Title : Secret Memories
Genre : Romance, Family, Horor, Mystery
Main Cast : Justin Drew Bieber (as him self) Weronika Mamot (Lillian Anderson) and many more, find ur self :)
Summary : Lillian yang akrab dipanggil Lil dan adik perempuan nya Catherine, (biasa dipanggil Cat) yang masih berusia enam tahun akan menghabiskan liburan musim panas di rumah kakek-neneknya di sebuah tempat yang jauh dari perkotaan, tepatnya di pesisir pantai yang sepi. Lillian yang tengah senang-senang nya melakukan hal-hal seperti gadis remaja lain nya, membayangkan jika liburan ini akan menjadi liburan yang paling membosankan sepanjang masa. Kemudian seorang anak lelaki datang dan semua nya jadi diluar rencana...
Part 1 : Summer Not Hot!
Kedua bola mata cokelat Catherine menatap pepohonan yang berkelebat di luar jendela. Rasanya ia sudah sangat tidak sabar untuk sampai kerumah kakek-neneknya. Ibunya bercerita jika disana terdapat pantai yang sangat indah dan kebun yang luas. Pasti banyak tempat bermain yang mengasyikan, batin Cat sambil menerawang.
“Apakah kita sudah dekat dengan rumah nenek Lil?”
Gadis yang tengah duduk disebelahnya itu tak menjawan. Ia sedang sibuk mendengarkan lagu dari headset yang menyumpal telinga nya sedari tadi. Cat menyenggol kakak perempuan nya agar ia bisa mendapat jawaban dari pertanyaan nya.
“What?” tanya Lillian sewot. Ia melepaskan sebelah headset nya sambil tak sabar menunggu apa yang akan dikatakan adiknya.
“Apakah kita sudah dekat dengan rumah nenek?”
Lillian menghela nafas. “Gosh! Kau terus menanyakan pertanyaan itu padaku tiap 15 menit sekali, ya ampun Cat, dengar ya, aku tak peduli berapa lama lagi kita akan sampai, mengerti?!” Headset nya segera kembali menyumpal telinga Lillian. Kini giliran Catherine yang mendengus sebal, ia pun kembali memandangi jendela.
Deburan ombak yang membentur-bentur karang sudah terdengar. Burung-burung camar pun terlihat melintasi langit. Catherine bersorak kegirangan. Ia yakin kali ini mobil mereka sudah dekat dengan rumah nenek nya. Semburat oranye mewarnai langit saat akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Mr. Anderson mematikan mesin mobil Firebird nya. Catherine melompat keluar setelah ayah nya membukakan pintu. Lillian menyusul di belakang, agak tersangkut headset nya sendiri. Mrs. Anderson keluar setelahnya sambil menenteng tas kecil. Sepasang pasangan paruh baya menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang lebar. Catherine segera menghambur ke pelukan nenek-kakek nya, sedangkan Bobby, ia terlihat begitu tak bersemangat. Rasanya semua kesenangan dalam hidupnya pupus sudah saat memasuki rumah yang ber-aroma masakan tersebut.
Suasana makan malam malam serasa begitu hangat. Bau daging panggang memenuhi ruangan. Mereka duduk pada meja makan bundar dekat perapian seraya berbagi cerita sambil sesekali tertawa. Catherine, anak kecil itu, yang paling bersemangat, ia bercerita kejadian konyol nya saat membeli disekolah dan saat membeli anjing kecil mereka Cooper.
“Bagaimana dengan sekolah mu Lillian?” tanya si Kakek yang ternyata memerhatikan jika Lillian lah orang yang paling pendiam sedari tadi. Gadis itu hanya mengaduk-aduk makanan nya sambil sesekali tertawa hambar.
Lillian sontak berhenti mengunyah, ia tak menyangka jika Kakek nya akan bertanya padanya. “Mm.. baik,” jawab nya ragu. Sekolah nya baik. Huh itusih lelucon. Ia sangat tersiksa dengan kakak-kakak kelas yang selalu menindas nya gara-gara murid tahun pertama di sekolah itu, belum lagi tugas dan test yang hampir membuatnya gila.
Setelah acara makan malam selesai, Mrs. Anderson membantu nenek mereka membereskan meja sedangkat Mr. Anderson masih terlibat percakapan hangat dengan si kakek. Lillian merasa tubuh nya sudah bagitu lelah segera melangkah ke kamar yang sudah disiapkan neneknya.
“Lill! Ayo kita ke pantai!” ajak Catherine agak merajuk, ia mencegah kakaknya memasuki kamar. Caherine bahkan sudah membawa ember dan sekop untuk bermain pasir.
“Kau gila! Sekarang sudah malam Cat!” gerutu kakaknya malas.
“Sebentar saja, ayolah.” pinta adik nya lagi sembari menarik-narik dress Lillian. Kedua bola mata bulatnya dibuka lebar-lebar sambil tersenyum polos.
“Tidak!” jawab Lillian tegas. “Aku lelah! Sudah pergi saja sana sendiri.” suruh nya lalu membanting pintu sampai tertutup.
Catherine memukulkan ember nya pada pintu dengan kesal, lalu bergegas lari sebelum jeritan kakak nya terdengar.
Akhirnya Lillian bisa merebahkan tubuhnya. Ranjang nya agak berderit saat ia menidurkan diri. Lillian mendesah pasrah sambil kembali membayangkan bagaimana nasib nya disini selama beberapa minggu kedepan. Terkurung di tempat yang bodoh dengan adik perempuan yang super bawel dan banyak permintaan seperti Cat dan Kakek-Neneknya yang senang sekali mengerjakan sesuatu.
Paginya, udara begitu cerah. Air laut terlihat berkelap-kelip diterpa cahaya matahari yang cukup terik. Cathrine berlari duluan, rambut kemerahan nya berkibar-kibar. Entah ada angin apa Bobby akhirnya mau menemani adiknya bermain di pantai. Sebenarnya ia juga rindu dengan pantai ini. Waktu seumur Catherine, ia juga begitu menyukai pantai ini. Menyukai pasir lembutnya dan aroma asin air laut.
“Ayo kita main bola pantai!” ajak Cathrine yang sudah membawa bola karet ringan di pangkuan nya.
“Ya ampun! Kenapa kau tak membuat kastil pasir saja sih?” gerutu Lillian yang baru saja duduk di pasir putih dekat pohon.
“Itu mainan anak kecil! Aku tidak mau! Membosankan!” Cat bersikeras akan kemauan nya.
“Kau itu anak kecil Cat! Umurmu baru enam tahun!”
Akhirnya dengan berat hati Lillian pun menemani adik nya bermain bola pantai. Tanpa sengaja saat ia memandang ke lautan, ia melihat seseorang tengah berselancar disana. Seorang cowok. Sesekali Lillian melirik ke arah peselancar yang kelihatan semakin menepi itu, dari jarak nya sih, cowok itu terlihat tampan.
”Ups!” pekik Cat saat tak sengaja melempar bola nya terlalu jauh. Lillian mendengus memarahinya, karena berarti ia harus berjalan cukup jauh untuk mengambilnya. Dan karena bola nya cukup ringan, bola itu terus menggelinding terbawa angin laut yang kencang dan tanpa sengaja mendekati peselancar yang ternyata baru saja menepi itu.
Jantung Lillian berdetak lebih cepat saat melihat peselancar itu menangkap bolanya. Yang membuat Lillian agak lega, peselancar tampan itu tersenyum ramah saat mereka tinggal berjarak beberapa langkah.
“Ini punyamu,” katanya sembari menyodorkan bola itu pada Lillian. Wajah gadis itu memanas. Ya ampun ia sedang berhadaan dengan cowok tampan nan seksi. Lihat saja badan nya yang atletis.
“Thanks,” gumam Lillian menatap mata karamel cowok itu. Damn it! Ia yakin semua cowok disekolah tak ada yang sekeren ini.
“Lill! Ayo main lagi!” panggil Cat memecah suasana. Bobby mendesah. Memang adiknya selalu saja merusak kesenangan nya.
“Itu adikmu?” tanya cowok iu tertawa kecil. Manis sekali.
“Yeah,” jawab Lillian pasrah. Catherine yang sudah tak tahan menunggu, berlari menyusul kakaknya. “Dia juga ingin ikut main?” tanya nya polos saat melihat cowok itu dan kakak nya berhadap-hadapan sambil sedikit berbincang.
Cowok itu tertawa lagi. “Aha, bolehkah aku ikut? Namaku Justin dan kau pretty lil girl?” kata cowok itu mengulurkan tangan sambil memicingkan mata menggoda.
“My name is Cat dan kau boleh ikut bermain Justin, asal Jangan sebut aku pretty lil red head!” protes Cat. Lillian hanya melongo, bahkan adiknya lebih pintar berkenalan dengan cowok keren itu. Mungkin ini sebab nya sampai sekarang ia belum mempunyai pacar.
”Bobby! You dont catch the ball right!” Cat kesal terhadap kakak nya yang sedari tadi kelihatan tak konsentrasi.
“Sorry Cat. Aku capek,” Lillian ambruk di atas pasir. Dahi nya terasa berdenyut-denyut karena telah bermain seharian. Justin yang ikut bermain bersama merek hanya tertawa melihat kelakuan dua gadis bersaudara itu.
“Mungkin sebaik nya kita istirahat dulu,” saran Justin sambil mengusap keringat di dahinya.
Tak lama setelah mereka beristirahat, Nenek mereka sudah memanggil Lillian dan Cat karena matahari mulai tenggelam. Justin juga pamit karena harus pulang ke rumah nya yang ia bilang tak jauh dari situ.
“Nanti malam, emm aku punya marsmellow bakar, jika kalian di ijinkan keluar, maukah kalian menemaniku memakan nya di pinggir pantai?” kata Justin sebelum Lillian dan Cat berlari pulang.
“It will be fun! Okay!” angguk si kakak cepat. Daripada mememani nenek nya merajut, kegiatan ini jelas jauh lebih baik. Justin adalah cowok termanis yang pernah ia temui. Lillian berharap mungkin musim panas nya tak akan terlalu buruk jika ada Justin.
Awalnya Lillian takut jika Cat menolaknya tapi setelah diberi kerlingan oleh nya Cat pun mengiyakan. Mereka bertiga pun saling melambai sebelum berpisah.
Nenek nya membuat sup yang sangat enak. Kedua orang tua mereka sudah pulang tadi siang. Cat dan Lillian makan dengan lahap. Kakek nya bercerita tentang hobi nya berburu ketika masih muda saat mereka makan bersama. Nenek nya sempat memarahi pria tua itu karena berbicara sambil makan itu tidak baik, mereka tertawa bersama saat si Kakek akhirnya tersedak karena terlalu semangat bercerita.
“Apa yang kalian lakukan seharian tadi, hm? Kalian suka tidak tinggal disini?” tanya kakek nya saat mereka memakan puding sebagai makanan penutup.
Seperti biasa, Cat selalu senang jika bercerita. “Kami bermain bola pantai dan kejar-kejaran. Aku dan Lillian juga bertemu teman baru!”
”Teman baru? Setahu ku tak ada anak lain yang tinggal disekitar sini,” selidik Kakek nya menatap Cat dan Lillian bergantian.
“Namanya Justin, dia bilang rumah nya berada di dekat sini, Kek.” Tambah Cat masih antusias.
“Jangan terlalu sering bermain dengan nya!” sergah nenek nya yang beru saja kembali dari dapur. “Aku dan John tak mengenal anak yang bernama Justin itu. Aku tak mau terjadi apa-apa kalian.”
“Dia baik kok,” bela Cat.
“Sekali!” Lillian menyahuti adiknya. “Kalian harus tahu, jika ada orang yang tahan bermain dengan Cat, ia pasti mempunyai kesabaran dan kebaikan hati yang ekstra. Aku saja kadang tak tahan! Justin bersikap baik seharian pada anak itu,”
Cat melirik kakak nya kesal. Walaupun Lillian benar masalah Justin, tapi ia tak suka jika Lillian mengeluh tentang sikapnya yang ia rasa normal-normal saja.
“Tapi aku rasa, nenek kalian benar. Tak usah bermain dengan anak itu lagi. Besok aku ajak kalian berkebun,” ujar kakek nya sembari mengelap sisa makanan di mulutnya.
Bodoh namanya jika tak mau berteman dengan cowok seperti Justin. Ia jelas-jelas anak baik. Entah kenapa Lillian begitu yakin pada teman barunya itu. Dan tentu saja ia ingat tentang perjanjian mereka bertemu untuk membakar marshmellow bersama malam ini.
“Nek, bolehkah kami ke pantai lagi?” tanya Cat hati-hati pada nenek nya. Lillian sengaja menyuruh adiknya agar dibolehkan.
“Untuk apa kalian kesana malam-malam?” Nenek nya berbalik bertanya pada dua cucuk nya itu.
“Kami mau ber—“
“Sekop Cat tertinggal di pantai Nek, kami berdua mau mengambilnya,” tukas Bobby sebelum adiknya mengatakan yang sebenarnya. Cat pun segera mengangguk untuk memperkuat perkataan kakak nya.
“Oh baiklah, hati-hati ya. Jangan terlalu lama,”
Lillian dan Cat pun berlari keluar rumah. Alih-alih bertemu Justin lagi dengan senyuma manisnya, Lillian hanya menemukan pantai yang sunyi, gelap dan berangin. Tak ada siapa-siapa disana. Tak ada Justin.
“Mana Justin?” tanya Cat yang sama kecewa nya dengan Lillian.
“Kita tunggu saja dia sebentar lagi,” saran Lillian sambil mencari tempat yang nyaman untuk duduk.
Angin pantai terasa begitu dingin di kala malam. Cat malah sampai bersin-bersin karena kedinginan. Lillian terus menatap ke hamparan luas lautan di hadapan nya. Dalam hatinya, ia berharap sekali Justin datang.
“Menunggu seseorang?” tanya sebuah suara berat---membuat dua gadis itu terlonjak karena kaget.
“Kakek?” tanya Cat dan Lillian bersamaan.
“Kalian mau mencari sekop atau yang lain? Ayo pulang. Hari sudah malam!” ajak lelaki tua itu sambil menggandeng Cat. Dengan malas Lillian segera mengikuti langkah kakek nya dan Cat.
Lillian sempat menengok ke belakang beberapa kali.
“Where are you Justin?”
Sabtu, 12 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar