Sabtu, 12 Oktober 2013

The New Girl Chap 5

Part 5 : I think i remember those eyes  (Pra- ENDING)

 “Ayo kita masuk saja! Aku tak suka diluar,” rayu gadis itu sambil mengelus sebelah tangan Justin yang masih memegang kenop pintu.
Tenggorokan nya terasa kering. Sialan. Justin mengumpat dalam hati. Otak nya berfikir keras bagaimana mengatasi Ariana tiruan ini. Gadis itu tersenyum ceria lalu menjulur kan leher ke depan. “Sudah kubilang tak ada yang bisa lolos dariku, Bieber.” Justin dapat merasakan hembusan nafas nya yang sepanas api. Aura Jahat itu mengelilingi mereka, layaknya awan hitam yang menelan bulan.
Kedua lengan Ariana terangkat. Bersiap mencengkram leher Justin. Tubuh cowok itu menegang, mendadak tak bisa digerakan. Mulutnya pun terkatup rapat. Nafas nya mulai tersengal saat kedua tangan gadis itu mencengkram lehernya kuat. Justin terdorong ke belakang, hingga akhirnya menyentuh tembok. Ia terdesak. Tak mampu melawan kekuatan iblis itu yang berjuta kali lipat. Gadis itu mengangkat tubuh Justin lebih tinggi, supaya ia lebih kesusahan bernafas. Tangan Justin menggapai-gapai, berusaha melepaskan cengkraman gadis itu, tapi usahanya sia-sia. Ia akan mati lemas sebentar lagi.
“Justin!”
“Justin! Bangun!”
Justin terkisap bangun. Kedua kelopak mata nya langsung terbuka sepenuhnya. Nafas nya masih memburu. Ia mengusap wajahnya yang sudah basah oleh keringat. Wanita itu menatap putranya yang tengah tertidur di sofa.
“Mom?”
Justin segera memeluk ibunya saat kesadaran nya sudah terkumpul sepenuhnya. Wanita itu balas memeluknya. Orang tuanya ternyata baru saja pulang ke rumah. Justin memang sudah begitu merindukan ibunya. Paginya Justin terlihat lebih segar. Ia memutuskan akan kembali bersekolah hari ini. Kedatangan ibunya tadi malam memang memberi semangat positif terhadapnya. Mereka bertiga sarapan bersama. Taylor lebih sibuk mengotak-atik ponselnya dari pada memasukan makanan ke mulutnya. Setelah selesai sarapan, mereka berdua berangkat. Justin menunggu Logan dan Niall yang akan menjemputnya, sedangkan Taylor ia juga menunggu sesorang. Mobil Justin sendiri masih ditaruh di bengkel karena rusak parah.
Tak lama Justin menunggu, mobil Fire Bird biru itu pun datang. Logan melongok keluar jendela lalu melambai pada sahabatnya itu. Justin pun berlari-lari kecil menghampiri mobil itu. “Akhirnya kapten kita kembali ke sekolah,” ledek Logan saat Justin memasuki mobilnya.
“Diam kau,” dengus Justin seraya membenarkan posisi duduknya.
“Taylor menunggu siapa?” tanya Niall, matanya yang biru memandangi keluar mobil. Akhir-akhir ini hubungan nya dengan Taylor memang semakin baik. Mereka diam-diam sering mengirimi pesan satu sama lain. Niall juga merasa jika ia menyukai Taylor, walaupun ia belum terlalu yakin dengan perasaan nya.
“Aku tidak tahu,” jawab Justin acuh. Logan menekan pedal gas kuat-kuat, mobilnya pun meraung lalu melaju perlahan meninggalkan tempat itu.
“Jadi bagaimana keadaan sekolah saat kutinggal dirumah?” sambungnya cowok yang sudah mengembalika gaya rambut spike nya. Logan menggeleng prihatin. “Tak ada yang menggembirakan sama sekali. Dua murid tewas secara tragis, Kurt dan yang terbaru Jeanie.”
“Hah? Kenapa tak ada satu pun yang memberitahuku kejadian itu sebelumnya?”
Niall berdehem. “Begini, tak ada yang mau kau terkena serangan jantung atau shok berlebihan. Jadi kami sepakat tak mau memberatkan fikiranmu,” Logan tergelak. “Apalagi sehabis serangan gadis yang menyerupai Marrie itu” timpal Logan. Mereka berdua tertawa geli, Justin hanya mencibir sebal. Menurutnya tak ada yang lucu dengan lelucon bodoh tentang nya.
Bel diatas loker berbunyi nyaring. Ketiga cowok itu pun berpisah, masuk ke kelas masing-masing. Ariana tersenyum pada Justin saat cowok itu memasuki kelas. Justin membalas senyuman nya lalu duduk di kursi sebelah. Tadi Justin sempat melihat karangan bunga yang tersender di koridor. Anak-anak yang lain juga sepertinya masih mengingat kejadian tragis tempo kemarin di kolam renang. Guru sastra yang masuk juga hanya membicarakan rasa bela sungkawa sekolah tentang kematian Kurt dan Jeanie dan pidato panjang lebar mengenai acara pesta sekolah yang akan tetap diselenggarakan akhir minggu ini.
 “Aku tahu cara membunuh iblis itu. Cara kuno sih, tapi kuharap berguna.” bisik Ariana pada Justin yang seketika membuat cowok itu mengalihkan lamunan nya. Tangan gadis itu merogoh-rogoh ke dalam tas punggung nya lalu kembali dengan sebuah buku kecil di genggaman nya
Ariana menyodorkan buku itu pada Justin. Kertas buku itu sudah menguning dan rapuh. Justin membaca setiap katanya dengan teliti. Sebagian kata yang tertulis ada yang dicoret dan ditulis ulang oleh tulisan tangan sambung. Tusuk dia tepat di jantungnya, tulisan itu tampaknya sudah di garis bawahi oleh Ariana. “Darimana kau menemukan buku ini?” tanya Justin sambil membuka lembar demi lembar buku itu.
“Aku menemukan nya di bagian terlarang perpustakaan kota. Di rak paling belakang yang sudah berdebu dan tak terurus. Kakek penjaga perpustakaan itu sangat baik saat membantuku menemukan buku ini,”
“Masalahnya kita tidak tahu siapa si Lillith itu,” gumam Justin sambil mengalihkan pandangan nya dari buku itu lalu memandang kesekeliling kelas. Wajah anak-anak gadis itu ditilik nya satu persatu. Nicky, Teressa, Sarah, Cassandra dan Marrie. Tatapan Justin berhenti saat melihat Marrie. Gadis yang ia gilai beberapa minggu kebelakang. Sayang sekali Lillith itu menirukan Marrie, jadi sekarang  Justin agak bergidik setiap kali melihatnya. Marrie tersenyum gugup saat menyadari tatapan Justin. Mungkin ia harus bicara pada gadis itu, simpul Justin. Dan mungkin ia akan mendapatkan petunjuk tentang siapa sebenarnya si Lillith.
“Waktu itu kau benar-benar tak berkencan dengan ku?” Justin mencegat Marrie saat kelas mereka usai. Mereka berdua mengobrol di depan loker gadis itu.
Gadis itu mengangguk. “Ponsel ku tertinggal disekolah. Saluran telfon di rumahku juga belum terpasang waktu itu. Cass juga sedang tak membawa ponsel. Jadi benar-benar aku tak bisa menghubungimu. Aku sungguh menyesalkan kejadian itu Justin,” Marrie mendesah pelan, kepalanya tertunduk lesu. “Malam itu penyakitku juga menadadak kambuh. Aku memang sudah lama sakit. Ke esokan harinya aku tak masuk ke sekolah, sorenya Cassandra datang ke rumahku dan bercerita Logan memberitahunya jika kau kecelakaan. Anehnya Logan bilang kau kecelakaan sehabis berkencan dengan ku,”
Justin menganggukan kepala mengerti. Yeah tak mungkin ia berkencan dengan Marrie. Cassandra sudah cerita jika Marrie mempunyai penyakit kekurangan gula darah yang lumayan parah. Makanya terkadang wajahnya terlihat begitu pucat dan lelah. “Kau tahu di mana kira-kira ponsel mu tertinggal?”
“Sepertinya di gedung olahraga. Aku ingat terakhir kali memainkan nya saat tak sengaja menonton anak cheers latihan.”
Anak cheers. Justin mendapat secuil petunjuk sekarang. Kemungkinan besar anak-anak cheers itu lah yang menemukan ponsel Marrie lalu dengan iseng mengotak-atik benda itu, membaca pesan yang kebetulan Justin kirimkan, lalu membalasnya dengan alamat palsu dengan keuntungan bisa memakan cowok paling tampan di sekolah. Gotcha! Justin berseru dalam hati. Dan dua orang itu, Kurt dan Jeanie. Mereka berdua ada hubungan nya dengan cheerleader. Kurt, kekasihnya Joyce Anderson, si kapten cheers. Sedangkan Jeanie, ia mantan ketua cheers yang sampai sekarang masih aktif ber-cheerleading. Pasti Lillith itu salah satu dari anak cheers. Lillith berasal dari anak gadis yang kembali dibangkitkan oleh kejahatan dan segala macam keburukan, tubuhnya kembali hidup karena dirasuki iblis. Sebagai imbalan nya iblis itu meminta nyawa untuk kemudian di makan jasad nya dan mengurung jiwa orang itu bersamanya di neraka, tulisan di buku tua itu terus berputar di otaknya. Baiklah, sekarang siapa anak cheers yang pernah mati lalu kembali hidup lagi.
Segerombol gadis-gadis melintas di hadapan Justin. Mereka mengobrol sambil sesekali tertawa cekikikan. Mereka semua mengenakan kaos olahraga dan rok pendek berumpak.
“Kebetulan sekali,” batin Justin. Yeah mereka anak-anak cheers yang sepertiny baru saja keluar dari gedung olahraga seusai latihan. Gadis-gadis itu memang terlihat cantik dan ceria. Justin mengamati mereka satu persatu. Aneh, tak ada yang memiliki iris mata biru laut. Lillith mampu menirukan rupa seseorang, tapi ia tak bisa mengubah warna dan bentuk bola mata matanya. Justin ingat betul seperti apa tatapan iblis itu, sedalam dan sedingin lautan. I think i remember those eyes
Niall berpapasan dengan Logan saat keluar kelas. Sahabat nya yang satu itu sudah mulai kembali sibuk dengan drama nya. Ketika Niall mengajak nya berkumpul bersama Justin di kantin, ia menolak dan bilang jika ia harus berlatih untuk pertunjukan musim gugurnya. Cowok berambut pirang platina itupun melanjutkan langkahnya dan beralih mencari Justin. Ia menemukan sahabatnya itu tengah mengobrol serius dengan Marrie beberapa langkah di depan nya.
“Aneh,” fikir Niall. “Kenapa Justin malah mengobrol dengan gadis itu lagi? Apa dugaan Logan benar, jika semua cerita yang diceritakan Justin hanya khayalan nya saja.”
Niall dan Logan sebenarnya memang masih ragu dengan semua cerita Justin. Taylor sendiri bilang jangan terlalu mempercayai apa yang dipaparkan adiknya itu. Lagipula mana ada sih makhluk yang seperti itu di jaman sekarang. Mereka juga orang kulit putih yang tak terlalu percaya hal-hal magis seperti itu. Dokter yang memeriksa Justin bilang ia memang terbentur keras beberapa kali. Selama ini mereka hanya berpura-pura percaya pada Justin supaya ia tak merasa tersinggung. Niall kembali berjalan, menyadari jika kedua sahabatnya tengah sibuk dengan urusan nya sendiri. Lalu terlintas nama Taylor begitu saja di kepalanya, Niall jadi tersenyum sendiri. Dia benar-benar menyukainya. Kemarin mereka sempat mengobrol bersama. Begitu mengasyikan. Niall menceritakan beberapa lelucon kecil yang sanggup membuat gadis itu tertawa lepas. Rasanya sangat nyaman. Dia tak pernah merasakan perasaan yang membuatnya begitu se-senang kemarin.
“Aku akan menemuinya,” simpul Niall mantap. Ia melangkahkan kakinya ke gedung sebelah untuk menemui Taylor di sekitar kelas nya. Ia kembali tersenyum saat membayangkan wajah gadis itu.
Jantung nya masih berdebar. Niall mengatur nafas nya yang terengah-engah. Kemarahan nya langsung tersulut saat melihat gadis nya dipelukan orang lain. Yeah Taylor sedang tertawa bersama Ashton, atlet lari sekolah ini. Cowok itu berambut cokelat gelap, tubuhnya terbentuk sempurna. Ia tinggi dan kelihatan kuat. Entah kenapa Niall tak suka melihatnya, benci. Hatinya terasa ngilu. Dia bahkan langsung membatalkan niat nya untuk berbicara dengan Taylor, dan segera berjalan menjauh tanpa menoleh. Sampai ia tersadar sudah ada di ujung gedung sekolah, dekat dengan gedung olahraga yang biasanya selalu bergemuruh oleh karena banyak nya anak yang sedang berlatih. Tapi gedung itu begitu sepi sekarang, bangunan kokoh itu benar-benar kosong, hampa, seperti suasana hatinya.
            Niall mendorong pintu besar gedung itu. Nyali nya menciut saat membayangkan betapa hebatnya mereka. Atlet-Atlet sekolah. Mereka berlatih setiap hari, mempunyai kharisma yang begitu kuat bagi para gadis. Tak seperti dirinya. Sepatu kets nya berdecit-decit saat melangkah masuk. Tak ada siapapun di dalam. Suasana begitu hening. Niall berdiri disana, di tengah lapangan basket yang terlihat cukup luas.
            “Sakit ya?” sebuah suara menggema ke seluruh gedung. Membuat Niall tersentak kaget. Gadis itu dia atas sana. Menduduki ring basket sambil menghisap lolipop strawberry. Ia tersenyum menyeringai pada Niall yang sekarang sudah menyadari kehadiran nya.
            “Kau sedang apa di atas sana Joyce? Kau bisa jatuh nanti!” kata Niall mengingatkan. Ring basket memang tak terlalu tinggi tapi lumayan berbahaya juga kalau kau terjatuh dari sana. Joyce tertawa kecil. Tubuhnya memang sangat ramping. Wajahnya juga tampak cantik dan ceria seperti para cheer leader lain nya. Rambutnya yang pirang di kuncir kuda, ia masih mengenakan seragam cheers nya.
            “Aku sudah pernah jatuh Horan. Ingat ?” jawabnya mendadak sedih. Joyce langsung terjun dari sana dan mendarat dengan mulus. Ikatan rambutnya terlepas membuat rambut pirang nya menjuntai menutupi wajahnya. Sedetik kemudian sudah ada disamping Niall. “Sebaiknya kau ingat,” bisiknya tepat di telinga. Niall menelan saliva nya, merasakan ada sesuatu yang ganjil.
            “Oh aku tahu! Kau jatuh cinta pada si Marmut itu ya? Taylor Bieber. Kakak dari sahabat mu sendri.” Joyce berkata riang, sambil memutari Niall yang menegang. “Dua saudara itu memang menyebalkan, cih” sambungnya mencibir.
            “Jangan berkata seperti itu mengenai mereka!” sergah Niall kesal.
            “Uh, kenyataan memang pahit sayang,” Joyce berpura meringis, “Aku senang si Biebs itu sekarang gila!” katanya terkekeh.
            “Hentikan berbicara buruk tentang sahabatku Joyce!”
            Gadis itu langsung bergerak cepat ke hadapan Niall. Mata biru mereka bertemu. “Kau bilang sahabat? Benarkah? Mereka hanya memanfaatkan mu, mempermainkanmu, seperti semua orang. Tidak kah kau merasa paling bodoh diantara dua teman populer mu? Paling payah? Paling diremehkan?”
            Niall jadi teringat kata-kata Kurt malam itu. Harusnya ia meninju wajah si Hulk itu sebelum pergi. Atau setidaknya Logan kan bisa membelanya, tapi toh Logan tak melakukan apapun.
            Joyce mendecak dan menggeleng prihatin. “Justin. Semua orang tau dia hebat dalam musik. Logan. si tampan itu, aktor terbaik disekolah, sedangkan Niall? Dia hanya anak kecil yang ‘kebetulan’ terbawa arus,”
            Rahang Niall mengeras. Ia marah sekaligus sedih. Menyadari perkataan Joyce ada benar nya. Anak-anak futbal atau atlet sekolah lainnya sering mengejek nya. Dulu Justin pernah membelanya dan hampir berkelahi tapi sekarang bahkan kedua sahabatnya itu ikut-ikutan meremeh kan nya. Lihat saja selama kegiatan mengerjai para gadis itu, Logan dan Justin tak pernah memberinya kesempatan. Begitu juga dengan Taylor. Gadis itu kemarin sangat dekat dengan nya, apalagi saat Justin kecelakaan, Niall dengan sabar mendengar ocehan ke-khawatiran Taylor malam itu. Ia juga berusaha membantu sebisanya.
            “Semua orang tahu tadinya aku hanyalah gadis cheers biasa, yang tak pernah dilirik. Bayangkan, betapa senang nya saat kau mendapat semua perhatian, menjadi ketua cheers adalah impianku.” Ia berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan dengan nada yang marah dan penuh benci.
“Saat Jeanie sakit, aku bisa mewujudkan mimpi itu. Aku menggantikan nya menjadi ketua cheers sementara. Untuk memimpin pertunjukan di perlombaan antar kota sekali saja. Aku turut sedih saat ia tertimpa musibah. Tapi sekarang, aku bahkan masih belum puas saat membuat remuk kepala si jalang itu”
            “Kecelakaan itu kau—“
Posted on by Nabila Naomi | No comments

0 komentar:

Posting Komentar