae Hyung berniat mengalihkan pandangan pada cangkirnya semua yang ada di hadapan nya tadi menghilang.
            Jantung nya mulai kembali berpacu. Dan rasa tak nyaman itu kembali merasuki jiwanya. Perasaan itu kemudian bermuara pada satu kesimpulan yang menakutkan.
            Kematian.
            Ada apa ini?
            Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
            Semuanya berwarna merah, bahkan tanah yang ia pijaki. Lalu Tae Hyung baru tersadar jika ia berada di tengah puing-puing bara api. Bau daging yang terbakar pun menguar, menusuk hidung nya.
            “Aku sudah memperingatkan mu bocah,” bisikan yang terasa sepanas api itu berhembus tepat ke telinga Tae Hyung.
            “Siapa kau?” teriaknya kesal. “Apa yang kau mau dariku?”
            Tawa yang menyeramkan itu kembali terdengar. “Kau sama bodohnya dengan teman mu itu ya..” beo nya mencemooh. “Tentu saja kehidupan!!!” bentaknya kejam.
            Sekonyong-konyong ada yang mencengkram kedua kaki TaeHyung. Saat ia mencoba melepaskan nya, Tae Hyung melihat tangan-tangan yang setengah terbakar itu menyeruak dari bara api yang dipijakinya. Semakin lama, semakin banyak dan kencang tangan-tangan itu menariknya ke dalam. Sekuat tenaga ia mencoba terlepas dari jeratan itu. Tetapi semakin ia mencoba terlepas semakin kuat tangan-tangan itu menariknya. Ia berteriak kesakitan saat merasakan api yang panas itu membakar pergelangan kakinya.
            Ia akan tenggelam di lautan api itu.
            “Buka matamu!”
            Tae Hyung kembali mendengar bisikan lain di telinganya.
            Api itu serasa terus merambat menjilatinya. Panas yang menggigit.
            “Tae Hyung! Kau harus buka matamu sekarang!”
            Jung Kook?
            Bahunya terasa terdorong keras. Lalu Tae Hyung mengerjap.
            “Apa yang terjadi dengan nya?” suara Jimin terdengar meninggi dan bergetar. Ia bertanya pada Jin yang sebenarnya sama tak mengertinya dengan dia tentang perilaku aneh Tae Hyung yang lagi-lagi mereka saksikan.
            Semuanya telah kembali. Tae Hyung kembali berada di cafe bersama tiga teman nya.
            “Maaf jika aku menyenggol mu terlalu keras,” ujar Namjoon cepat. Saat ini Tae Hyung dapat menangkap ekspresi kebingungan di wajah ketiga teman nya itu. “Kau tadi memejamkan matamu sebentar dan tenggelam dalam fikiran mu sendiri. Kau bahkan berkeringat di cuaca bersalju seperti ini.”
            “Aku mendengar suara Jung Kook,” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Tae Hyung. Ia tahu pasti mereka akan mengiranya sudah sinting.
            “Maksudmu?” tanya Jin hati-hati. Ia takut membuat Tae Hyung tersinggung.
            “Aku mendengar nya! Ia menyuruhku membuka mata supaya aku keluar dari bayangan mengerikan itu,” Tae Hyung sudah tak tahan lagi,ia harus berbicara pada seseorang walaupun akhirnya mereka mungkin menganggap nya sudah gila. Apakah ini sebabnya Jung Kook selalu cerita hal yang aneh-aneh?
            “Hyung, apakah mungkin kita bermimpi tapi tak sedang tidur?”
            “Hyung pernah merasa jiwamu tiba-tiba terbang tidak? Misalnya ke tempat yang mengerikan?”
            “Hyung tau kah kau apa yang menyebabkan orang bermimpi kapan saja walaupun sedang terjaga sekalipun?
            Tae Hyung sekarang lebih mengerti.
            Mungkin jika sekarang Jung Kook bertanya pertanyaan seperti itu ia akan memikirkan nya baik-baik bukan nya memukul kepala nya dengan buku atau memarahinya dan berdalih ia kekanak-kanakan.
            Jung Kook yang malang, batin nya sedih. Aku membiarkan sesuatu yang mengerikan ini terjadi padanya. Membiarkan makhluk jahat itu merenggut kehidupan nya.
            Setelah merasa sedikit lega karena Tae Hyung telah menceritakan kejadian aneh yang dialaminya akhir-akhir ini, mereka berempat pun akhirnya memutuskan berpisah. NamJoon, Jin dan Jimin mengantarkan Tae Hyung kerumah nya dengan mobil yang mereka kendarai. Di sepanjang perjalanan Tae Hyung merasakan suasana yang canggung. Tentu saja ketiga teman nya itu sudah menganggap nya benar-benar sinting dan lebih ingin mengantarkan nya ke psikiater daripada kerumah nya.
            “Kau yakin tak ingin kami temani lebih lama  lagi? Yah sekedar meringankan perasaan dan fikiran mu saja,” tawar Namjoon saat Tae Hyung keluar dari mobil.
            “Kau ini bagaimana, nanti kita bisa-bisa tertular gila,” Jimin berbisik sangat pelan sambil menyikut Namjoon. Ia ingin segera jauh-jauh dari Tae Hyung dan semua cerita aneh nya. “Pergi saja yuk,” tambah Jimin tak sabaran.
            “Ah terima kasih tapi tak usah. Aku yakin kalian punya hal yang lebih penting,” ujar Tae Hyung berusaha tersenyum dan terlihat baik-baik saja.
            “Tae Hyung benar, mungkin itu hanya imajinasinya saja dan yeah kau benar, kami punya setumpuk tugas dirumah jadi byeeee!” Jimin menyembul keluar jendela sambil melambai-lambai.
            “Mmm.. Dirumah mu ada siapa?” tanya Jin sambil melihat-lihat rumah Tae Hyung yang kelihatan sepi dari luar.
            “Ibuku ada dirumah, tenang saja,” jawab Tae Hyung tertawa hampa.
            “Baiklah. Jangan mikir yang macam-macam! Besok kita ketemu disekolah!” Lalu mobil itu pun berlalu di hadapan Tae Hyung. Ia terus memandangi mobil itu sampai benar-benar menghilang.
            “Eomma?” panggil Tae Hyung saat memasuki rumah.
            Deg.
            Ini bukan rumah nya.
            Lalu ia melihat seorang wanita sedang membelakanginya berjalan keluar dari salah satu pintu.
            Tenggorokan nya mendadak kering.
            “Eomma?” ulang nya ragu.
            Wanita dengan seringai lebar yang terobek sampai ke pipi yang menyebabkan gigi-gigi tajam yang terlihat itu juga bukan ibunya.
            “Selamat datang kembali!” suara itu kembali berbisik jahil bersamaan dengan menghamburnya wanita menyeramkan itu kepada Tae Hyung.
            Kuku-kuku panjang nya yang runcing dapat dengan mudah merobek kulit Tae Hyung dan menyebabkan kepedihan yang amat sangat. Darah segar merembes dari luka cakaran yang cukup dalam itu. Dengan penuh gairah, makhluk itu pun segera menjilati kukunya. Tae Hyung mengerahkan seluruh tenaga nya untuk bergumul melawan wanita setan itu. Mereka saling membanting ke segala arah.
            “Kau lebih kuat daripadanya!”
            Suara itu lagi. Suara Jung Kook!
            Tae Hyung menggeram kesal dan mendorong makhluk itu menjauh darinya. “Lepaskan aku, makhluk sialan!!” umpatnya diiringi terlepas nya ia dari wanita menyeramkan itu.
            Terima Kasih Jung Kook, batin nya dalam hati.
            Tae Hyung sadar, ia tak boleh takut menghadapi semua ini.
            Dimensi disekitar nya mendadak mengelupas dan apa yang dipijaki Tae Hyung ikut roboh. Ia terjatuh. Terjatuh pada kegelapan yang pekat dan kelam. Lalu ia mendarat di sebuah kubangan cair yang lengket. Begitu lengket sampai Tae Hyung merasa tubuhnya terhisap perlahan. Bau anyir yang membuatnya ingin mengeluarkan isi perutnya sudah memastikan apa yang tengah mencoba menghisap nya kali ini. Darah. Tae Hyung terjebak di kubangan darah. Ia berusaha agar tetap bisa bernafas walaupun paru-parun seakan diremas dari dalam. Kali ini Tae Hyung benar-benar kehabisan tenaga. Tubuhnya sudah letih sekali. Dengan lambat tapi pasti Tae Hyung akan tenggelam, terhisap kubangan darah ini. Kini hanya tinggal kepalanya saja yang tak terendam.
            “Ada kata-kata terakhir?”suara itu kembali terdengar diikuti tawa kecil. Bukan suara Jung Kook, melainkan suara iblis itu.
            “Kenapa kau lakukan ini pada kami?”
            “Well. Mudah saja! Aku benci kalian! Aku benci manusia!”
            “Kau iblis jahat! Brengsek kau! Kau tak pantas memperlakukan Jung Kook seperti itu!!”
            Iblis itu tertawa lebih kencang. “Oh kau rupanya masih mengingat dia ya? Haha kau, taukah betapa bodoh nya dia dulu?! Dia bilang kau tak suka ber-imajinasi! Nyatanya apa? Sekarang  kau sekarat di depan mataku!”
            Tae Hyung semakin tenggelam. Darah-darah itu sudah  mulai memasuki mulutnya. Membuatnya tersedak-sedak—sekarat setengah mati.
            Jung Kook bilang, ia tak pernah berimajinasi.
            Tak pernah berimajinasi.
            Tak pernah berimajinasi.
            Kalimat itu berputar-putar memenuhi kepalanya.
            Di tengah kepanikan dan ke putusasaan nya Tae Hyung menemukan sesuatu.
            Imajinasi.
            Semua ini hanya imanjinasinya.
            Jung Kook benar.
            Ia tak pernah dan jarang berimajinasi sebelum Jung Kook meninggal.
            Tae Hyung harus mengubahnya. Sekarang sebelum terlambat.
            Tubuhnya kini tenggelam sempurna. Iblis itu tertawa puas. Mengangkat ursula nya tinggi-tinggi.
            Tae Hyung memejamkan matanya.
            Ia membayangkan hal-hal baik yang pernah ia alami.
            Keluarganya. Ayah- ibu- adik perempuan nya. Tawa mereka.
            Lalu kemudian sahabatnya. Jung Kook.
            Mereka sering menjahili guru sejarah mereka yang membosankan. Mencoba menarik perhatian para gadis disekolah dengan hal-hal konyol yang mereka lakukan. Mencoba membolos bersama tapi kemudian malah berakhir di ruang kesiswaan dan di hukum berlari area sekolah sampai kaki mereka terasa mau copot.
            Ya. Semuanya itu hal baik yang nyata, sedangakan yang sedang dialaminya adalah hal buruk yang tidak nyata.
            Ini tidak nyata.
            “Apa yang kau lakukan bocah sialan?” kata iblis itu tak menyangka ketika tiba-tiba cahanya muncul dari segala arah. Tae Hyung merasakan tubuhnya kembali ringan, tak ada yang membebaninya. Cahaya segera menyambutnya saat ia membuka mata.
            Lalu perlahan cahaya mulai membakar iblis berjubah itu. “Tidakkkkk!!!! Apa yang terjadi??!!!” ia melolong murka. Tongkat  Ursulanya dihentakan beberapa kali tetapi tak ada yang terjadi sampai akhirnya ia terbakar habis. Jubahnya yang kosong pun tergeletak di lantai dan seperti ratusan kunang-kunang, jiwa-jiwa yang bercahaya itu berseliweran keluar dari sana.
            “Buka matamu!”
            “Jung Kook? Kau kah itu?”
            “Hey! Buka matamu!”
            Tae Hyung merasakan sesuatau yang keras memukul kepalanya. Ia pun seketika mendongkak dan melongo saat mendapati Jung Kook tengah menatap nya dengan aneh sambil masih memegang buku paket sejarah yang sangat tebal di tangan nya.
            “Kauuuu!!!” panggil Tae Hyung setelah semua roh nya terasa utuh. “Berani-beraninya memukul kepalaku!” ujar nya sambil cepat-cepat memukulkan buku lain ke kepala Jung Kook.
            “Baik. Aku minta maaf,”aku nya sambil tertawa.
            “Yah tak apa. Kau harus selalu masuk sekolah ya! Aku bisa gila jika duduk sendiri!”
            “Ah kenapa hyung?”
            “Tak apa-apa. Eh JungKook aku rasa kita sebaiknya berpelukan,”
            “Hah?” sebelum Jung Kook mengutarakan ke tidak mengerti-an nya Tae Hyung sudah terlanjur memeluknya. “Aku merindukanmu!”
~~~~~~~
Posted on by Nabila Naomi | No comments

0 komentar:

Posting Komentar