Jumat, 25 Oktober 2013

Makna lagu Heartbreaker - Justin Bieber



Hello computer peopleeeee :)
Hayo yang Beliebers pastinya udah dengar lagu Heartbreaker kan? Kalo belom parah-_- masa iya, apalagi yang gak tahu, ya ampun kebangetan kudetnya, gamungkin lah Beliebers kagak tau-..- Orang si Justin udah koar-koar dari jaman sebelum masehi-_- hahaha iya gak segitu nya juga sih tapi gue gedeg aja di php-in lagu ini dari jaman kapan tau. Yaudah lah yang penting lagu ini udah keluar... akhirnyaaaa... ya walaupun gue sial. Yep, pas lagu ini keluar gue lagi UTS, dan ortu ngelarang buat internetan. Mana modem gue segla di ilangin sama adek laki gue lagi! Hidih amit dah kesel nyampe ke ubun-ubun!! Wat de Fakk lah-_-
Yo, kita bahas apaan sih yang jadi makna heartbreaker di lagu si Justin yang kadang suka ngalay di instagram. Beneran deh, kadang gue suka aneh liat pose-posenya di ig. Tapi gapapalah gitu-gitu juga di bebep kesanyangan gue hihiww :3
Yaudah lah karena di ganteng gue maapin wkwk-_- kapan ngejelasin makna nyaaaaaaaaaaa.____. Okey sekarang babyyyy ;)
To be Honest nih ya, yang pertama gue bayangin pas ngedenger “Heartbreaker” itu adalah SELENA. Yep Yep, SELENA MARRIE GOMEZZZZ *puter lagu when you ready come and get it nanananananananana~
Seriusan. Lagu Heartbreaker sih menurut gue ASLI CURHATAN NYE JUSTINN TENTANG KANDAS NYA PERCINTAAN NYA DENGAN si Sele. Dengerin aja deh, lagunya galau banget. Pengen rasanya gue cipok tuh si Justin biar diem. Ga sanggup gue denger di sedih kek gitu._.v biar lebih jelas lo cari dulu gih lirik sama arti lagu heartbreaker terus mikir deh *sama kayak gue sekarang*
Nah udah baca? Bener kan? Sedih bangettt. Gue sebenernya ga terlalu suka lagu yang sedih yang kebangetan, kayak “lo tuh masih punya banyak hal yang nyenengin jangan mikirin yang sedih mulu nape” apalagi yang bagian Justin nya ngomong doang, So what im really trying to say is, and what i hope you understand
Is despite of all imperfections ofwho i am i still wanna be your man
I know it hasn’s been easy for us to talk with everyone being around
But this is, this is personal, this is for me and you
And i want you to know that i still love you
And i know the seasons may change
But sometimes love goes from sunshine to rain
But im under this umbrella and im calling your name
And you know i dont wanna lose that
I still believe in us
Tuh kan bener-bener-_- dia emang lagi curhat, jujur ini bikin gue nambah kesel sama selena-_- kok dia gitu banget ya-_- punya apa sih dia sampe si Justin tergila gila nyampe segitunya-_-
hmmphhtttttt-___________-
Tapi entahlah, gue gangerti sama yang yang namanya cinta, eh wkwk ya gitu, gue juga gangerti sama Jelena, gue ngertinya Jeliebers doang. Jadi heartbreaker gue simpulkan adalah curahan hati seorang Justin Bieber yang menghasilkan. Udah gitu doang byeeeeeee :***** still love justin, beliebers dan antek-anteknyaaaaa :3
Posted on by Nabila Naomi | No comments

Sabtu, 12 Oktober 2013

Secret Memories #1

Title : Secret Memories
Genre : Romance, Family, Horor, Mystery
Main Cast : Justin Drew Bieber (as him self) Weronika Mamot (Lillian Anderson) and many more, find ur self :)
Summary : Lillian yang akrab dipanggil Lil dan adik perempuan nya Catherine, (biasa dipanggil Cat) yang masih berusia enam tahun akan menghabiskan liburan musim panas di rumah kakek-neneknya di sebuah tempat yang jauh dari perkotaan, tepatnya di pesisir pantai yang sepi. Lillian yang tengah senang-senang nya melakukan hal-hal seperti gadis remaja lain nya, membayangkan jika liburan ini akan menjadi liburan yang paling membosankan sepanjang masa. Kemudian seorang anak lelaki datang dan semua nya jadi diluar rencana...

Part 1 : Summer Not Hot!
            Kedua bola mata cokelat Catherine menatap pepohonan yang berkelebat di luar jendela. Rasanya ia sudah sangat tidak sabar untuk sampai kerumah kakek-neneknya. Ibunya bercerita jika disana terdapat pantai yang sangat indah dan kebun yang luas. Pasti banyak tempat bermain yang mengasyikan, batin Cat sambil menerawang.
            “Apakah kita sudah dekat dengan rumah nenek Lil?”
            Gadis yang tengah duduk disebelahnya itu tak menjawan. Ia sedang sibuk mendengarkan lagu dari headset yang menyumpal telinga nya sedari tadi. Cat menyenggol kakak perempuan nya agar ia bisa mendapat jawaban dari pertanyaan nya.
            “What?” tanya Lillian sewot. Ia melepaskan sebelah headset nya sambil tak sabar menunggu apa yang akan dikatakan adiknya.
            “Apakah kita sudah dekat dengan rumah nenek?”
            Lillian menghela nafas. “Gosh! Kau terus menanyakan pertanyaan itu padaku tiap 15 menit sekali, ya ampun Cat, dengar ya, aku tak peduli berapa lama lagi kita akan sampai, mengerti?!” Headset nya segera kembali menyumpal telinga Lillian. Kini giliran Catherine yang mendengus sebal, ia pun kembali memandangi jendela.
            Deburan ombak yang membentur-bentur karang sudah terdengar. Burung-burung camar pun terlihat melintasi langit. Catherine bersorak kegirangan. Ia yakin kali ini mobil mereka sudah dekat dengan rumah nenek nya. Semburat oranye mewarnai langit saat akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Mr. Anderson mematikan mesin mobil Firebird nya. Catherine melompat keluar setelah ayah nya membukakan pintu. Lillian menyusul di belakang, agak tersangkut headset nya sendiri. Mrs. Anderson keluar setelahnya sambil menenteng tas kecil. Sepasang pasangan paruh baya menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang lebar. Catherine segera menghambur ke pelukan nenek-kakek nya, sedangkan Bobby, ia terlihat begitu tak bersemangat. Rasanya semua kesenangan dalam hidupnya pupus sudah saat memasuki rumah yang ber-aroma masakan tersebut.
            Suasana makan malam malam serasa begitu hangat. Bau daging panggang memenuhi ruangan. Mereka duduk pada meja makan bundar dekat perapian seraya berbagi cerita sambil sesekali tertawa. Catherine, anak kecil itu, yang paling bersemangat, ia bercerita kejadian konyol nya saat membeli disekolah dan saat membeli anjing kecil mereka Cooper.
            “Bagaimana dengan sekolah mu Lillian?” tanya si Kakek yang  ternyata memerhatikan jika Lillian lah orang yang paling pendiam sedari tadi. Gadis itu hanya mengaduk-aduk makanan nya sambil sesekali tertawa hambar.
 Lillian sontak berhenti mengunyah, ia tak menyangka jika Kakek nya akan bertanya padanya. “Mm.. baik,” jawab nya ragu. Sekolah nya baik. Huh itusih lelucon. Ia sangat tersiksa dengan kakak-kakak kelas yang selalu menindas nya gara-gara murid tahun pertama di sekolah itu, belum lagi tugas dan test yang hampir membuatnya gila.
Setelah acara makan malam selesai, Mrs. Anderson membantu nenek mereka membereskan meja sedangkat Mr. Anderson masih terlibat percakapan hangat dengan si kakek. Lillian merasa tubuh nya sudah bagitu lelah segera melangkah ke kamar yang sudah disiapkan neneknya.
“Lill! Ayo kita ke pantai!” ajak Catherine agak merajuk, ia mencegah kakaknya memasuki kamar. Caherine bahkan sudah membawa ember dan sekop untuk bermain pasir.
            “Kau gila! Sekarang sudah malam Cat!” gerutu kakaknya malas.
            “Sebentar saja, ayolah.” pinta adik nya lagi sembari menarik-narik dress Lillian. Kedua bola mata bulatnya dibuka lebar-lebar sambil tersenyum polos.
            “Tidak!” jawab Lillian tegas. “Aku lelah! Sudah pergi saja sana sendiri.” suruh nya lalu membanting pintu sampai tertutup.
Catherine memukulkan ember nya pada pintu dengan kesal, lalu bergegas lari sebelum jeritan kakak nya terdengar.
Akhirnya Lillian bisa merebahkan tubuhnya. Ranjang nya agak berderit saat ia menidurkan diri. Lillian mendesah pasrah sambil kembali membayangkan bagaimana nasib nya disini selama beberapa minggu kedepan. Terkurung di tempat yang bodoh dengan adik perempuan yang super bawel dan banyak permintaan seperti Cat dan Kakek-Neneknya yang senang sekali mengerjakan sesuatu.
Paginya, udara begitu cerah. Air laut terlihat berkelap-kelip diterpa cahaya matahari yang cukup terik. Cathrine berlari duluan, rambut kemerahan nya berkibar-kibar. Entah ada angin apa Bobby akhirnya mau menemani adiknya bermain di pantai. Sebenarnya ia juga rindu dengan pantai ini. Waktu seumur Catherine, ia juga begitu menyukai pantai ini. Menyukai pasir lembutnya dan aroma asin air laut.
“Ayo kita main bola pantai!” ajak Cathrine yang sudah membawa bola karet ringan di pangkuan nya.
“Ya ampun! Kenapa kau tak membuat kastil pasir saja sih?” gerutu Lillian yang baru saja duduk di pasir putih dekat pohon.
            “Itu mainan anak kecil! Aku tidak mau! Membosankan!” Cat bersikeras akan kemauan nya.
            “Kau itu anak kecil Cat! Umurmu baru enam tahun!”
            Akhirnya dengan berat hati Lillian pun menemani adik nya bermain bola pantai. Tanpa sengaja saat ia memandang ke lautan, ia melihat seseorang tengah berselancar disana. Seorang cowok. Sesekali Lillian melirik ke arah peselancar yang kelihatan semakin menepi itu, dari jarak nya sih, cowok itu terlihat tampan.
            ”Ups!” pekik Cat saat tak sengaja melempar bola nya terlalu jauh. Lillian mendengus memarahinya, karena berarti ia harus berjalan cukup jauh untuk mengambilnya. Dan karena bola nya cukup ringan, bola itu terus menggelinding terbawa angin laut yang kencang dan tanpa sengaja mendekati peselancar yang ternyata baru saja menepi itu.
Jantung Lillian berdetak lebih cepat saat melihat peselancar itu menangkap bolanya. Yang membuat Lillian agak lega, peselancar tampan itu tersenyum ramah saat mereka tinggal berjarak beberapa langkah.
“Ini punyamu,” katanya sembari menyodorkan bola itu pada Lillian. Wajah gadis itu memanas. Ya ampun ia sedang berhadaan dengan cowok tampan nan seksi. Lihat saja badan nya yang atletis.
“Thanks,” gumam Lillian menatap mata karamel cowok itu. Damn it! Ia yakin semua cowok disekolah tak ada yang sekeren ini.
            “Lill! Ayo main lagi!” panggil Cat memecah suasana. Bobby mendesah. Memang adiknya selalu saja merusak kesenangan nya.
            “Itu adikmu?” tanya cowok iu tertawa kecil. Manis sekali.
            “Yeah,” jawab Lillian pasrah. Catherine yang sudah tak tahan menunggu, berlari menyusul kakaknya. “Dia juga ingin ikut main?” tanya nya polos saat melihat cowok itu dan kakak nya berhadap-hadapan sambil sedikit berbincang.
Cowok itu tertawa lagi. “Aha, bolehkah aku ikut? Namaku Justin dan kau pretty lil girl?” kata cowok itu mengulurkan tangan sambil memicingkan mata menggoda.
            “My name is Cat dan kau boleh ikut bermain Justin, asal Jangan sebut aku pretty lil red head!” protes Cat. Lillian hanya melongo, bahkan adiknya lebih pintar berkenalan dengan cowok keren itu. Mungkin ini sebab nya sampai sekarang ia belum mempunyai pacar.
            ”Bobby! You dont catch the ball right!” Cat kesal terhadap kakak nya yang sedari tadi kelihatan tak konsentrasi.
            “Sorry Cat. Aku capek,” Lillian ambruk di atas pasir. Dahi nya terasa berdenyut-denyut karena telah bermain seharian. Justin yang ikut bermain bersama merek hanya tertawa melihat kelakuan dua gadis bersaudara itu.
            “Mungkin sebaik nya kita istirahat dulu,” saran Justin sambil mengusap keringat di dahinya.
            Tak lama setelah mereka beristirahat, Nenek mereka sudah memanggil Lillian dan Cat karena matahari mulai tenggelam. Justin juga pamit karena harus pulang ke rumah nya yang ia bilang tak jauh dari situ.
            “Nanti malam, emm aku punya marsmellow bakar, jika kalian di ijinkan keluar, maukah kalian menemaniku memakan nya di pinggir pantai?” kata Justin sebelum Lillian dan Cat berlari pulang.
            “It will be fun! Okay!” angguk si kakak cepat. Daripada mememani nenek nya merajut, kegiatan ini jelas jauh lebih baik. Justin adalah cowok termanis yang pernah ia temui. Lillian berharap mungkin musim panas nya tak akan terlalu buruk jika ada Justin.
 Awalnya Lillian takut jika Cat menolaknya tapi setelah diberi kerlingan oleh nya Cat pun mengiyakan. Mereka bertiga pun saling melambai sebelum berpisah.
            Nenek nya membuat sup yang sangat enak. Kedua orang tua mereka sudah pulang tadi siang. Cat dan Lillian makan dengan lahap. Kakek nya bercerita tentang hobi nya berburu ketika masih muda saat mereka makan bersama. Nenek nya sempat memarahi pria tua itu karena berbicara sambil makan itu tidak baik, mereka tertawa bersama saat si Kakek akhirnya tersedak karena terlalu semangat bercerita.
            “Apa yang kalian lakukan seharian tadi, hm? Kalian suka tidak tinggal disini?” tanya kakek nya saat mereka memakan puding sebagai makanan penutup.
            Seperti biasa, Cat selalu senang jika bercerita. “Kami bermain bola pantai dan kejar-kejaran. Aku dan Lillian juga bertemu teman baru!”
            ”Teman baru? Setahu ku tak ada anak lain yang tinggal disekitar sini,” selidik Kakek nya menatap Cat dan Lillian bergantian.
            “Namanya Justin, dia bilang rumah nya berada di dekat sini, Kek.” Tambah Cat masih antusias.
            “Jangan terlalu sering bermain dengan nya!” sergah nenek nya yang beru saja kembali dari dapur. “Aku dan John tak mengenal anak yang bernama Justin itu. Aku tak mau terjadi apa-apa kalian.”
            “Dia baik kok,” bela Cat.
            “Sekali!” Lillian menyahuti adiknya. “Kalian harus tahu, jika ada orang yang tahan bermain dengan Cat, ia pasti mempunyai kesabaran dan kebaikan hati yang ekstra. Aku saja kadang tak tahan! Justin bersikap baik seharian pada anak itu,”
            Cat melirik kakak nya kesal. Walaupun Lillian benar masalah Justin, tapi ia tak suka jika Lillian mengeluh tentang sikapnya yang ia rasa normal-normal saja.
            “Tapi aku rasa, nenek kalian benar. Tak usah bermain dengan anak itu lagi. Besok aku ajak kalian berkebun,” ujar kakek nya sembari mengelap sisa makanan di mulutnya.
            Bodoh namanya jika tak mau berteman dengan cowok seperti Justin. Ia jelas-jelas anak baik. Entah kenapa Lillian begitu yakin pada teman barunya itu. Dan tentu saja ia ingat tentang perjanjian mereka bertemu untuk membakar marshmellow bersama malam ini.
            “Nek, bolehkah kami ke pantai lagi?” tanya Cat hati-hati pada nenek nya. Lillian sengaja menyuruh adiknya agar dibolehkan.
“Untuk apa kalian kesana malam-malam?” Nenek nya berbalik bertanya pada dua cucuk nya itu.
            “Kami mau ber—“
            “Sekop Cat tertinggal di pantai Nek, kami berdua mau mengambilnya,” tukas Bobby sebelum adiknya mengatakan yang sebenarnya. Cat pun segera mengangguk untuk memperkuat perkataan kakak nya.
            “Oh baiklah, hati-hati ya. Jangan terlalu lama,”
            Lillian dan Cat pun berlari keluar rumah. Alih-alih bertemu Justin lagi dengan senyuma manisnya, Lillian hanya menemukan pantai yang sunyi, gelap dan berangin. Tak ada siapa-siapa disana. Tak ada Justin.
            “Mana Justin?” tanya Cat yang sama kecewa nya dengan Lillian.
            “Kita tunggu saja dia sebentar lagi,” saran Lillian sambil mencari tempat yang nyaman untuk duduk.
            Angin pantai terasa begitu dingin di kala malam. Cat malah sampai bersin-bersin karena kedinginan. Lillian terus menatap ke hamparan luas lautan di hadapan nya. Dalam hatinya, ia berharap sekali Justin datang.
            “Menunggu seseorang?” tanya sebuah suara berat---membuat dua gadis itu terlonjak karena kaget.
            “Kakek?” tanya Cat dan Lillian bersamaan.
            “Kalian mau mencari sekop atau yang lain? Ayo pulang. Hari sudah malam!” ajak lelaki tua itu sambil menggandeng Cat. Dengan malas Lillian segera mengikuti langkah kakek nya dan Cat.
            Lillian sempat menengok ke belakang beberapa kali.
            “Where are you Justin?”
Posted on by Nabila Naomi | No comments

Jump Then Fall #1

Jump ThenFall
Justin Drew Bieber & Ariana Grande Butera
Author : Nabila Naomi (@nabilanaomi) or my u-nameGrizzly/Biebzing.
Enjoy the story! Sorry for everything and please giveme some giveback :) Loves ya!

Bagian Satu:
Every time you smile, I smile
And every time you shine, I shine
And every time you're here
Baby I'll show you, I'll show you
You can Jump then fall, jump then fall into me

            Sorak-soraimurid Georgie High School membahana di lapangan besar itu. Tim futbal merekabaru saja memenangkan pertandingan antar sekolah. Joe, si Knight mengangkatkedua tangan nya sambil berbalik ke hadapan penonton. Cowok tampan itu membukahelm futbal nya lalu berteriak penuh kemenangan. Kelakuan Joe tadi sontakmembuat para kegaduhan semakin menjadi, seorang Joe Jonas memang pujaan disekolah.
            ”Loveyou Joe!!!” pekik Bethany, gadis pirang yang duduk di samping Ariana. Bethdemikian ia akrab dipanggil, memang fans berat Joe, ia bahkan sampai memakaikaus bertuliskan nama Jonas di belakang punggung nya yang ia pakai hari ini.Ariana hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya yang terkesan berlebihan. Sebenarnyaia sedikit bosan berada disini, walaupun ia ikut gembira saat tim sekolah nyamenang. Ariana menoleh ke sekitar, bola mata cokelat nya berpendar mencariseseorang.
            Ah! batin Ariana. Rupanya disitu Justinduduk. Ia menemukan cowok berambut ke-emasan itu duduk di barisan paling atas,jauh dibelakang tempat duduknya. Justin duduk sendirian di tengah barisan yangkosong. Memang sudah kebiasaan jika sebagian anak lebih menyukai tempatyangpaling dekat dengan lapangan, sehingga baris paling atas seringa tak ada yangmengisi jika memang keadaan tak benar-benar memaksa.
            Wajahnyayang kelewat datar saat menyaksikan gegap gempita kemenangan sekolah membuatAriana kembali tersenyum sendiri. Justin memang sedikit berbeda. Sikapnya takbegitu menyenangkan dan ia juga tak suka berbaur dengan yang lain. Tatapandingin nya selalu terkesan tak peduli dan tak takut dengan apapun. Tak ada yangtahu jika Ariana menyukainya sejak tahun pertama nya disekolah ini. Justinmemang tergolong anak yang cerdas, tapi kelakuan nya yang sering membuatmasalah membuat kebanyakan orang tak menyukainya. Luka memar di wajah Justin akibatpertengkaran nya dengan Drake minggu lalu masih membekas. Anak-anak yang merasadirinya populer di sekolah memanng kerap mengganggu atau menindas anak lainyang dianggap lebih rendah darinya. Sebelum nya memang tak pernah ada yangberani melawan Drake, anak itu terbiasa mendapatkan semua yang ia inginkan didunia, tapi beda dengan Justin, mereka berdua bergulat seru di kantin saatDrake menggangunya.
            Dengangerakan yang tiba-tiba Justin menoleh ke arah Ariana yang diam-diam sedangmemperhatikan nya. Sepertinya ia sadar jika sedang dipandangi seseorang. Arianasegera memalingkan wajahnya dan membenarkan posisi duduknya seperti semula,memunggungi Justin. Jantung Ariana berdebar lebih cepat saat merasakan tatapantajam Justin yang sekarang tengah memandangi punggunya.
            -----------------------------------------------
            Ke-esokanharinya, Ariana melihat Justin memasuki kelas sejarah dengan terburu-buru.Cowok itu hampir saja terlambat. Saat melewati kursi Ariana, Justin tak sengajamenjatuhkan buku yang tengah di pangkunya. Ariana segera merendahkan tubuhnyauntuk mengambil buku milik Justin yang kebetulan terjatuh di dekat kakinya.
            Arianatersenyum ramah saat menyodorkan buku tersebut pada Justin. Tetapi cowok itutak membalas senyuman nya, ia hanya bergumam thanks lalu segera berlalu untukmencari tempat duduk.
            Arianahanya mendesah pelan. Justin memang sering kali membuatnya kecewa dengan segalasikap yang ditunjukan nya. Terkadang Ariana menganggap dirinya sudah gilakarena menyukai seseorang yang sama sekali tak pernah menganggapnya, tapikemudian ia kembali tersenyum karena memang tak sanggup memungkiri perasaan nyapada Justin. Yeah, ia menyukaiseorang Justin Drew Bieber. Si Alien sekolah yang tak punya perasaan, beo Bethanyyang kerap meledeknya.
            “Kaumau mengantarku ke Pesta Joe malam ini?” tanya Beth saat bertemu Ariana didepan pintu lokernya. Mata biru sahabatnya terlihat berbinar. Beth memangsangat antusias dengan apapun yang menyangkut pesta dan Joe. Apalagi biasanya JoeJonas hanya mengundang anak-anak populer disekolah saja. Jadi ini sepertikesempatan emas untuk Bethany mencoba mendekati pujaan nya itu.
            “Sorrydear, aku harus belajar untuk test akhir minggu ini,” jawab Ariana hati-hati.Ia tersenyum lebar sebagai permintaan maaf yang mendalam.
“Ah ya! Kaupasti ingin sekali menang gara-gara si Bieber Alien itu? Jangan bilang kalaukau akan mengambil universitas yang sama dengan nya Ari,” cibir Bethany yangsepertinya sudah mengendus niatan Ariana mengikuti test beasiswa ke UniversitasHenley.
            Arianatertawa seraya merangkul sahabatnya. Bethany memang hebat jika masalahtebak-menebak.
            “Yeah,aku juga mau ke Henley, kampusnya hebat dan terkenal Beth!” sangkal Ariana ditengah tawanya. Bethany hanya memutar bola matanya jengah. Ia tak habis pikirkenapa Ariana begitu menyukai anak aneh itu. Apasih yang dilihat Ariana  darinya, Justin memang tampan, tapi sikap nyayang tak menyenangkan menbuat semua orang malas berteman dengan nya.
            Soreitu awan-awan tipis mengambang rendah di langit. Ariana berjalan sambil memanggultas ransel nya. Ia memilih berjalan kaki saat pulang sekolah, alasan nyalagi-lagi karena Justin. Mereka berdua menempuh jalan yang sama dan Arianasenang sekali berjalan di belakang Justin. Walaupun mereka tak pernahmengobrol  tapi Ariana tak pernah merasabosan. Pernah suatu kali Ariana mengajak Justin berbicara, tapi dari sikap nya,Justin seperti merasa terganggu. Jadi Ariana memutuskan untuk diam saja mulaisaat itu, ia hanya ingin membuat Justin merasa nyaman saat pulang bersamanya.
            “Justin!”panggil adik kecilnya, Jazmyn saat kakak lelakinya terlihat melewati jalanan.Mereka memang harus melewati sebuah taman bermain sebelum memasuki komplekperumahan.
            “Oh,hallo Jazzy!” jawab Justin memasang senyum ceria lalu membuka kedua tangan nyalebar-lebar. Gadis kecil itu segera turun dari ayunan yang sedang di naikinya lalulari menghambur pada kakak lelakinya. Mereka bergumul berdua, saling tertawasatu sama lain. Kejadian tadi tak sengaja disaksikan Ariana yang masih berjalandibelakang Justin. Ariana agak kaget melihat sikap Justin yang begitu berbeda.Cowok itu tersenyum. Wajahnya mendadak ceria. Ariana tak pernah melihat Justintersenyum apalagi tertawa sebelum nya saat di sekolah.
Justinmenggendong adiknya sambil menggodanya sesekali, membuat gadis kecil itutertawa cekikikan. Hati Ariana serasa menghangat. Entah kenapa tawa Justinmembuat nya begitu senang. I realize yourlaugh is the best sound, i have ever heard.
            Ingin rasanya Ariana ikut bergabung bersama merekaberdua. Ikut berpelukan bersama Justin dan Jazmyn. Tetapi kemudian Arianamenggeleng sendiri. Ia berusaha membuang jauh-jauh khayalan tingkat tingginya.Yang ada mungkin Justin bakalan memberinya tatapan membunuh jika ia beranimengganggu kegiatan nya dengan adik keclinya itu.
            Ariana pun memutuskan untuk kembalimeneruskan berjalan pulang. Apa yang ia lihat tadi sudah cukup untuk membuatnyatersenyum sampai akhir minggu. Gadis itu berharap jika suatu saat ia sanggupmembuat Justin tertawa seperti tadi.
            Hari-hari terus berlalu dengancepat. Justin terlihat sangat serius belajar untuk test beasiswa tersebut.Cowok itu menghabiskan banyak waktu di perpustakaan dan meminjam setumpukanbuku setiap harinya. Ariana yang seperi biasa memata-matainya semakin kagum.Menurutnya cowok keren bukan hanya dari penampilan, tetapi juga dari kepintarandan sikap nya dalam menjalani kehidupan. Mungkin tak banyak yang tahu jikaJustin bekerja di cafe jazz setiap akhir minggu. Ariana pernah tak sengajamelihatnya memasuki tempat itu, dan setelah ia cari tahu ternyata Justinbekerja sebagai pemain drum disana. Justin benar-benar hebat, simpul Ariana.Sikap nya yang seperti itu mungkin karena ia belum menemukan seseorang yangmengertinya apa adanya. Ariana yakin Justin tak seburuk seperti yang disangka semuaorang. Ia anak baik. Hanya sedikit tertutup dan lepas kendali jika marah.
            “Aku yakin kau bisa Ari! Yeah, walaupun aku tak rela jika kausatu kampus dengan si Bieber kelak, tapi ya sudahlah, yang penting kaubahagia..” Bethany memberi semangat sebelum Ariana memasuki kelas untuk test.Gadis yang senang sekali dikuncir setengah itu mengangguk-angguk sambilterkekeh saat mendengar perkataan Beth yang dianggapnya lucu. Ariana memangsangat besemangat hari ini. Apalagi setelah mengetahui jika tempat duduk nyaberada di sebelah Justin.
            “Ehm, Beth, sebenaranya aku agakcanggung karena duduk di sebelah Justin,” bisik Ariana ke telinga sahabatnya.Mereka berdua pun melongok ke dalam kelas. Justin sudah duduk manis di kursinyasambil masih sibuk bergelut dengan buku-buku yang ia bawa.
Bethany memayunkan bibirnya “He’s totally freaks! But,dengan rambutnya yang acak-acak dan wajah lusuh seperti itu.. si Bieberterlihat.. yeah.. seksi,” Ariana memicingkan matanya pada Beth dengan sandijangan-ganggu-Justin lalu menginjak kaki sahabatnya sampai ia meringiskesakitan. Bethany memang agak aneh, ia bisa jatuh cinta pada cowok yangberbeda setiap minggu. Lihat saja, kali ini ia mengaku tengah tergila-giladengan Nick Jonas, saudara Joe.
Bel berdering nyaring. Ariana segera memasuki kelas.Ia sempat tersenyum sekilas pada Justin yang tak sengaja memandangnya. Tak lamasetelah itu, Mr. Han datang dan membuat delapan belas orang diruangan itu sibukberkutat dengan soalnya masing-masing.
Ariana berjuang keras memecahkan beberapa soalhitung-hitungan yang memaksanya terus memutar otak. Gadis itu benar-benarberusaha sendiri. Selang waktu setengah jam, Justin bangun dari kursinya.Ariana yang menyadari pergerakan cowok itu hanya bisa menatap nya penuhkekaguman sambil tersenyum sendiri. Justinsungguh hebat!
            Tetapi ternyata Justin kedepan bukanuntuk mengumpulkan hasil pekerjaan nya. Ia seperti membicarakan sesuatu padaMr. Han, pengawas asal negeri cina tersebut.
            “Lucida, mencontek hasil pekerjaansaya sir, ia mencuri nya dari balik bahu saya.” cerita Justin “Bolehkah saya diijinkan pindah tempat duduk sir?” tambahnya sopan. Pria berkulit pucat itumanggut-maggut, mempertimbangakn permintaan Justin.
            Gadis tinggi-berambut jagung ituberdiri saat Justin kembali ke kursinya untuk mengambil peralatan tulisnya.
“Apa masalahmu Bieber?” tanya nya dengan sengit.Sepertinya Lucida tahu jika Justin melaporkan kecurangan nya.
 “Aku tahu kaumencuri jawabanku, jadi aku memutuskan untuk pindah tempat duduk,” jawab Justinenteng.
Gadis itu malu sekaligus berang. Lucida menerjang kearah Justin, entah apa maksudnya. Anak-anak yang lain seperti ikut terpovokasiikut bangkit dari kursinya. Mereka semua bagai zombie yang bersiap memakanJustin hidup-hidup.
            Apa-apaanini? tanya Ariana kebingungan ketika suasana tiba-tiba memanas. Ia jugasegera bangkit dari kursinya, berniat membantu Justin atau menenagkan suasana.
            “Sir, sepertinya kau harus periksabawah meja Bieber!” seru Kevin tiba-tiba sambil tersenyum misterius. Priabermata agak sipit itu kemudian menghampiri Kevin dan memeriksa tempat dudukJustin. Ia mendapati beberapa kertas dibawah meja Justin. Kertas berisicontekan.
“Apa maksudnya semua ini Bieber?” tanya Mr. Han marah.Wajahnya yang seputih salju seketika memerah. Justin ikut memeriksa bawahmejanya. Ia tak kalah kaget dengan si pengawas saat menemukan kertas-kertasitu.
            “Itu bukan miliku sir!” bantahJustin cepat. Ariana ikut mengangguk sebagai pembelaan terhadap pernyataanJustin. Ia tahu Justin bukan anak seperti itu.
            “Oh coba lihat! Tulisan jelek inimemang buatan mu kan, Biebs?” tukasElisa dengan wajah yang menyebalkan. Ia memberi penekanan di kata terakhirhingga terkesan melecehkan. Jika dilihat-lihat memang tulisan di kertas itusangat mirip dengan tulisan asli Justin.
Tunggu. Itu memang tulisan Justin.
Posted on by Nabila Naomi | No comments

The New Girl Chap 6

The New Girl!
Genre : Horor, Scholl, Teen, Thriller, Friendship
Cast : Justin Drew Bieber
Niall James Horran
Logan Wade  Lerman
Ariana Grande Butera
Taylor Allison Swift
Diana Argon (Joyce Anderson)
Lucy Hale (Marrie)
Author : Nabila. Naomi
Sorry for bad words, typos, ke gaje-an dan ke absrud-an nya. Saya bukan author yang handal, hanyalah amatiran. Masih mencoba belajar dan memperbaiki setiap saat :) Hope you like it!

Part 6 : Broken to Pieces (ENDING)

“Kecelakaan itu kau—“
            “Itu tak sebanding dengan apa yang ia lakukan padaku Horran! Si jalang  Jeanie! Dia yang membuatku kehilangan semuanya!! Saat latihan sore itu, dia tiba-tiba datang dan langsung ikut latihan. Aku dengar saat ia memohon pada pelatih kami, supaya ia kembali menjadi kapten cheers. Tapi pelatih ku menolaknya, ia bilang, Janie sudah terlalu banyak ketinggalan, pelatihku juga mengakui kemampuanku.” Joyce tersenyum pahit sambil tak berhenti mengitari Niall.
            Mata biru Joyce berkaca-kaca. Rasanya seperti menelan bara saat ia mengingat kejadian itu. Ia begitu marah dan kecewa. “Janie sempat mendelik kearahku. Aku tau dia sangat kesal. Tapi aku berusaha melupakan sikapnya waktu itu. Kami semua latihan bersama. Kami membuat piramida. Aku berhasil berdiri dipuncak sampai tiba-tiba ada seseorang yang mencekal kakiku! Lalu sengaja menggesernya! Aku langsung limbung, kehilangan keseimbangan. Aku dapat mendengar remukan tulangku sendiri saat terjatuh ke lantai yang keras itu. Menggerikan. Rasa sakit yang menjadi langsung menjalar disekujur tubuhku yang tak bisa digerakan sama sekali. Bahkan aku tak sanggup meneteskan air mataku. Aku lumpuh. Semua orang mulai berkumpul disekelilingku. Menatap iba. Pelatihku menampar wajahku supaya aku tetap terjaga. Dari situlah aku tahu siapa pelakunya. Diantara wajah-wajah yang menatapku, aku melihat sesuatu yang berbeda di wajah Jeanie. Ia kelihatan begitu khawatir dan takut seperti yang lain. Tapi jelas aku melihat apa yang sebenarnya ditakutkan nya. TAKUT AKU HIDUP! TAKUT AKU SELAMAT DAN MENGETAHUI PERBUATAN KEJINYA!!”
            “Niall menjauh darinya!” teriak Justin yang sudah berada di ambang pintu. Joyce menoleh dengan berang, lalu sekonyong-konyong tubuh Justin terlempar ke samping. Bruakk! Ia terbentur lemari kaca yang berisi beberapa piala di pinggir lapangan.
            “Justin!” panggil Niall khawatir, ia berniat segera mengahampiri Justin. Langkahnya terhenti saat tangan Joyce mengusap bahu kirinya. Menahan nya pergi. “Aku tahu rasanya Niall. Sakit itu. Pandangan meremehkan yang diberikan orang-orang. Aku mengerti. Kita sama-sama mengerti.”
            Justin segera beringsut bangun. Satu jantung lagi akan membuatnya abadi, gumam nya sambil diam-diam meraba pecahan kaca yang tercecer di bawah. Setelah Kurt dan Janie. Joyce hanya butuh satu jantung lagi. Baru saja ada kabar jika ada yang membuka peti mati Janie dan menghancurkan jasad nya. Dada nya menganga lebar memperilhatkan perbuatan kejam yang dilakukan pada nya.
            “Aku juga benci si Kurt itu,” bisik Joyce, nafas nya terasa membakar telinga Niall. “Dia memang brengsek! Malam itu aku bertemu dengan nya sehabis berkencan dengan gadis lain. Hatiku pedih. Tak ada yang bisa kupercaya di dunia ini. Teman, Kekasih semuanya hanya omong kosong! Mereka semua pantas mati!”
            Ariana berlari sekencang yang ia bisa. Ia berbelok di sudut koridor untuk ke gedung drama teater sekolah.
            “Logan!” panggilnya dengan nafas yang masih terengah-engah. Cowok itu menoleh saat sedang serius memperagakan karakter robinhood nya.  “Justin dan Niall membutuhkan mu! Sekarang!”
            “Niall!” panggil Justin berulang kali, tapi sahabatnya itu nampak tak menanggapi panggilan nya. Joyce sepertinya sudah menguasainya. Mereka berdua saling memandang satu sama lain. Perlahan iblis itu pun memajukan wajahnya dan melumat bibir Niall. Justin dapat melihat kuku-kuku tajam yang mulai tumbuh di jari-jari tangan Joyce. Dengan berani Justin berlari ke arah iblis itu untuk menerjang nya dari belakang.
            “Joyce! Lepaskan Niall! Kau dengar aku?!” teriak Justin kesal. Joyce membalikan tubuhnya sesaat sebelum Justin berhasil menyentuhya. Akibat tubrukan Justin yang lumayan cepat, tubuh Joyce rubuh ke belakang. Saat itulah Justin mengangkat kedua tangannya, bersiap menghujam kan pecahan kaca itu tepat di jantungnya. Kedua tangan Joyce membuat perisai, ia menahan kekuatan tangan Justin yang berniat menusuknya. Gadis itu tersenyum saat melihat Justin yang begitu kesusahan saat mencoba melukainya.
            “Harusnya kau memang ku makan terlebih dahulu, Bieber!” katanya geram lalu mendorong Justin dengan seluruh kekuatan nya. Tubuh cowok itu terpelanting kebelakang yang menyebabkan pecahan kaca di tangan nya terlempar.
            Joyce kembali menghampiri Niall. Ia tinggal melakukan satu gerakan lagi untuk mendapatkan jantung nya. Aku harus memancing nya, batin Justin. Ia kembali merayap untuk mengambil senjatanya tadi. Aku harus membuatnya mendekatiku lalu menancapkan ini tepat ke jantungnya.
“Kau benci padaku juga kan?! Kau ingat aku dan Logan pernah mengejek mu saat tahun pertama di sekolah ini? Aku membuat mu menangis! Niall tak pernah melakukan apapun padamu! Jadi kumohon lepaskan dia! Aku juga pantas dihukum!”
            Joyce mendesis marah. Ia mengalihan tatapan nya dari Niall. Membuat cowok itu kembali mendapatkan kesadaran nya. Dalam gerakan sekejap ia sudah beralih di hadapan Justin. Tangan nya yang satu mencengkram tangan kiri Justin yang memegang pecahan kaca itu. Joyce mencekal tangan Justin kuat-kuat sampai kulit tangan Justin sendirilah yang terlukai oleh kaca tajam itu. Gadis itu menyeringai lebar di depan wajahnya. Justin mengerang kesakitan lalu segera melepaskan kaca itu dari genggaman nya saat Joyce melepaskan cekalan tangan nya.
            “Tenang saja Bieber, kau juga akan mati hari ini dan teman mu yang bodoh itu akan menjemputmu sebentar lagi,” kuku tangan Joyce yang sudah tumbuh sangat tajam itu dimain-mainkan dengan cara menggaris-garis kan nya pada dada Justin. Tepat seperti di mimpinya Justin terpojok. Punggung nya yang sudah terasa dingin menyentuh tembok.
            “Maafkan aku Joyce,” kata Justin tiba-tiba. Membuat makhluk itu kembali menatap nya tajam. “Maafkan semua orang yang telah menyakitimu,” sambung Justin, ia sengaja menatap kedua bola mata gadis itu. Tatapan Justin meredup, ia sungguh-sungguh meminta maaf dari dasar lubuk hatinya. Gadis itu seakan terpaku mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Justin. “Terutama maafkan Logan, karena ia sekarang ada dibelakang mu sambil menggenggam tombak besar,”
            Joyce langsung menoleh dan saat itu juga Logan menghujam kan ujung tombak yang runcing itu tepat ke dadanya.
            “Melupakan ku, bitch?” ledek Logan sesaat sebelum membuat benda itu menusuk iblis itu dan merobek jantungnya. Joyce berteriak kesakitan. Ia bergerak liar—tak terkendali. Muncul api dari bagian yang tertusuk itu yang kemudian membakar tubuhnya sendiri. Kulit Joyce yang tadinya terlihat muda mengelupas. Iblis itu terlihat keluar dari tubuh Joyce setelah raungan panjang yang mengerikan. Tinggalah tubuh Joyce yang sudah tak bernyawa tergelatak di lantai lapangan dengan tombak yang masih bersarang di dada kirinya. Justin merosot dari tembok lalu menghela nafas panjang. Logan masih berdiri disana dengan tatapan tak percaya. Sedangkan Niall terduduk lemas tak jauh dari dua sahabatnya yang lain.
            “Haruskah kita berpelukan?” tanya Niall dengan wajah yang masih memucat. Ia memandangi satu persatu wajah teman nya yang juga memutih. “Yeah, kemarilah kawan-kawan, beri sebuah pelukan sebelum orang-orang datang dan mengerubungi kita,” kata Justin lalu membuka kedua tangan nya lebar-lebar. Niall segera bangkit lalu menghambur pada Justin. Logan pun menyusul nya dari belakang. Ariana yang berada di ruang operator pun ikut tersenyum bahagia. Gadis itu berlari ke ruang operator sekolah setelah memberitahu Logan. Ia memang sudah berbagi rencana dengan Justin sebelumnya. Ariana mengaktifkan kamera cctv yang berada di setiap sudut lapangan. Ia merekam semuanya. Berjaga-jaga jika orang-orang menganggap tiga sahabat itu gila dan mendakwanya akibat pembunuhan.
            Tak lama polisi dan para medis datang ke sekolah itu. Mereka awalnya tak percaya dengan apa yang diutarakan Justin dan kawan-kawan nya sebelum akhirnya menonton rekaman tadi. Para medis yang memeriksa mayat Joyce juga mendecak tak percaya setelah mengetahui jika sebenarnya mayat ini sudah lama meninggal dari beberapa minggu yang lalu. Setelah di usut ternyata orang tua Joyce sendirilah yang mengubah anaknya menjadi iblis itu. Mereka terlalu marah dan sedih atas apa yang terjadi pada anak gadisnya. Malam itu saat Joyce sekarat mereka membawanya pulang lalu melakukan kegiatan jahat itu. Perjanjian dengan iblis. Joyce pun kembali kesekolah dengan keadaan yang baik-baik saja ke esokan harinya.
-------------------------
            Ketiga cowok kece itu tengah berdiri berjajar di dekat tempat minuman sambil memandangi pasangan-pasangan lain yang mulai memenuhi lantai dansa. Justin meneguk punch nya lagi. Mengerang sedikit karena rasa minuman hijau itu yang kelewat aneh. Niall bersendawa disebelahnya. Anak itu sudah lebih banyak meminum cairan hijau itu sampai kembung.
            “Kenapa aku sampai lupa acara ini sih,” dengus Logan sebal. Ia kesal karena harus menjadi cowok nganggur di acara pesta sekolah. Gara-gara terlalu sibuk dengan segala macam kejadian kemarin mereka bertiga lupa akan acara ini. Alhasil mereka tak mempunyai pasangan malam ini.
            “Aku tak percaya mereka membiarkan cowok sepertiku menganggur,” Justin terkekeh sendiri. Ia memang sudah berpenampilan semenarik mungkin tapi apa boleh buat, gadis-gadis sudah mempunyai pasangan mereka masing-masing. Ariana sempat tersenyum padanya saat digandeng Luke masuk ke gedung.
            Taylor datang menghampiri ketiga cowok yang berwajah suram tersebut.
            “Niall apakah kau mau menemaniku berdansa?” senyum ramah mengembang di wajahnya. Perkataan nya itu seketika membuat Niall tersedak. Setelah ia melihat Talylor dengan Ashton di koridor, mereka belum berbicara lagi. Justin sudah memberitahunya jika cowok itu hanyalah teman dekat Taylor, sahabatnya itu bahkan sudah memberinya restu jika Niall memang menyukai kakaknya.
            Justin mendorong punggung Niall. Membuat cowok bermata biru itu lebih dekat selangkah dengan kakaknya. Niall menangguk. Mereka berdua pun bergandengan meninggalkan Justin dan Logan. Tinggalah mereka berdua. Logan yang kali ini meneguk punch nya lagi.
            “Hey Logan, bukan kah itu Emma!?” Justin berseru riang saat melihat gadis yang memakai dress merah muda itu. Rambut pirang Emma dikuncir setengah. Sebenarnya Logan sudah terlebih dahulu meihat gadis itu, ia hanya berpura-pura tak melihat saja. Entah kenapa gadis itu seperti batu kripton untuknya. Logan bisa dengan mudah membuat gadis-gadis lain meleleh dihadapan nya, tapi tidak untuk Emma. Gadis itu malah membuatnya lari atau bersembunyi karena kekaguman nya yang berlebihan.
            “Ssstt! Kau tidak pernah puas ya mempermalukan aku!” sergah Logan kesal. Kedua sahabatnya, Niall dan Justin memang sangat menyukai lelucon kegagalan nya waktu mengajak Emma ke pesta sewaktu Junior High.
            Justin terkekeh. “Mengapa kau tak ajak saja dia, sepertinya Emma belum memiliki pasangan. Ayolah! Kau aktor terbaik sekolah! Dia tak mungkin menolakmu lagi kawan! Apalagi setelah ia tahu kalau Justin Bieber adalah sahabatnya,”
            Logan memutar lensa hijau nya jengah. “Sudah cukup lelucon nya Justin,” gerutu nya lalu menginjak kaki sahabatnya. Justin meringis disela tawanya. “Baiklah. Aku serius. Kau harus berbicara padanya! Cobalah sekali lagi Logan!” ia menepuk bahu sahabatnya sambil berlagak serius.
            “Yeah, sepertinya aku harus melakukan nya,” kata Logan ragu. Justin menuangkan satu centong punch lagi ke gelas nya lalu mengambil gelas kosong Logan. “Ini teguk sekali lagi! Kau harus melakukan nya! Jalan kesana, hampiri Emma. Ajak dia dansa. Katakan jika kau telah mencintainya sejak Junior High. Cium dia. Kalian berdua hidup bahagia selamanya.”
            Justin menatap  sahabatnya intens. Logan balas menatapnya lalu mengangguk mantap. Justin benar, batin Logan. Ini mudah. Kau romeo dan Emma adalah Julietmu. Tak ada yang bisa memisahkan kalian selain ramuan sialan yang membuat salah satu diantara kalian meninggal duluan.
            “Baiklah. Terimakasih buddy,” ia merebut gelas yang berisi punch itu dari tangan Justin lal meneguknya sampai habis. Logan berjalan gagah menghapiri Emma. Mereka berdua terlihat mengobrol sesaat. Logan melambai sekilas pada Justin saat ia berhasil mengajak Emma berdansa. Justin hanya tergelak melihat keberhasilan sahabatnya itu. Sekarang tersisa ia sendiri. Menyender pada tembok sambil memegang dua gelas kosong, miliknya dan Logan.
            Pandangan matanya terkunci saat melihat Ariana tengah berdiri kebingungan diatara puluhan murid yang tengah bersenang-senang. Luke tidak ada di sekitarnya. Seringai nakal kembali menghiasi wajah tampan Justin. Ia menyimpan dua gelas nya lalu bergegas menghampiri Ariana.
            “Hai,” sapa Justin ramah.
            “Uh hai Justy, eh maksudku Justin.” Jawabnya gugup karena kaget akan kedatangan Justin yang tiba-tiba.
            “Ayo ikut denganku,” ajak Justin sambil langsung menggandeng tangan Ariana. Justin membawa Ariana menaiki tangga yang berada di sisi gedung. Gadis itu menurut saja sambil berusaha menyesuaikan langakahnya dengan Justin. Mereka berdua akhirnya sampai di balkon atas gedung tersebut. Justin melepas genggaman nya lalu berbalik sambil tersenyum.
            “Disini lebih baik,” kata Justin, rambutnya sedikit terusik saat angin malam berhembus lembut pada mereka. “Aku lebih suka ketenangan,”
            Ariana menjadi salah tingkah. Ia bisa merasakan jantungnya yang mulai berpacu lebih cepat. Justin terlihat begitu mempesona malam ini, seperti biasanya. Ia juga tak henti-hentinya memberi tersenyum padanya, membuat wajah Justin semakin tampan. Cowok itu memajukan tubuhnya, membuat Ariana seketika menahan nafas. “Mari kita berdansa,” ajak Justin lalu perlahan menaruh kedua lengan nya di pinggang mungil Ariana. Gadis itu pun menaruh lengan nya di pundak tegap Justin dengan ragu.
            “Terima kasih atas semua bantuan mu kemarin Ariana,”
            “Oh sama-sama Justy, maksudku Justin. Maaf aku belum terbiasa,” Ariana tersenyum malu, membuat semburat merah di pipinya semakin ketara.
            “Bagaimana jika kau tetap memanggilku Justy dan..aku memanggilmu my cupcake princess? Aku tahu kau suka sekali cupcake,” Justin tersenyum jahil saat menyebut bagian cupcake. Ariana agak tersentak. Ia diam sejenak berusaha mencerna arti dari perkataan Justin.
            “Yeah kau benar aku suka cupcake,” kata Ariana akhirnya “Aku juga menyukaimu,” sambung nya tergagap. Ariana sadar ia pasti sudah sinting saat akhirnya berani mengutarakan perasaan nya. Ia ketakutan setengah mati bagaimana respon Justin tentang perkataan nya yang tadi.
            “Aku juga,” jawab Justin menggantung, membuat jantung Ariana serasa terlonjak keluar “suka cupcake tapi aku pikir aku lebih menyukaimu dari semua cupcake diseluruh dunia,” ia kembali tersenyum lalu mempererat kalungan tangan nya di pinggang Ariana.
            Niall terus berusaha mengikuti gerakan anggun Taylor saat berdansa. Cowok itu menyesal saat tak mau latihan dansa dengan neneknya beberapa minggu yang lalu.
            “Em, Taylor. Bolehkah aku bilang sesuatu,”
            “Yeah tentu saja Niall,”
            “Sejak pertama kali aku melihatmu saat pertama kali kerumah Justin, waktu itu kau sedang mencari beanie mu, turun dari tangga sambil mengenakan blouse belang berwarna hitam-merah. Rambutmu dikun—“
             “Aku juga.” Taylor menimpali sebelum cowok itu menyelesaikan kalimat nya.
            “Hah? Apa?”
            “Aku juga menyukaimu! Ashton hanyalah sahabatku. Dan kau begitu manis Niall! Justin sudah bilang jika kau yeah, menyukaiku,” Taylor tersipu sambil menatap Niall yang tertegun mendadak seperti orang yang terkena serangan jantung.
            Logan masih memandang gadis di hadapan nya dengan tak percaya. Akhirnya ia bisa berdansa dengan gadis pujaan nya, Emma Watson. Ia begitu mengaggumi pesona Emma. Gadis itu begitu cantik malam ini.
            “Kupikir kau marah padaku,” Emma membalas pandangan Logan yang hanya sebentar-sebentar.
            “Marah? Apakah aku punya alasan untuk melakukan nya,” gumam Logan sedikit bingung.
            “Yeah. Semenjak kejadian itu, aku menolak mu saat Junior High. Kau selalu seperti menghindari ku, bahkan tak pernah tersenyum padaku. Aku merasa tak enak padamu tapi sikapmu membuatku sedikit takut. Aku pikir kau marah padaku,”
            “Benarkah? Aku tak menyadari itu. Mungkin itu karena aku.. aku menyukaimu Emma.” Logan merasakan wajahnya memanas. Memalukan sekali memang. Ia bersikap seperti orang idiot di depan gadis yang disukainya. “Aku menyukaimu dari semenjak kita Junior High, kau begitu begitu sempurna sehingga aku takut mendekatimu lagi,”
            Emma malah tertawa. Mungkin ia tak pernah melihat Logan secanggung ini. “Kau tahu Logan, Kau adalah pemain teater favoritku! Aku berniat masuk eskul ini minggu besok, kita akan lebih mendalami peran jika benar-benar berhubungan kan? Kau romeonya dan aku Juliet,”
            Logan tersenyum lalu mencium bibir gadis itu lembut. Mereka berdua tersenyum lalu kembali menikmati hentakan lagu slow itu di lantai dansa. Luke kembali sambil membawa dua cupcake di tangan nya. Ia kebingungan mencari Ariana yang sudah tak ada di tempatnya semula.

And we danced all night to
The best song ever
We knew every line
Now I can't remember
How it goes but I know
That I won't forget her
'Cos we danced all night to
The best song ever
Posted on by Nabila Naomi | No comments

The New Girl Chap 5

Part 5 : I think i remember those eyes  (Pra- ENDING)

 “Ayo kita masuk saja! Aku tak suka diluar,” rayu gadis itu sambil mengelus sebelah tangan Justin yang masih memegang kenop pintu.
Tenggorokan nya terasa kering. Sialan. Justin mengumpat dalam hati. Otak nya berfikir keras bagaimana mengatasi Ariana tiruan ini. Gadis itu tersenyum ceria lalu menjulur kan leher ke depan. “Sudah kubilang tak ada yang bisa lolos dariku, Bieber.” Justin dapat merasakan hembusan nafas nya yang sepanas api. Aura Jahat itu mengelilingi mereka, layaknya awan hitam yang menelan bulan.
Kedua lengan Ariana terangkat. Bersiap mencengkram leher Justin. Tubuh cowok itu menegang, mendadak tak bisa digerakan. Mulutnya pun terkatup rapat. Nafas nya mulai tersengal saat kedua tangan gadis itu mencengkram lehernya kuat. Justin terdorong ke belakang, hingga akhirnya menyentuh tembok. Ia terdesak. Tak mampu melawan kekuatan iblis itu yang berjuta kali lipat. Gadis itu mengangkat tubuh Justin lebih tinggi, supaya ia lebih kesusahan bernafas. Tangan Justin menggapai-gapai, berusaha melepaskan cengkraman gadis itu, tapi usahanya sia-sia. Ia akan mati lemas sebentar lagi.
“Justin!”
“Justin! Bangun!”
Justin terkisap bangun. Kedua kelopak mata nya langsung terbuka sepenuhnya. Nafas nya masih memburu. Ia mengusap wajahnya yang sudah basah oleh keringat. Wanita itu menatap putranya yang tengah tertidur di sofa.
“Mom?”
Justin segera memeluk ibunya saat kesadaran nya sudah terkumpul sepenuhnya. Wanita itu balas memeluknya. Orang tuanya ternyata baru saja pulang ke rumah. Justin memang sudah begitu merindukan ibunya. Paginya Justin terlihat lebih segar. Ia memutuskan akan kembali bersekolah hari ini. Kedatangan ibunya tadi malam memang memberi semangat positif terhadapnya. Mereka bertiga sarapan bersama. Taylor lebih sibuk mengotak-atik ponselnya dari pada memasukan makanan ke mulutnya. Setelah selesai sarapan, mereka berdua berangkat. Justin menunggu Logan dan Niall yang akan menjemputnya, sedangkan Taylor ia juga menunggu sesorang. Mobil Justin sendiri masih ditaruh di bengkel karena rusak parah.
Tak lama Justin menunggu, mobil Fire Bird biru itu pun datang. Logan melongok keluar jendela lalu melambai pada sahabatnya itu. Justin pun berlari-lari kecil menghampiri mobil itu. “Akhirnya kapten kita kembali ke sekolah,” ledek Logan saat Justin memasuki mobilnya.
“Diam kau,” dengus Justin seraya membenarkan posisi duduknya.
“Taylor menunggu siapa?” tanya Niall, matanya yang biru memandangi keluar mobil. Akhir-akhir ini hubungan nya dengan Taylor memang semakin baik. Mereka diam-diam sering mengirimi pesan satu sama lain. Niall juga merasa jika ia menyukai Taylor, walaupun ia belum terlalu yakin dengan perasaan nya.
“Aku tidak tahu,” jawab Justin acuh. Logan menekan pedal gas kuat-kuat, mobilnya pun meraung lalu melaju perlahan meninggalkan tempat itu.
“Jadi bagaimana keadaan sekolah saat kutinggal dirumah?” sambungnya cowok yang sudah mengembalika gaya rambut spike nya. Logan menggeleng prihatin. “Tak ada yang menggembirakan sama sekali. Dua murid tewas secara tragis, Kurt dan yang terbaru Jeanie.”
“Hah? Kenapa tak ada satu pun yang memberitahuku kejadian itu sebelumnya?”
Niall berdehem. “Begini, tak ada yang mau kau terkena serangan jantung atau shok berlebihan. Jadi kami sepakat tak mau memberatkan fikiranmu,” Logan tergelak. “Apalagi sehabis serangan gadis yang menyerupai Marrie itu” timpal Logan. Mereka berdua tertawa geli, Justin hanya mencibir sebal. Menurutnya tak ada yang lucu dengan lelucon bodoh tentang nya.
Bel diatas loker berbunyi nyaring. Ketiga cowok itu pun berpisah, masuk ke kelas masing-masing. Ariana tersenyum pada Justin saat cowok itu memasuki kelas. Justin membalas senyuman nya lalu duduk di kursi sebelah. Tadi Justin sempat melihat karangan bunga yang tersender di koridor. Anak-anak yang lain juga sepertinya masih mengingat kejadian tragis tempo kemarin di kolam renang. Guru sastra yang masuk juga hanya membicarakan rasa bela sungkawa sekolah tentang kematian Kurt dan Jeanie dan pidato panjang lebar mengenai acara pesta sekolah yang akan tetap diselenggarakan akhir minggu ini.
 “Aku tahu cara membunuh iblis itu. Cara kuno sih, tapi kuharap berguna.” bisik Ariana pada Justin yang seketika membuat cowok itu mengalihkan lamunan nya. Tangan gadis itu merogoh-rogoh ke dalam tas punggung nya lalu kembali dengan sebuah buku kecil di genggaman nya
Ariana menyodorkan buku itu pada Justin. Kertas buku itu sudah menguning dan rapuh. Justin membaca setiap katanya dengan teliti. Sebagian kata yang tertulis ada yang dicoret dan ditulis ulang oleh tulisan tangan sambung. Tusuk dia tepat di jantungnya, tulisan itu tampaknya sudah di garis bawahi oleh Ariana. “Darimana kau menemukan buku ini?” tanya Justin sambil membuka lembar demi lembar buku itu.
“Aku menemukan nya di bagian terlarang perpustakaan kota. Di rak paling belakang yang sudah berdebu dan tak terurus. Kakek penjaga perpustakaan itu sangat baik saat membantuku menemukan buku ini,”
“Masalahnya kita tidak tahu siapa si Lillith itu,” gumam Justin sambil mengalihkan pandangan nya dari buku itu lalu memandang kesekeliling kelas. Wajah anak-anak gadis itu ditilik nya satu persatu. Nicky, Teressa, Sarah, Cassandra dan Marrie. Tatapan Justin berhenti saat melihat Marrie. Gadis yang ia gilai beberapa minggu kebelakang. Sayang sekali Lillith itu menirukan Marrie, jadi sekarang  Justin agak bergidik setiap kali melihatnya. Marrie tersenyum gugup saat menyadari tatapan Justin. Mungkin ia harus bicara pada gadis itu, simpul Justin. Dan mungkin ia akan mendapatkan petunjuk tentang siapa sebenarnya si Lillith.
“Waktu itu kau benar-benar tak berkencan dengan ku?” Justin mencegat Marrie saat kelas mereka usai. Mereka berdua mengobrol di depan loker gadis itu.
Gadis itu mengangguk. “Ponsel ku tertinggal disekolah. Saluran telfon di rumahku juga belum terpasang waktu itu. Cass juga sedang tak membawa ponsel. Jadi benar-benar aku tak bisa menghubungimu. Aku sungguh menyesalkan kejadian itu Justin,” Marrie mendesah pelan, kepalanya tertunduk lesu. “Malam itu penyakitku juga menadadak kambuh. Aku memang sudah lama sakit. Ke esokan harinya aku tak masuk ke sekolah, sorenya Cassandra datang ke rumahku dan bercerita Logan memberitahunya jika kau kecelakaan. Anehnya Logan bilang kau kecelakaan sehabis berkencan dengan ku,”
Justin menganggukan kepala mengerti. Yeah tak mungkin ia berkencan dengan Marrie. Cassandra sudah cerita jika Marrie mempunyai penyakit kekurangan gula darah yang lumayan parah. Makanya terkadang wajahnya terlihat begitu pucat dan lelah. “Kau tahu di mana kira-kira ponsel mu tertinggal?”
“Sepertinya di gedung olahraga. Aku ingat terakhir kali memainkan nya saat tak sengaja menonton anak cheers latihan.”
Anak cheers. Justin mendapat secuil petunjuk sekarang. Kemungkinan besar anak-anak cheers itu lah yang menemukan ponsel Marrie lalu dengan iseng mengotak-atik benda itu, membaca pesan yang kebetulan Justin kirimkan, lalu membalasnya dengan alamat palsu dengan keuntungan bisa memakan cowok paling tampan di sekolah. Gotcha! Justin berseru dalam hati. Dan dua orang itu, Kurt dan Jeanie. Mereka berdua ada hubungan nya dengan cheerleader. Kurt, kekasihnya Joyce Anderson, si kapten cheers. Sedangkan Jeanie, ia mantan ketua cheers yang sampai sekarang masih aktif ber-cheerleading. Pasti Lillith itu salah satu dari anak cheers. Lillith berasal dari anak gadis yang kembali dibangkitkan oleh kejahatan dan segala macam keburukan, tubuhnya kembali hidup karena dirasuki iblis. Sebagai imbalan nya iblis itu meminta nyawa untuk kemudian di makan jasad nya dan mengurung jiwa orang itu bersamanya di neraka, tulisan di buku tua itu terus berputar di otaknya. Baiklah, sekarang siapa anak cheers yang pernah mati lalu kembali hidup lagi.
Segerombol gadis-gadis melintas di hadapan Justin. Mereka mengobrol sambil sesekali tertawa cekikikan. Mereka semua mengenakan kaos olahraga dan rok pendek berumpak.
“Kebetulan sekali,” batin Justin. Yeah mereka anak-anak cheers yang sepertiny baru saja keluar dari gedung olahraga seusai latihan. Gadis-gadis itu memang terlihat cantik dan ceria. Justin mengamati mereka satu persatu. Aneh, tak ada yang memiliki iris mata biru laut. Lillith mampu menirukan rupa seseorang, tapi ia tak bisa mengubah warna dan bentuk bola mata matanya. Justin ingat betul seperti apa tatapan iblis itu, sedalam dan sedingin lautan. I think i remember those eyes
Niall berpapasan dengan Logan saat keluar kelas. Sahabat nya yang satu itu sudah mulai kembali sibuk dengan drama nya. Ketika Niall mengajak nya berkumpul bersama Justin di kantin, ia menolak dan bilang jika ia harus berlatih untuk pertunjukan musim gugurnya. Cowok berambut pirang platina itupun melanjutkan langkahnya dan beralih mencari Justin. Ia menemukan sahabatnya itu tengah mengobrol serius dengan Marrie beberapa langkah di depan nya.
“Aneh,” fikir Niall. “Kenapa Justin malah mengobrol dengan gadis itu lagi? Apa dugaan Logan benar, jika semua cerita yang diceritakan Justin hanya khayalan nya saja.”
Niall dan Logan sebenarnya memang masih ragu dengan semua cerita Justin. Taylor sendiri bilang jangan terlalu mempercayai apa yang dipaparkan adiknya itu. Lagipula mana ada sih makhluk yang seperti itu di jaman sekarang. Mereka juga orang kulit putih yang tak terlalu percaya hal-hal magis seperti itu. Dokter yang memeriksa Justin bilang ia memang terbentur keras beberapa kali. Selama ini mereka hanya berpura-pura percaya pada Justin supaya ia tak merasa tersinggung. Niall kembali berjalan, menyadari jika kedua sahabatnya tengah sibuk dengan urusan nya sendiri. Lalu terlintas nama Taylor begitu saja di kepalanya, Niall jadi tersenyum sendiri. Dia benar-benar menyukainya. Kemarin mereka sempat mengobrol bersama. Begitu mengasyikan. Niall menceritakan beberapa lelucon kecil yang sanggup membuat gadis itu tertawa lepas. Rasanya sangat nyaman. Dia tak pernah merasakan perasaan yang membuatnya begitu se-senang kemarin.
“Aku akan menemuinya,” simpul Niall mantap. Ia melangkahkan kakinya ke gedung sebelah untuk menemui Taylor di sekitar kelas nya. Ia kembali tersenyum saat membayangkan wajah gadis itu.
Jantung nya masih berdebar. Niall mengatur nafas nya yang terengah-engah. Kemarahan nya langsung tersulut saat melihat gadis nya dipelukan orang lain. Yeah Taylor sedang tertawa bersama Ashton, atlet lari sekolah ini. Cowok itu berambut cokelat gelap, tubuhnya terbentuk sempurna. Ia tinggi dan kelihatan kuat. Entah kenapa Niall tak suka melihatnya, benci. Hatinya terasa ngilu. Dia bahkan langsung membatalkan niat nya untuk berbicara dengan Taylor, dan segera berjalan menjauh tanpa menoleh. Sampai ia tersadar sudah ada di ujung gedung sekolah, dekat dengan gedung olahraga yang biasanya selalu bergemuruh oleh karena banyak nya anak yang sedang berlatih. Tapi gedung itu begitu sepi sekarang, bangunan kokoh itu benar-benar kosong, hampa, seperti suasana hatinya.
            Niall mendorong pintu besar gedung itu. Nyali nya menciut saat membayangkan betapa hebatnya mereka. Atlet-Atlet sekolah. Mereka berlatih setiap hari, mempunyai kharisma yang begitu kuat bagi para gadis. Tak seperti dirinya. Sepatu kets nya berdecit-decit saat melangkah masuk. Tak ada siapapun di dalam. Suasana begitu hening. Niall berdiri disana, di tengah lapangan basket yang terlihat cukup luas.
            “Sakit ya?” sebuah suara menggema ke seluruh gedung. Membuat Niall tersentak kaget. Gadis itu dia atas sana. Menduduki ring basket sambil menghisap lolipop strawberry. Ia tersenyum menyeringai pada Niall yang sekarang sudah menyadari kehadiran nya.
            “Kau sedang apa di atas sana Joyce? Kau bisa jatuh nanti!” kata Niall mengingatkan. Ring basket memang tak terlalu tinggi tapi lumayan berbahaya juga kalau kau terjatuh dari sana. Joyce tertawa kecil. Tubuhnya memang sangat ramping. Wajahnya juga tampak cantik dan ceria seperti para cheer leader lain nya. Rambutnya yang pirang di kuncir kuda, ia masih mengenakan seragam cheers nya.
            “Aku sudah pernah jatuh Horan. Ingat ?” jawabnya mendadak sedih. Joyce langsung terjun dari sana dan mendarat dengan mulus. Ikatan rambutnya terlepas membuat rambut pirang nya menjuntai menutupi wajahnya. Sedetik kemudian sudah ada disamping Niall. “Sebaiknya kau ingat,” bisiknya tepat di telinga. Niall menelan saliva nya, merasakan ada sesuatu yang ganjil.
            “Oh aku tahu! Kau jatuh cinta pada si Marmut itu ya? Taylor Bieber. Kakak dari sahabat mu sendri.” Joyce berkata riang, sambil memutari Niall yang menegang. “Dua saudara itu memang menyebalkan, cih” sambungnya mencibir.
            “Jangan berkata seperti itu mengenai mereka!” sergah Niall kesal.
            “Uh, kenyataan memang pahit sayang,” Joyce berpura meringis, “Aku senang si Biebs itu sekarang gila!” katanya terkekeh.
            “Hentikan berbicara buruk tentang sahabatku Joyce!”
            Gadis itu langsung bergerak cepat ke hadapan Niall. Mata biru mereka bertemu. “Kau bilang sahabat? Benarkah? Mereka hanya memanfaatkan mu, mempermainkanmu, seperti semua orang. Tidak kah kau merasa paling bodoh diantara dua teman populer mu? Paling payah? Paling diremehkan?”
            Niall jadi teringat kata-kata Kurt malam itu. Harusnya ia meninju wajah si Hulk itu sebelum pergi. Atau setidaknya Logan kan bisa membelanya, tapi toh Logan tak melakukan apapun.
            Joyce mendecak dan menggeleng prihatin. “Justin. Semua orang tau dia hebat dalam musik. Logan. si tampan itu, aktor terbaik disekolah, sedangkan Niall? Dia hanya anak kecil yang ‘kebetulan’ terbawa arus,”
            Rahang Niall mengeras. Ia marah sekaligus sedih. Menyadari perkataan Joyce ada benar nya. Anak-anak futbal atau atlet sekolah lainnya sering mengejek nya. Dulu Justin pernah membelanya dan hampir berkelahi tapi sekarang bahkan kedua sahabatnya itu ikut-ikutan meremeh kan nya. Lihat saja selama kegiatan mengerjai para gadis itu, Logan dan Justin tak pernah memberinya kesempatan. Begitu juga dengan Taylor. Gadis itu kemarin sangat dekat dengan nya, apalagi saat Justin kecelakaan, Niall dengan sabar mendengar ocehan ke-khawatiran Taylor malam itu. Ia juga berusaha membantu sebisanya.
            “Semua orang tahu tadinya aku hanyalah gadis cheers biasa, yang tak pernah dilirik. Bayangkan, betapa senang nya saat kau mendapat semua perhatian, menjadi ketua cheers adalah impianku.” Ia berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan dengan nada yang marah dan penuh benci.
“Saat Jeanie sakit, aku bisa mewujudkan mimpi itu. Aku menggantikan nya menjadi ketua cheers sementara. Untuk memimpin pertunjukan di perlombaan antar kota sekali saja. Aku turut sedih saat ia tertimpa musibah. Tapi sekarang, aku bahkan masih belum puas saat membuat remuk kepala si jalang itu”
            “Kecelakaan itu kau—“
Posted on by Nabila Naomi | No comments

The New Girl Chap 4

Part 4 : Dirty Little Secret
Wajah Justin tampak menerawang. Berusaha mengingat kembali kejadian malam itu. Jika gadis itu itu bukanlah Marrie seperti yang dikatakan Cassandra, pasti ada petunjuk yang menguatkan peryataan itu. Wajah gadis menyeramkan itu memang mirip sekali dengan Marrie. Kecuali matanya. Yeah gadis itu memiliki bola mata biru yang terkesan sedalam lautan, sedangkan Marrie, bola matanya berwarna cokelat terang.
            “Gadis itu ‘mungkin’ bukanlah Marrie. Matanya yang biru sewarna dan sedalam lautan, menyimpan kemarahan dan kebencian. Aku dapat merasakan sesuatu yang jahat dibalik tatapan nya yang menohok tajam padaku.” Bayangan gadis itu kembali menghampirinya. Membuatnya sedikit bergidik ngeri mengingat kata-kata terakhirnya, Tak akan ada yang bisa lolos dariku. Sejujurnya semenjak kejadian itu Justin memang merasa ada yang mengawasi, dan perasaan terancam masih menyelimuti hati kecilnya. Aura jahat itu masih bisa ia rasakan malahan semakin kuat.
            “Biru ya, tapi bagaimana mungkin ia bisa terlihat serupa dengan Marrie,” Logan bergumam sendiri.
            “Mungkin ia bisa bertranformasi, seperti power rangers misalnya” Niall mengomentari sambil mengunyah sebungkus chips yang ia temukan di kamar Justin.
            “Ah ya, tentu saja. Tapi bagaimana kau bisa mengetahuinya Niall?” Justin sengaja melempar tatapan curiga pada sahabatnya itu. Disaat seperti ini ia sempat-sempat nya berniat menjahili anak itu. Ia harap Logan juga ikut mengerjai Niall.
            “Yeah. Bagaimana kau tahu? Oh ya Justin, kau bisa mengeluarkan aku dari daftar orang yang dicuigai karena mataku berwarna zamrud,” Logan memajukan tubuhnya untuk terlihat lebih serius.
            “Aku hanya menebak, itu saja.” Jawab Niall enteng. Ia melirik ke arah dua sahabatnya yang kini tengah menatapnya lekat-lekat. “Apasih yang kalian fikirkan?”  sungut Niall tersinggung.
            “Sepertinya kau harus berhati-hati buddy, ‘dia’ kelihatan selalu lapar”
            Logan mengangguk prihatin. Niall pun memasukan sengenggam chips itu ke mulut Justin secara paksa. “Jangan banyak bicara Justin, kau baru saja sembuh,” kata Niall dengan kesal. Justin tertawa geli sambil mencoba menutup mulutnya dari serangan chips itu. Logan segera menghampiri untuk membantu Justin menyelamatkan diri.
            Mereka tertawa dan bertingkah seperti biasa. Membuat lelucon lalu saling menertawakan.
            Ariana terperanjat. Ia segera bersembunyi di balik tirai jendelanya saat gadis itu menoleh ke arahnya. Jantungnya berdebar. Ariana tak sengaja melihat orang lain yang tengah mengawasi Justin juga. Gadis itu kelihatan melayang. Aneh dan menakutkan, batin Ariana. Perasaan itu tiba-tiba saja muncul. Semburat oranye yang menghiasi langit sore september membuat bayangan gadis itu nampak samar. Ia tak sempat memerhatikan gadis itu dengan jelas karena sepertinya gadis itu menyadari tatapan nya dan segera menoleh.
             Ariana kembali terlonjak kaget saat pintu nya tiba-tiba terdorong terbuka. Sosok wanita yang masih memakai celemek itu menyembul dari balik pintunya.
            “Sebaiknya kau bantu aku didapur, pie nya sudah hampir siap,” suruh Ibunya sambil membuka pintu nya makin lebar. “Kau kenapa Ari?” sambung nya saat melihat sisa ketakutan di wajah putrinya.
            Ariana menggeleng cepat lalu segera menghampiri ibunya. Ia ingat hari ini akan mengantarkan pie apel kerumah Justin. Senyum nya mengembang, ia memang sangat suka saat ibunya menyuruhnya mengirimkan sesuatu pada tetangga nya yang satu itu. Mereka pun bersama-sama menuruni tangga sambil berbincang.
            Tirai jendela Ariana bergerak-gerak. Memperlihatkan seringai-an gadis itu dibaliknya. Tentu saja ia menyadari tatapan gadis dibalik tirai tadi. Sekarang ia tengah mengawasi gadis itu jika ia berani mengintipnya lagi. Jika sempat ia akan langsung melenyapkan nya, karena tak ada yang boleh tau tentang siapa dia sebenarnya. Ariana sungguh beruntung karena tak memeriksa lagi apa yang ada dibalik tirainya.
            Pie apel itu sekarang sudah ada dipangkuan nya. Ariana berjalan ke pintu depan rumah nya. Hembusan angin kering langsung menghambur padanya ketika ia membuka pintu. Matahari sudah tenggelam sempurna. Cahaya oranye meredup, hampir berubah menghitam. Rumah Justin berada tak jauh dari rumahnya, karena gedung rumah mereka memang bersampingan. Ariana melangkah keluar dan berlari kecil agar cepat sampai. Gara-gara kejadian tadi ia jadi agak sedikit takut.
Gadis aneh itu masih ada tidak ya, gumam Ariana sambil terus mempercepat langkahnya. Ia mendesah lega saat sampai di depan pintu rumah Justin. Mobil Logan sudah tak terlihat terparkir di halaman Justin, kemungkinan dia sudah pulang sekarang. Ariana mengetuk pintu tak sabar. Suasana diluar begitu sepi dan semakin gelap. Entah kenapa ia merasa tak nyaman. Ia kembali mengetuk pintu rumah Justin lebih kencang. Mata nya yang berwarna cokelat gelap menangkap sesuatu yang aneh di sebrang jalan. Ia melihat seseorang tengah duduk di atas pohon besar. Itu gadis yang tadi ia lihat. Sekonyong-konyong ia menjatuhkan dirinya ke bawah. Membuat Ariana memekik tertahan. Ia seakan dapat mendengar retakan tulang gadis itu. Gadis itu bangun lalu tersenyum ke arahnya. Senyum menakutkan. Perlahan ia melangkah ke arahnya dengan gerakan patah-patah.
Tenggorokan nya terasa tercekik. Ariana seperti membeku tak bisa melakukan apa-apa saat melihat sosok itu mendekat padanya.
            “Hey kau kenapa? Ariana!” Justin mencoba menyadarkan Ariana yang memandang ke arah sebrang tanpa berkedip dan bergerak. Ia pun menggoncangkan tubuh gadis itu pelan. Membuat gadis itu tersentak, dan kembali bernafas.
            “Ada apa Ariana?” ulang Justin sambil mengikuti arah pandangan gadis itu tadi. Justin jelas dapat melihat wajah Ariana yang memucat, ia pun segera mempersilahkan gadis itu masuk.
            Ariana meneguk segelas air itu sampai setengah. Ia merasa lebih baik sekarang. Justin tengah menatapnya khawatir, karena ia belum sanggup bicara sepatah kata pun. “Ini aku bawakan pie apel untukmu Justy,” Ariana akhirnya sanggup membuka mulutnya yang terasa terkunci. Ia menyodorkan bungkusan yang sedari tadi dipangkuan nya.
            “Ah ya, Thanks. Begini, aku penasaran dengan apa yang kau lihat diluar tadi, jujur saja kau kelihatan begitu ketakutan.”
            Ariana menelan salivanya. Mencoba mengontrol dirinya yang ketakutan setengah mati. “Itu, aku rasa, hanya ilusi ku saja. Aku memang terlalu banyak menonton film horor akhir-akhir ini. Dan itu membuatku ketakutan sendiri, bodoh memang.”
            Justin mengangguk mengerti walaupun sebenarnya ragu dengan pengakuan Ariana. Ia membuka bungkusan Pie itu lalu tersenyum lebar. Aroma pie nya tercium sangat menggiurkan. “Wow, ibumu memang pandai membuat kue! Aku sudah lama sekali tak memakan ini,” Mata hazel nya berbinar senang.
            Justin meringis kesakitan saat kakinya yang terbalut perban terantuk kaki meja. Seharusnya ia memang tak boleh banyak berjalan-jalan selama seminggu ini. Ariana segera membantunya. Ia pun memapah Justin ke ruang perapian. Jantungnya kembali berdebar, bukan karena takut, tapi ia belum pernah sedekat ini dengan Justin sebelumnya.
            “Em, mana Taylor?” tanya Ariana supaya keliahatan normal, hanya pertanyaan itu saja yanga ada di kepala nya setiap ia datang ke rumah Justin. Mungkin akibat terlalu gugup.
            Justin mendesah. “Kenapa sih kau selalu menanyakan dia setiap datang kemari? Kau tak peduli padaku yang sehabis kecelakaan?” keluh Justin sambil membenarkan posisi kakinya.
            “Bukan. Bukan seperti itu, aku khawatir sekali padamu saat mendengar kabar itu. Aku sungguh senang kau baik-baik saja,” seberendel kata-kata meluncur dari mulut mungil Ariana. Awalnya ia tak berani mengucapkan nya, dan akibat pengakuannya itu, Ari semakin gugup. Gadis itu dapat merasakan wajahnya yang memanas. Dia berharap Justin tak menyadari perubahan sikapnya.
            Cowok itu tersenyum. Senang ternyata Ariana masih peduli padanya. Mereka duduk di sofa yang bersebrangan dan terhalang oleh sebuah laptop yang sedang Justin mainkan. Ia memang sedang mencari sesuatu tentang makhluk aneh yang menyerangnya itu di internet. Di beberapa film pencarian internet sangat membantu biasanya.
            “Li..Li..” Justin terbata saat mencoba membaca tulisan kecil di layar laptop nya.
            “Lillith?” Ariana menebak apa yang mau diucapkan Justin.
            “Yeah. Lillith!”
            Di blog itu tertulis tentang makhluk yang bernama Lilliith. Iblis cantik yang menyeramkan, kutipnya dengan font yang di tebalkan. Justin mengernyit.
            “Kau suka misteri juga ya?” tanya Ariana. Justin memutar bola mata padanya. “Tidak. Aku hanya ingin tahu saja,” ia kembali membaca tulisan itu. Lillith adalah makhluk cantik yang memangsa para pria untuk kelangsungan hidupnya. Awalnya Lillith berasal dari seorang gadis biasa tapi kemudian berubah menjadi iblis saat dibangkitkan kembali. Mata Justin berhenti saat menyadari tulisan itu sudah habis.
            “Sedikit sekali,” batin Justin kecewa. Padahal ia sudah sangat antusias saat mendapat artikel yang cocok. “Kenapa kau bisa menebak Lillith? Apa kau tahu sesuatu tentang makhluk itu?” Justin kembali mengarahkan pandangan nya pada Ariana yang sedari tadi hanya diam sambi memandanginya.
            “Aku pernah membaca ceritanya dulu, di sebuah buku mitologi tua.”
            “Bisakah kau menceritakan tentang makhluk itu padaku, bagian yang kau ingat saja.” Justin menatap penuh harap padanya sambil tersenyum.
            Ariana menekan bibirnya kedalam. Sebenarnya ia bisa saja bercerita secara lancar jika bukan dengan Justin. Cowok itu begitu mempesona di matanya. Dan selalu membuat nya gugup dan salah tingkah.
            “Makhluk itu adalah iblis yang cantik. Makhluk itu berasal dari gadis yang dibangkitkan kembali. Karena ia punya rasa emosi yang kuat, seperti kemarahan, kebencian ia berubah menjadi makhluk yang jahat. Biasanya ia akan mencari mangsa seorang lelaki untuk bertahan hidup. Membuat nya kembali cantik. Dia bisa menirukan rupa seseorang, membuat dirinya sangat mirip bahkan sama persis kecuali...”
            Ariana mengggit bibirnya. Justin memasang wajah serius, ia mendengarkan cerita Ariana dengan seksama. “Selebihnya aku lupa, maaf Justy,” sambung Ariana akhirnya.
            “Kecuali matanya bukan?” ucap Justin penuh keyakinan.
            “Yeah benar. Aku ingat sekarang. Matanya tak akan berubah, misalnya ia bermata..”
            “Biru.” Justin menyarakan. Ia begitu yakin sekarang kalau Lillith adalah makhluk yang menyerangnya.
            “Matanya biru, baiklah. Saat dia menirukan aku, mataku berubah menjadi biru. Makhuk itu akan mengejarmu sampai dapat jika kau berhasil lolos darinya. Karena yang paling ia takutkan adalah ada yang mengetahui siapa dia sebenarnya. Ia akan memberimu tanda, seperti luka atau gigitan supaya ia bisa dengan mudah mengetahui keberadaan mu”
            “Dan pakah kau percaya makhluk itu benar-benar ada?” tanya Justin. Ia merebahkan tubuhnya ke sofa lalu memandang ke langit-langit.
            “Entahlah,” jawab Ariana ragu. Justin menegakan kembali posisi duduknya. Ia menatap Ariana lekat-lekat lalu menyisingkan kaos nya dan perlahan membuka balutan perban nya.
            “Oh!” pekik Ariana tertahan. Justin ditandai makhluk itu.
            Malam ini Ariana benar-benar tak bisa memejamkan matanya. Sehabis dari rumah Justin ia tak bisa tenang apalagi mengingat ia melihat seseorang yang mengawasi Justin. Tirainya berkibar-kibar. Rupanya Ariana lupa mengunci jendela nya. Ia beranjak dari ranjangnya lalu melangkah ke dekat jendela. Sebelum mengunci jendelanya ia sempat melihat ke sebrang kamar Justin yang sudah tertutup rapat. “Selamat malam Justin,” batin nya lalu mengunci dan menutup tirainya juga.
            Suara riak air saling bersahut-sahutan. Setelah tiupan peluit, dalam satu hitungan para gadis itu menjatuhkan diri ke air lalu berenang ke sisi kolam renang secepat mungkin. Logan mengelap wajahnya dengan handuk. Cowok itu tengah beristirahat setelah berenang mengitari kolam. Ia memang butuh kegiatan yang seperti ini setelah seminggu dipenuhi keletihan. Badan dan fikiran nya terasa lebih segar.
            Jeanie, gadis itu sedang tertawa-tawa saat memanjat tiang  untuk nantinya melompat ke kolam renang dari papan diatas sana. Ia salah satu pemain regu cheerleader, mantan ketua regu itu. Gadis itu memang sangat berani, ia juga kebetulan mempunyai keahlian meloncat indah. Tubuhnya yang ramping memang terlihat anggun saat  melakukan nya.
            Jeanie sudah sampai di atas papan itu. Gadis itu meregangkan tangan tubuhnya terlebih dahulu lalu mengambil ancang-ancang untuk melompat. Tatapan tajam itu menohok padanya. Gadis itu merasakan keanehan. Ia mengedarkan pandangan ke orang-orang dibawahnya. Jeanie mengusap tengkuknya. Saat gadis itu bersiap melompat, pijakan nya tergelincir sedikit. Membuatnya limbung dan kehilangan keseimbangan. Jeanie pun terjun terjatuh dari atas sana dengan posisi tidak benar. Ia terjatuh ke dalam air diikuti suara deburan yang kencang.
            “Aaaaaaaaaaaaaaa!!!” teriak gadis-gadis itu sambil membelalak ngeri. Air kolam renang itu seketika berubah semerah darah. Kepala Jeanie jatuh duluan dan terbentur lantai kolam renang. Mereka berhamburan keluar dari kolam. Ariana yang merupakan salah satu dari beberapa gadis yang berada di kolam itu segera naik ke pinggir kolam. Hanya tinggal satu gadis di kolam itu. Ia masih tetap saja berenang di air yang bercampur darah tersebut.
            Joyce Anderson mengangkat kepalanya dari air. Tubuh Jeaine pun mengambang disebelahnya. Gadis itu pun menjerit ketakutan.
            Logan berada di kerubunan anak-anak yang berusaha mengintip apa yang dilakukan para medis yang datang kesekolahnya. Mereka bilang Jeanie tewas akibat benturan di kepala yang membuat tengkorak nya remuk. Kejadian tadi memang begitu menyeramkan. Ariana duduk berbaris sambil memegangi lutunya yang gemetaran. Mereka ditanyai sebentar oleh para medis itu untuk mengetahui kejadian nya sebenarnya terjadi.
            “Kalau ada dua pasti ada tiga,” gumam Sarah, gadis kulit hitam yang duduk disebelahnya. Wajahnya kelihatan sama shoknya dengan Ariana an gadis-gadis lain. “Apa maksudmu Sarah?” Ariana merasa bergidik mendengar ocehan teman nya itu. Sarah menoleh ke arahnya. Mata hitam nya yang pekat menyimpan ketakutan. “Kau pasti tau kan pribahasa itu. Kalau ada dua pasti ada tiga. Ini belum berakhir, sekolah kita dikutuk!”
            Pemakaman Kurt Federick dilangsungkan besok dan sekarang sudah ada lagi yang meninggal.
Apakah semua ini ada sangkut pautnya dengan kecelakaan Justin. Makhluk yang beranama Lillith itukah pelakunya? Tapi Jeanie kan perempuan bukan lelaki. Pasti ada sesuatu yang bisa menghubungkan ini semua, simpul Ariana.
Malam ini Justin kembali sendirian dirumah karena Taylor harus mengikuti les vokal nya, sedangkan kedua orang tuanya belum pulang dari luar kota. Kedua sahabatnya, Logan dan Niall sedang sibuk. Logan harus berlatih untuk pementasan drama nya sedangkan Niall ada acara bersama keluarganya. Justin melempar stick X-Box nya. Kebosanan setengah mati. Ia membuka tirainya sedikit. Ariana kelihatan sedang serius membaca di kamar sebrang.
Seseorang terdengar mengetuk pintu rumahnya. Justin beringsut antusias. Kaki nya sudah mulai normal sekarang, mungkin akibat nya Justin tak bisa diam kakinya cepat sembuh. Cowok itu berjalan secepat yang ia bisa untuk segera membukakan pintu.
Pintu nya terbuka. Ariana terlihat dibalik pintu, tersenyum padanya. Justin juga membalas tersenyum.
“Bolehkah aku masuk Justin?” pintanya ceria.
Deg.
Satu. Setahu Justin, Ariana selalu memanggilnya Justy.
Dua. Dia baru saja melihat Ariana sedang membaca buku dikamarnya.
Tiga. Jika Ariana pernah bilang misalnya ‘matanya biru’ dan sekarang ia tengah berhadapan dengan Ariana yang bermata biru.
“Ayo kita masuk saja! Aku tak suka diluar,” rayu gadis itu sambil mengelus sebelah tangan Justin yang masih memegang kenop pintu.
To Be Continued~
Posted on by Nabila Naomi | No comments