Part 4 : Dirty Little Secret
Wajah Justin tampak menerawang. Berusaha mengingat kembali kejadian malam itu. Jika gadis itu itu bukanlah Marrie seperti yang dikatakan Cassandra, pasti ada petunjuk yang menguatkan peryataan itu. Wajah gadis menyeramkan itu memang mirip sekali dengan Marrie. Kecuali matanya. Yeah gadis itu memiliki bola mata biru yang terkesan sedalam lautan, sedangkan Marrie, bola matanya berwarna cokelat terang.
“Gadis itu ‘mungkin’ bukanlah Marrie. Matanya yang biru sewarna dan sedalam lautan, menyimpan kemarahan dan kebencian. Aku dapat merasakan sesuatu yang jahat dibalik tatapan nya yang menohok tajam padaku.” Bayangan gadis itu kembali menghampirinya. Membuatnya sedikit bergidik ngeri mengingat kata-kata terakhirnya, Tak akan ada yang bisa lolos dariku. Sejujurnya semenjak kejadian itu Justin memang merasa ada yang mengawasi, dan perasaan terancam masih menyelimuti hati kecilnya. Aura jahat itu masih bisa ia rasakan malahan semakin kuat.
“Biru ya, tapi bagaimana mungkin ia bisa terlihat serupa dengan Marrie,” Logan bergumam sendiri.
“Mungkin ia bisa bertranformasi, seperti power rangers misalnya” Niall mengomentari sambil mengunyah sebungkus chips yang ia temukan di kamar Justin.
“Ah ya, tentu saja. Tapi bagaimana kau bisa mengetahuinya Niall?” Justin sengaja melempar tatapan curiga pada sahabatnya itu. Disaat seperti ini ia sempat-sempat nya berniat menjahili anak itu. Ia harap Logan juga ikut mengerjai Niall.
“Yeah. Bagaimana kau tahu? Oh ya Justin, kau bisa mengeluarkan aku dari daftar orang yang dicuigai karena mataku berwarna zamrud,” Logan memajukan tubuhnya untuk terlihat lebih serius.
“Aku hanya menebak, itu saja.” Jawab Niall enteng. Ia melirik ke arah dua sahabatnya yang kini tengah menatapnya lekat-lekat. “Apasih yang kalian fikirkan?” sungut Niall tersinggung.
“Sepertinya kau harus berhati-hati buddy, ‘dia’ kelihatan selalu lapar”
Logan mengangguk prihatin. Niall pun memasukan sengenggam chips itu ke mulut Justin secara paksa. “Jangan banyak bicara Justin, kau baru saja sembuh,” kata Niall dengan kesal. Justin tertawa geli sambil mencoba menutup mulutnya dari serangan chips itu. Logan segera menghampiri untuk membantu Justin menyelamatkan diri.
Mereka tertawa dan bertingkah seperti biasa. Membuat lelucon lalu saling menertawakan.
Ariana terperanjat. Ia segera bersembunyi di balik tirai jendelanya saat gadis itu menoleh ke arahnya. Jantungnya berdebar. Ariana tak sengaja melihat orang lain yang tengah mengawasi Justin juga. Gadis itu kelihatan melayang. Aneh dan menakutkan, batin Ariana. Perasaan itu tiba-tiba saja muncul. Semburat oranye yang menghiasi langit sore september membuat bayangan gadis itu nampak samar. Ia tak sempat memerhatikan gadis itu dengan jelas karena sepertinya gadis itu menyadari tatapan nya dan segera menoleh.
Ariana kembali terlonjak kaget saat pintu nya tiba-tiba terdorong terbuka. Sosok wanita yang masih memakai celemek itu menyembul dari balik pintunya.
“Sebaiknya kau bantu aku didapur, pie nya sudah hampir siap,” suruh Ibunya sambil membuka pintu nya makin lebar. “Kau kenapa Ari?” sambung nya saat melihat sisa ketakutan di wajah putrinya.
Ariana menggeleng cepat lalu segera menghampiri ibunya. Ia ingat hari ini akan mengantarkan pie apel kerumah Justin. Senyum nya mengembang, ia memang sangat suka saat ibunya menyuruhnya mengirimkan sesuatu pada tetangga nya yang satu itu. Mereka pun bersama-sama menuruni tangga sambil berbincang.
Tirai jendela Ariana bergerak-gerak. Memperlihatkan seringai-an gadis itu dibaliknya. Tentu saja ia menyadari tatapan gadis dibalik tirai tadi. Sekarang ia tengah mengawasi gadis itu jika ia berani mengintipnya lagi. Jika sempat ia akan langsung melenyapkan nya, karena tak ada yang boleh tau tentang siapa dia sebenarnya. Ariana sungguh beruntung karena tak memeriksa lagi apa yang ada dibalik tirainya.
Pie apel itu sekarang sudah ada dipangkuan nya. Ariana berjalan ke pintu depan rumah nya. Hembusan angin kering langsung menghambur padanya ketika ia membuka pintu. Matahari sudah tenggelam sempurna. Cahaya oranye meredup, hampir berubah menghitam. Rumah Justin berada tak jauh dari rumahnya, karena gedung rumah mereka memang bersampingan. Ariana melangkah keluar dan berlari kecil agar cepat sampai. Gara-gara kejadian tadi ia jadi agak sedikit takut.
Gadis aneh itu masih ada tidak ya, gumam Ariana sambil terus mempercepat langkahnya. Ia mendesah lega saat sampai di depan pintu rumah Justin. Mobil Logan sudah tak terlihat terparkir di halaman Justin, kemungkinan dia sudah pulang sekarang. Ariana mengetuk pintu tak sabar. Suasana diluar begitu sepi dan semakin gelap. Entah kenapa ia merasa tak nyaman. Ia kembali mengetuk pintu rumah Justin lebih kencang. Mata nya yang berwarna cokelat gelap menangkap sesuatu yang aneh di sebrang jalan. Ia melihat seseorang tengah duduk di atas pohon besar. Itu gadis yang tadi ia lihat. Sekonyong-konyong ia menjatuhkan dirinya ke bawah. Membuat Ariana memekik tertahan. Ia seakan dapat mendengar retakan tulang gadis itu. Gadis itu bangun lalu tersenyum ke arahnya. Senyum menakutkan. Perlahan ia melangkah ke arahnya dengan gerakan patah-patah.
Tenggorokan nya terasa tercekik. Ariana seperti membeku tak bisa melakukan apa-apa saat melihat sosok itu mendekat padanya.
“Hey kau kenapa? Ariana!” Justin mencoba menyadarkan Ariana yang memandang ke arah sebrang tanpa berkedip dan bergerak. Ia pun menggoncangkan tubuh gadis itu pelan. Membuat gadis itu tersentak, dan kembali bernafas.
“Ada apa Ariana?” ulang Justin sambil mengikuti arah pandangan gadis itu tadi. Justin jelas dapat melihat wajah Ariana yang memucat, ia pun segera mempersilahkan gadis itu masuk.
Ariana meneguk segelas air itu sampai setengah. Ia merasa lebih baik sekarang. Justin tengah menatapnya khawatir, karena ia belum sanggup bicara sepatah kata pun. “Ini aku bawakan pie apel untukmu Justy,” Ariana akhirnya sanggup membuka mulutnya yang terasa terkunci. Ia menyodorkan bungkusan yang sedari tadi dipangkuan nya.
“Ah ya, Thanks. Begini, aku penasaran dengan apa yang kau lihat diluar tadi, jujur saja kau kelihatan begitu ketakutan.”
Ariana menelan salivanya. Mencoba mengontrol dirinya yang ketakutan setengah mati. “Itu, aku rasa, hanya ilusi ku saja. Aku memang terlalu banyak menonton film horor akhir-akhir ini. Dan itu membuatku ketakutan sendiri, bodoh memang.”
Justin mengangguk mengerti walaupun sebenarnya ragu dengan pengakuan Ariana. Ia membuka bungkusan Pie itu lalu tersenyum lebar. Aroma pie nya tercium sangat menggiurkan. “Wow, ibumu memang pandai membuat kue! Aku sudah lama sekali tak memakan ini,” Mata hazel nya berbinar senang.
Justin meringis kesakitan saat kakinya yang terbalut perban terantuk kaki meja. Seharusnya ia memang tak boleh banyak berjalan-jalan selama seminggu ini. Ariana segera membantunya. Ia pun memapah Justin ke ruang perapian. Jantungnya kembali berdebar, bukan karena takut, tapi ia belum pernah sedekat ini dengan Justin sebelumnya.
“Em, mana Taylor?” tanya Ariana supaya keliahatan normal, hanya pertanyaan itu saja yanga ada di kepala nya setiap ia datang ke rumah Justin. Mungkin akibat terlalu gugup.
Justin mendesah. “Kenapa sih kau selalu menanyakan dia setiap datang kemari? Kau tak peduli padaku yang sehabis kecelakaan?” keluh Justin sambil membenarkan posisi kakinya.
“Bukan. Bukan seperti itu, aku khawatir sekali padamu saat mendengar kabar itu. Aku sungguh senang kau baik-baik saja,” seberendel kata-kata meluncur dari mulut mungil Ariana. Awalnya ia tak berani mengucapkan nya, dan akibat pengakuannya itu, Ari semakin gugup. Gadis itu dapat merasakan wajahnya yang memanas. Dia berharap Justin tak menyadari perubahan sikapnya.
Cowok itu tersenyum. Senang ternyata Ariana masih peduli padanya. Mereka duduk di sofa yang bersebrangan dan terhalang oleh sebuah laptop yang sedang Justin mainkan. Ia memang sedang mencari sesuatu tentang makhluk aneh yang menyerangnya itu di internet. Di beberapa film pencarian internet sangat membantu biasanya.
“Li..Li..” Justin terbata saat mencoba membaca tulisan kecil di layar laptop nya.
“Lillith?” Ariana menebak apa yang mau diucapkan Justin.
“Yeah. Lillith!”
Di blog itu tertulis tentang makhluk yang bernama Lilliith. Iblis cantik yang menyeramkan, kutipnya dengan font yang di tebalkan. Justin mengernyit.
“Kau suka misteri juga ya?” tanya Ariana. Justin memutar bola mata padanya. “Tidak. Aku hanya ingin tahu saja,” ia kembali membaca tulisan itu. Lillith adalah makhluk cantik yang memangsa para pria untuk kelangsungan hidupnya. Awalnya Lillith berasal dari seorang gadis biasa tapi kemudian berubah menjadi iblis saat dibangkitkan kembali. Mata Justin berhenti saat menyadari tulisan itu sudah habis.
“Sedikit sekali,” batin Justin kecewa. Padahal ia sudah sangat antusias saat mendapat artikel yang cocok. “Kenapa kau bisa menebak Lillith? Apa kau tahu sesuatu tentang makhluk itu?” Justin kembali mengarahkan pandangan nya pada Ariana yang sedari tadi hanya diam sambi memandanginya.
“Aku pernah membaca ceritanya dulu, di sebuah buku mitologi tua.”
“Bisakah kau menceritakan tentang makhluk itu padaku, bagian yang kau ingat saja.” Justin menatap penuh harap padanya sambil tersenyum.
Ariana menekan bibirnya kedalam. Sebenarnya ia bisa saja bercerita secara lancar jika bukan dengan Justin. Cowok itu begitu mempesona di matanya. Dan selalu membuat nya gugup dan salah tingkah.
“Makhluk itu adalah iblis yang cantik. Makhluk itu berasal dari gadis yang dibangkitkan kembali. Karena ia punya rasa emosi yang kuat, seperti kemarahan, kebencian ia berubah menjadi makhluk yang jahat. Biasanya ia akan mencari mangsa seorang lelaki untuk bertahan hidup. Membuat nya kembali cantik. Dia bisa menirukan rupa seseorang, membuat dirinya sangat mirip bahkan sama persis kecuali...”
Ariana mengggit bibirnya. Justin memasang wajah serius, ia mendengarkan cerita Ariana dengan seksama. “Selebihnya aku lupa, maaf Justy,” sambung Ariana akhirnya.
“Kecuali matanya bukan?” ucap Justin penuh keyakinan.
“Yeah benar. Aku ingat sekarang. Matanya tak akan berubah, misalnya ia bermata..”
“Biru.” Justin menyarakan. Ia begitu yakin sekarang kalau Lillith adalah makhluk yang menyerangnya.
“Matanya biru, baiklah. Saat dia menirukan aku, mataku berubah menjadi biru. Makhuk itu akan mengejarmu sampai dapat jika kau berhasil lolos darinya. Karena yang paling ia takutkan adalah ada yang mengetahui siapa dia sebenarnya. Ia akan memberimu tanda, seperti luka atau gigitan supaya ia bisa dengan mudah mengetahui keberadaan mu”
“Dan pakah kau percaya makhluk itu benar-benar ada?” tanya Justin. Ia merebahkan tubuhnya ke sofa lalu memandang ke langit-langit.
“Entahlah,” jawab Ariana ragu. Justin menegakan kembali posisi duduknya. Ia menatap Ariana lekat-lekat lalu menyisingkan kaos nya dan perlahan membuka balutan perban nya.
“Oh!” pekik Ariana tertahan. Justin ditandai makhluk itu.
Malam ini Ariana benar-benar tak bisa memejamkan matanya. Sehabis dari rumah Justin ia tak bisa tenang apalagi mengingat ia melihat seseorang yang mengawasi Justin. Tirainya berkibar-kibar. Rupanya Ariana lupa mengunci jendela nya. Ia beranjak dari ranjangnya lalu melangkah ke dekat jendela. Sebelum mengunci jendelanya ia sempat melihat ke sebrang kamar Justin yang sudah tertutup rapat. “Selamat malam Justin,” batin nya lalu mengunci dan menutup tirainya juga.
Suara riak air saling bersahut-sahutan. Setelah tiupan peluit, dalam satu hitungan para gadis itu menjatuhkan diri ke air lalu berenang ke sisi kolam renang secepat mungkin. Logan mengelap wajahnya dengan handuk. Cowok itu tengah beristirahat setelah berenang mengitari kolam. Ia memang butuh kegiatan yang seperti ini setelah seminggu dipenuhi keletihan. Badan dan fikiran nya terasa lebih segar.
Jeanie, gadis itu sedang tertawa-tawa saat memanjat tiang untuk nantinya melompat ke kolam renang dari papan diatas sana. Ia salah satu pemain regu cheerleader, mantan ketua regu itu. Gadis itu memang sangat berani, ia juga kebetulan mempunyai keahlian meloncat indah. Tubuhnya yang ramping memang terlihat anggun saat melakukan nya.
Jeanie sudah sampai di atas papan itu. Gadis itu meregangkan tangan tubuhnya terlebih dahulu lalu mengambil ancang-ancang untuk melompat. Tatapan tajam itu menohok padanya. Gadis itu merasakan keanehan. Ia mengedarkan pandangan ke orang-orang dibawahnya. Jeanie mengusap tengkuknya. Saat gadis itu bersiap melompat, pijakan nya tergelincir sedikit. Membuatnya limbung dan kehilangan keseimbangan. Jeanie pun terjun terjatuh dari atas sana dengan posisi tidak benar. Ia terjatuh ke dalam air diikuti suara deburan yang kencang.
“Aaaaaaaaaaaaaaa!!!” teriak gadis-gadis itu sambil membelalak ngeri. Air kolam renang itu seketika berubah semerah darah. Kepala Jeanie jatuh duluan dan terbentur lantai kolam renang. Mereka berhamburan keluar dari kolam. Ariana yang merupakan salah satu dari beberapa gadis yang berada di kolam itu segera naik ke pinggir kolam. Hanya tinggal satu gadis di kolam itu. Ia masih tetap saja berenang di air yang bercampur darah tersebut.
Joyce Anderson mengangkat kepalanya dari air. Tubuh Jeaine pun mengambang disebelahnya. Gadis itu pun menjerit ketakutan.
Logan berada di kerubunan anak-anak yang berusaha mengintip apa yang dilakukan para medis yang datang kesekolahnya. Mereka bilang Jeanie tewas akibat benturan di kepala yang membuat tengkorak nya remuk. Kejadian tadi memang begitu menyeramkan. Ariana duduk berbaris sambil memegangi lutunya yang gemetaran. Mereka ditanyai sebentar oleh para medis itu untuk mengetahui kejadian nya sebenarnya terjadi.
“Kalau ada dua pasti ada tiga,” gumam Sarah, gadis kulit hitam yang duduk disebelahnya. Wajahnya kelihatan sama shoknya dengan Ariana an gadis-gadis lain. “Apa maksudmu Sarah?” Ariana merasa bergidik mendengar ocehan teman nya itu. Sarah menoleh ke arahnya. Mata hitam nya yang pekat menyimpan ketakutan. “Kau pasti tau kan pribahasa itu. Kalau ada dua pasti ada tiga. Ini belum berakhir, sekolah kita dikutuk!”
Pemakaman Kurt Federick dilangsungkan besok dan sekarang sudah ada lagi yang meninggal.
Apakah semua ini ada sangkut pautnya dengan kecelakaan Justin. Makhluk yang beranama Lillith itukah pelakunya? Tapi Jeanie kan perempuan bukan lelaki. Pasti ada sesuatu yang bisa menghubungkan ini semua, simpul Ariana.
Malam ini Justin kembali sendirian dirumah karena Taylor harus mengikuti les vokal nya, sedangkan kedua orang tuanya belum pulang dari luar kota. Kedua sahabatnya, Logan dan Niall sedang sibuk. Logan harus berlatih untuk pementasan drama nya sedangkan Niall ada acara bersama keluarganya. Justin melempar stick X-Box nya. Kebosanan setengah mati. Ia membuka tirainya sedikit. Ariana kelihatan sedang serius membaca di kamar sebrang.
Seseorang terdengar mengetuk pintu rumahnya. Justin beringsut antusias. Kaki nya sudah mulai normal sekarang, mungkin akibat nya Justin tak bisa diam kakinya cepat sembuh. Cowok itu berjalan secepat yang ia bisa untuk segera membukakan pintu.
Pintu nya terbuka. Ariana terlihat dibalik pintu, tersenyum padanya. Justin juga membalas tersenyum.
“Bolehkah aku masuk Justin?” pintanya ceria.
Deg.
Satu. Setahu Justin, Ariana selalu memanggilnya Justy.
Dua. Dia baru saja melihat Ariana sedang membaca buku dikamarnya.
Tiga. Jika Ariana pernah bilang misalnya ‘matanya biru’ dan sekarang ia tengah berhadapan dengan Ariana yang bermata biru.
“Ayo kita masuk saja! Aku tak suka diluar,” rayu gadis itu sambil mengelus sebelah tangan Justin yang masih memegang kenop pintu.
To Be Continued~
Sabtu, 12 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar