Sabtu, 12 Oktober 2013

The New Girl Chap 6

The New Girl!
Genre : Horor, Scholl, Teen, Thriller, Friendship
Cast : Justin Drew Bieber
Niall James Horran
Logan Wade  Lerman
Ariana Grande Butera
Taylor Allison Swift
Diana Argon (Joyce Anderson)
Lucy Hale (Marrie)
Author : Nabila. Naomi
Sorry for bad words, typos, ke gaje-an dan ke absrud-an nya. Saya bukan author yang handal, hanyalah amatiran. Masih mencoba belajar dan memperbaiki setiap saat :) Hope you like it!

Part 6 : Broken to Pieces (ENDING)

“Kecelakaan itu kau—“
            “Itu tak sebanding dengan apa yang ia lakukan padaku Horran! Si jalang  Jeanie! Dia yang membuatku kehilangan semuanya!! Saat latihan sore itu, dia tiba-tiba datang dan langsung ikut latihan. Aku dengar saat ia memohon pada pelatih kami, supaya ia kembali menjadi kapten cheers. Tapi pelatih ku menolaknya, ia bilang, Janie sudah terlalu banyak ketinggalan, pelatihku juga mengakui kemampuanku.” Joyce tersenyum pahit sambil tak berhenti mengitari Niall.
            Mata biru Joyce berkaca-kaca. Rasanya seperti menelan bara saat ia mengingat kejadian itu. Ia begitu marah dan kecewa. “Janie sempat mendelik kearahku. Aku tau dia sangat kesal. Tapi aku berusaha melupakan sikapnya waktu itu. Kami semua latihan bersama. Kami membuat piramida. Aku berhasil berdiri dipuncak sampai tiba-tiba ada seseorang yang mencekal kakiku! Lalu sengaja menggesernya! Aku langsung limbung, kehilangan keseimbangan. Aku dapat mendengar remukan tulangku sendiri saat terjatuh ke lantai yang keras itu. Menggerikan. Rasa sakit yang menjadi langsung menjalar disekujur tubuhku yang tak bisa digerakan sama sekali. Bahkan aku tak sanggup meneteskan air mataku. Aku lumpuh. Semua orang mulai berkumpul disekelilingku. Menatap iba. Pelatihku menampar wajahku supaya aku tetap terjaga. Dari situlah aku tahu siapa pelakunya. Diantara wajah-wajah yang menatapku, aku melihat sesuatu yang berbeda di wajah Jeanie. Ia kelihatan begitu khawatir dan takut seperti yang lain. Tapi jelas aku melihat apa yang sebenarnya ditakutkan nya. TAKUT AKU HIDUP! TAKUT AKU SELAMAT DAN MENGETAHUI PERBUATAN KEJINYA!!”
            “Niall menjauh darinya!” teriak Justin yang sudah berada di ambang pintu. Joyce menoleh dengan berang, lalu sekonyong-konyong tubuh Justin terlempar ke samping. Bruakk! Ia terbentur lemari kaca yang berisi beberapa piala di pinggir lapangan.
            “Justin!” panggil Niall khawatir, ia berniat segera mengahampiri Justin. Langkahnya terhenti saat tangan Joyce mengusap bahu kirinya. Menahan nya pergi. “Aku tahu rasanya Niall. Sakit itu. Pandangan meremehkan yang diberikan orang-orang. Aku mengerti. Kita sama-sama mengerti.”
            Justin segera beringsut bangun. Satu jantung lagi akan membuatnya abadi, gumam nya sambil diam-diam meraba pecahan kaca yang tercecer di bawah. Setelah Kurt dan Janie. Joyce hanya butuh satu jantung lagi. Baru saja ada kabar jika ada yang membuka peti mati Janie dan menghancurkan jasad nya. Dada nya menganga lebar memperilhatkan perbuatan kejam yang dilakukan pada nya.
            “Aku juga benci si Kurt itu,” bisik Joyce, nafas nya terasa membakar telinga Niall. “Dia memang brengsek! Malam itu aku bertemu dengan nya sehabis berkencan dengan gadis lain. Hatiku pedih. Tak ada yang bisa kupercaya di dunia ini. Teman, Kekasih semuanya hanya omong kosong! Mereka semua pantas mati!”
            Ariana berlari sekencang yang ia bisa. Ia berbelok di sudut koridor untuk ke gedung drama teater sekolah.
            “Logan!” panggilnya dengan nafas yang masih terengah-engah. Cowok itu menoleh saat sedang serius memperagakan karakter robinhood nya.  “Justin dan Niall membutuhkan mu! Sekarang!”
            “Niall!” panggil Justin berulang kali, tapi sahabatnya itu nampak tak menanggapi panggilan nya. Joyce sepertinya sudah menguasainya. Mereka berdua saling memandang satu sama lain. Perlahan iblis itu pun memajukan wajahnya dan melumat bibir Niall. Justin dapat melihat kuku-kuku tajam yang mulai tumbuh di jari-jari tangan Joyce. Dengan berani Justin berlari ke arah iblis itu untuk menerjang nya dari belakang.
            “Joyce! Lepaskan Niall! Kau dengar aku?!” teriak Justin kesal. Joyce membalikan tubuhnya sesaat sebelum Justin berhasil menyentuhya. Akibat tubrukan Justin yang lumayan cepat, tubuh Joyce rubuh ke belakang. Saat itulah Justin mengangkat kedua tangannya, bersiap menghujam kan pecahan kaca itu tepat di jantungnya. Kedua tangan Joyce membuat perisai, ia menahan kekuatan tangan Justin yang berniat menusuknya. Gadis itu tersenyum saat melihat Justin yang begitu kesusahan saat mencoba melukainya.
            “Harusnya kau memang ku makan terlebih dahulu, Bieber!” katanya geram lalu mendorong Justin dengan seluruh kekuatan nya. Tubuh cowok itu terpelanting kebelakang yang menyebabkan pecahan kaca di tangan nya terlempar.
            Joyce kembali menghampiri Niall. Ia tinggal melakukan satu gerakan lagi untuk mendapatkan jantung nya. Aku harus memancing nya, batin Justin. Ia kembali merayap untuk mengambil senjatanya tadi. Aku harus membuatnya mendekatiku lalu menancapkan ini tepat ke jantungnya.
“Kau benci padaku juga kan?! Kau ingat aku dan Logan pernah mengejek mu saat tahun pertama di sekolah ini? Aku membuat mu menangis! Niall tak pernah melakukan apapun padamu! Jadi kumohon lepaskan dia! Aku juga pantas dihukum!”
            Joyce mendesis marah. Ia mengalihan tatapan nya dari Niall. Membuat cowok itu kembali mendapatkan kesadaran nya. Dalam gerakan sekejap ia sudah beralih di hadapan Justin. Tangan nya yang satu mencengkram tangan kiri Justin yang memegang pecahan kaca itu. Joyce mencekal tangan Justin kuat-kuat sampai kulit tangan Justin sendirilah yang terlukai oleh kaca tajam itu. Gadis itu menyeringai lebar di depan wajahnya. Justin mengerang kesakitan lalu segera melepaskan kaca itu dari genggaman nya saat Joyce melepaskan cekalan tangan nya.
            “Tenang saja Bieber, kau juga akan mati hari ini dan teman mu yang bodoh itu akan menjemputmu sebentar lagi,” kuku tangan Joyce yang sudah tumbuh sangat tajam itu dimain-mainkan dengan cara menggaris-garis kan nya pada dada Justin. Tepat seperti di mimpinya Justin terpojok. Punggung nya yang sudah terasa dingin menyentuh tembok.
            “Maafkan aku Joyce,” kata Justin tiba-tiba. Membuat makhluk itu kembali menatap nya tajam. “Maafkan semua orang yang telah menyakitimu,” sambung Justin, ia sengaja menatap kedua bola mata gadis itu. Tatapan Justin meredup, ia sungguh-sungguh meminta maaf dari dasar lubuk hatinya. Gadis itu seakan terpaku mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Justin. “Terutama maafkan Logan, karena ia sekarang ada dibelakang mu sambil menggenggam tombak besar,”
            Joyce langsung menoleh dan saat itu juga Logan menghujam kan ujung tombak yang runcing itu tepat ke dadanya.
            “Melupakan ku, bitch?” ledek Logan sesaat sebelum membuat benda itu menusuk iblis itu dan merobek jantungnya. Joyce berteriak kesakitan. Ia bergerak liar—tak terkendali. Muncul api dari bagian yang tertusuk itu yang kemudian membakar tubuhnya sendiri. Kulit Joyce yang tadinya terlihat muda mengelupas. Iblis itu terlihat keluar dari tubuh Joyce setelah raungan panjang yang mengerikan. Tinggalah tubuh Joyce yang sudah tak bernyawa tergelatak di lantai lapangan dengan tombak yang masih bersarang di dada kirinya. Justin merosot dari tembok lalu menghela nafas panjang. Logan masih berdiri disana dengan tatapan tak percaya. Sedangkan Niall terduduk lemas tak jauh dari dua sahabatnya yang lain.
            “Haruskah kita berpelukan?” tanya Niall dengan wajah yang masih memucat. Ia memandangi satu persatu wajah teman nya yang juga memutih. “Yeah, kemarilah kawan-kawan, beri sebuah pelukan sebelum orang-orang datang dan mengerubungi kita,” kata Justin lalu membuka kedua tangan nya lebar-lebar. Niall segera bangkit lalu menghambur pada Justin. Logan pun menyusul nya dari belakang. Ariana yang berada di ruang operator pun ikut tersenyum bahagia. Gadis itu berlari ke ruang operator sekolah setelah memberitahu Logan. Ia memang sudah berbagi rencana dengan Justin sebelumnya. Ariana mengaktifkan kamera cctv yang berada di setiap sudut lapangan. Ia merekam semuanya. Berjaga-jaga jika orang-orang menganggap tiga sahabat itu gila dan mendakwanya akibat pembunuhan.
            Tak lama polisi dan para medis datang ke sekolah itu. Mereka awalnya tak percaya dengan apa yang diutarakan Justin dan kawan-kawan nya sebelum akhirnya menonton rekaman tadi. Para medis yang memeriksa mayat Joyce juga mendecak tak percaya setelah mengetahui jika sebenarnya mayat ini sudah lama meninggal dari beberapa minggu yang lalu. Setelah di usut ternyata orang tua Joyce sendirilah yang mengubah anaknya menjadi iblis itu. Mereka terlalu marah dan sedih atas apa yang terjadi pada anak gadisnya. Malam itu saat Joyce sekarat mereka membawanya pulang lalu melakukan kegiatan jahat itu. Perjanjian dengan iblis. Joyce pun kembali kesekolah dengan keadaan yang baik-baik saja ke esokan harinya.
-------------------------
            Ketiga cowok kece itu tengah berdiri berjajar di dekat tempat minuman sambil memandangi pasangan-pasangan lain yang mulai memenuhi lantai dansa. Justin meneguk punch nya lagi. Mengerang sedikit karena rasa minuman hijau itu yang kelewat aneh. Niall bersendawa disebelahnya. Anak itu sudah lebih banyak meminum cairan hijau itu sampai kembung.
            “Kenapa aku sampai lupa acara ini sih,” dengus Logan sebal. Ia kesal karena harus menjadi cowok nganggur di acara pesta sekolah. Gara-gara terlalu sibuk dengan segala macam kejadian kemarin mereka bertiga lupa akan acara ini. Alhasil mereka tak mempunyai pasangan malam ini.
            “Aku tak percaya mereka membiarkan cowok sepertiku menganggur,” Justin terkekeh sendiri. Ia memang sudah berpenampilan semenarik mungkin tapi apa boleh buat, gadis-gadis sudah mempunyai pasangan mereka masing-masing. Ariana sempat tersenyum padanya saat digandeng Luke masuk ke gedung.
            Taylor datang menghampiri ketiga cowok yang berwajah suram tersebut.
            “Niall apakah kau mau menemaniku berdansa?” senyum ramah mengembang di wajahnya. Perkataan nya itu seketika membuat Niall tersedak. Setelah ia melihat Talylor dengan Ashton di koridor, mereka belum berbicara lagi. Justin sudah memberitahunya jika cowok itu hanyalah teman dekat Taylor, sahabatnya itu bahkan sudah memberinya restu jika Niall memang menyukai kakaknya.
            Justin mendorong punggung Niall. Membuat cowok bermata biru itu lebih dekat selangkah dengan kakaknya. Niall menangguk. Mereka berdua pun bergandengan meninggalkan Justin dan Logan. Tinggalah mereka berdua. Logan yang kali ini meneguk punch nya lagi.
            “Hey Logan, bukan kah itu Emma!?” Justin berseru riang saat melihat gadis yang memakai dress merah muda itu. Rambut pirang Emma dikuncir setengah. Sebenarnya Logan sudah terlebih dahulu meihat gadis itu, ia hanya berpura-pura tak melihat saja. Entah kenapa gadis itu seperti batu kripton untuknya. Logan bisa dengan mudah membuat gadis-gadis lain meleleh dihadapan nya, tapi tidak untuk Emma. Gadis itu malah membuatnya lari atau bersembunyi karena kekaguman nya yang berlebihan.
            “Ssstt! Kau tidak pernah puas ya mempermalukan aku!” sergah Logan kesal. Kedua sahabatnya, Niall dan Justin memang sangat menyukai lelucon kegagalan nya waktu mengajak Emma ke pesta sewaktu Junior High.
            Justin terkekeh. “Mengapa kau tak ajak saja dia, sepertinya Emma belum memiliki pasangan. Ayolah! Kau aktor terbaik sekolah! Dia tak mungkin menolakmu lagi kawan! Apalagi setelah ia tahu kalau Justin Bieber adalah sahabatnya,”
            Logan memutar lensa hijau nya jengah. “Sudah cukup lelucon nya Justin,” gerutu nya lalu menginjak kaki sahabatnya. Justin meringis disela tawanya. “Baiklah. Aku serius. Kau harus berbicara padanya! Cobalah sekali lagi Logan!” ia menepuk bahu sahabatnya sambil berlagak serius.
            “Yeah, sepertinya aku harus melakukan nya,” kata Logan ragu. Justin menuangkan satu centong punch lagi ke gelas nya lalu mengambil gelas kosong Logan. “Ini teguk sekali lagi! Kau harus melakukan nya! Jalan kesana, hampiri Emma. Ajak dia dansa. Katakan jika kau telah mencintainya sejak Junior High. Cium dia. Kalian berdua hidup bahagia selamanya.”
            Justin menatap  sahabatnya intens. Logan balas menatapnya lalu mengangguk mantap. Justin benar, batin Logan. Ini mudah. Kau romeo dan Emma adalah Julietmu. Tak ada yang bisa memisahkan kalian selain ramuan sialan yang membuat salah satu diantara kalian meninggal duluan.
            “Baiklah. Terimakasih buddy,” ia merebut gelas yang berisi punch itu dari tangan Justin lal meneguknya sampai habis. Logan berjalan gagah menghapiri Emma. Mereka berdua terlihat mengobrol sesaat. Logan melambai sekilas pada Justin saat ia berhasil mengajak Emma berdansa. Justin hanya tergelak melihat keberhasilan sahabatnya itu. Sekarang tersisa ia sendiri. Menyender pada tembok sambil memegang dua gelas kosong, miliknya dan Logan.
            Pandangan matanya terkunci saat melihat Ariana tengah berdiri kebingungan diatara puluhan murid yang tengah bersenang-senang. Luke tidak ada di sekitarnya. Seringai nakal kembali menghiasi wajah tampan Justin. Ia menyimpan dua gelas nya lalu bergegas menghampiri Ariana.
            “Hai,” sapa Justin ramah.
            “Uh hai Justy, eh maksudku Justin.” Jawabnya gugup karena kaget akan kedatangan Justin yang tiba-tiba.
            “Ayo ikut denganku,” ajak Justin sambil langsung menggandeng tangan Ariana. Justin membawa Ariana menaiki tangga yang berada di sisi gedung. Gadis itu menurut saja sambil berusaha menyesuaikan langakahnya dengan Justin. Mereka berdua akhirnya sampai di balkon atas gedung tersebut. Justin melepas genggaman nya lalu berbalik sambil tersenyum.
            “Disini lebih baik,” kata Justin, rambutnya sedikit terusik saat angin malam berhembus lembut pada mereka. “Aku lebih suka ketenangan,”
            Ariana menjadi salah tingkah. Ia bisa merasakan jantungnya yang mulai berpacu lebih cepat. Justin terlihat begitu mempesona malam ini, seperti biasanya. Ia juga tak henti-hentinya memberi tersenyum padanya, membuat wajah Justin semakin tampan. Cowok itu memajukan tubuhnya, membuat Ariana seketika menahan nafas. “Mari kita berdansa,” ajak Justin lalu perlahan menaruh kedua lengan nya di pinggang mungil Ariana. Gadis itu pun menaruh lengan nya di pundak tegap Justin dengan ragu.
            “Terima kasih atas semua bantuan mu kemarin Ariana,”
            “Oh sama-sama Justy, maksudku Justin. Maaf aku belum terbiasa,” Ariana tersenyum malu, membuat semburat merah di pipinya semakin ketara.
            “Bagaimana jika kau tetap memanggilku Justy dan..aku memanggilmu my cupcake princess? Aku tahu kau suka sekali cupcake,” Justin tersenyum jahil saat menyebut bagian cupcake. Ariana agak tersentak. Ia diam sejenak berusaha mencerna arti dari perkataan Justin.
            “Yeah kau benar aku suka cupcake,” kata Ariana akhirnya “Aku juga menyukaimu,” sambung nya tergagap. Ariana sadar ia pasti sudah sinting saat akhirnya berani mengutarakan perasaan nya. Ia ketakutan setengah mati bagaimana respon Justin tentang perkataan nya yang tadi.
            “Aku juga,” jawab Justin menggantung, membuat jantung Ariana serasa terlonjak keluar “suka cupcake tapi aku pikir aku lebih menyukaimu dari semua cupcake diseluruh dunia,” ia kembali tersenyum lalu mempererat kalungan tangan nya di pinggang Ariana.
            Niall terus berusaha mengikuti gerakan anggun Taylor saat berdansa. Cowok itu menyesal saat tak mau latihan dansa dengan neneknya beberapa minggu yang lalu.
            “Em, Taylor. Bolehkah aku bilang sesuatu,”
            “Yeah tentu saja Niall,”
            “Sejak pertama kali aku melihatmu saat pertama kali kerumah Justin, waktu itu kau sedang mencari beanie mu, turun dari tangga sambil mengenakan blouse belang berwarna hitam-merah. Rambutmu dikun—“
             “Aku juga.” Taylor menimpali sebelum cowok itu menyelesaikan kalimat nya.
            “Hah? Apa?”
            “Aku juga menyukaimu! Ashton hanyalah sahabatku. Dan kau begitu manis Niall! Justin sudah bilang jika kau yeah, menyukaiku,” Taylor tersipu sambil menatap Niall yang tertegun mendadak seperti orang yang terkena serangan jantung.
            Logan masih memandang gadis di hadapan nya dengan tak percaya. Akhirnya ia bisa berdansa dengan gadis pujaan nya, Emma Watson. Ia begitu mengaggumi pesona Emma. Gadis itu begitu cantik malam ini.
            “Kupikir kau marah padaku,” Emma membalas pandangan Logan yang hanya sebentar-sebentar.
            “Marah? Apakah aku punya alasan untuk melakukan nya,” gumam Logan sedikit bingung.
            “Yeah. Semenjak kejadian itu, aku menolak mu saat Junior High. Kau selalu seperti menghindari ku, bahkan tak pernah tersenyum padaku. Aku merasa tak enak padamu tapi sikapmu membuatku sedikit takut. Aku pikir kau marah padaku,”
            “Benarkah? Aku tak menyadari itu. Mungkin itu karena aku.. aku menyukaimu Emma.” Logan merasakan wajahnya memanas. Memalukan sekali memang. Ia bersikap seperti orang idiot di depan gadis yang disukainya. “Aku menyukaimu dari semenjak kita Junior High, kau begitu begitu sempurna sehingga aku takut mendekatimu lagi,”
            Emma malah tertawa. Mungkin ia tak pernah melihat Logan secanggung ini. “Kau tahu Logan, Kau adalah pemain teater favoritku! Aku berniat masuk eskul ini minggu besok, kita akan lebih mendalami peran jika benar-benar berhubungan kan? Kau romeonya dan aku Juliet,”
            Logan tersenyum lalu mencium bibir gadis itu lembut. Mereka berdua tersenyum lalu kembali menikmati hentakan lagu slow itu di lantai dansa. Luke kembali sambil membawa dua cupcake di tangan nya. Ia kebingungan mencari Ariana yang sudah tak ada di tempatnya semula.

And we danced all night to
The best song ever
We knew every line
Now I can't remember
How it goes but I know
That I won't forget her
'Cos we danced all night to
The best song ever
Posted on by Nabila Naomi | No comments

0 komentar:

Posting Komentar