Sabtu, 12 Oktober 2013

The New Girl Chap 3

Part 3 : The Lucky One
“Hati-hatilah sedikit Logan. Kau tak mau kita berdua yang celakan kan,” Niall menyarankan, ia tahu Logan memang yang paling sigap diantara mereka bertiga. Ia juga yang paling dewasa dan bertanggung jawab. Ponsel Niall bergetar. Layar ponsel itu menyala terang di tengah suasana tengah malam yang tengah mereka lalui.
            Taylor. Nama itu seketika membuat Niall menelan ludahnya sebelum menjawab.
            “Hallo?” suara gadis disebrang itu terdengar khawatir.
            “Yeah. Tay?”
            “Niall! Apakah kau bersama Justin? Dia belum pulang ke rumah. Aku tahu dia memang suka kelayapan, tapi dia tak mengangkat telfon ku.”
            “Em, begini. Aku tak sedang bersamanya,”
            “Oh ya tuhan! Kau tahu dimana dia?” suara Taylor terdengar bergetar dan semain panik.
            Niall mendesah. Merasa tak enak. “Aku dan Logan sekarang sedang menyusulnya ke tempat yang sepertinya ia datangi. Kau tenang saja dulu,”
            “Syukurlah kalau begitu. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu oke? Aku harap anak itu tak membuat masalah. Bye Niall, Thanks.”
            Logan menyusuri jalanan dengan hati-hati berharap bertemu dengan sahabatnya. Alih-alih bertemu Justin, Logan malah melihat Kurt Sullivan. Si kapten Futbal. Kap mobil depan nya menganga lebar. Ia kelihatan sedang sibuk membenarkan mesin mobilnya. Mobil Logan menepi, berniat bertanya sesuatu tentang arah ke Rodeo Drive.
            Klakson nya berbunyi. Mengalihakan perhatian Kurt yang tadi begitu serius mengotal-atik mobilnya. Cowok berbadan besar itu menoleh. Logan menyembul. Tersenyum sekilas untuk menyapa.
            “Aku tak menyangka kalian masih berkeliaran jam segini,” Kurt menggoda sekaligus mengejek. Senyum nya yang kelewat lebar terlihat menyebalkan. “Si Baby Horan! Seharusnya kau sedang bermimpi indah di pelukan ibumu kan,” panggil nya kegelian saat menyadari kehadiran Niall.
            Memang ada sedikit perselisihan antara kaum cowok populer atlet dan bukan atlet disekolah mereka. Satu sama lain menganggap diri mereka paling hebat. Mereka sering bersaing mendapatkan perhatian para gadis disekolah.
            Niall mendecak. Merasa kesal melihat sikap Kurt yang terkesan melecehkan nya. Logan tetap dengan sikap kalem nya, ia tak peduli di Kurt mau bilang apa, yang jelas si HULK itu mau memberi tahu kemana arah tujuan nya.
            “Kau tahu kemana arah Rodeo Drive?”
            Si Kurt berpura-pura berfikir keras. “Yeah. Ikuti saja jalan ini lalu berbelok ke kiri di pertigaan”
            “Thanks.” Logan pun kembali menjalankan mobilnya.
            “Heh hati-hati kudengar disana ada monster yang menyeramkan! Yang suka makan anak-anak kecil seperti kalian! Huuuuu....” teriak cowok itu sambil tertawa puas--mencoba menakut-nakuti Logan dan Niall. Wajahnya memerah karena menahan geli. Setelah puas tertawa, Kurt kembali membenarkan mobilnya yang bermasalah. Ia terkekeh sekali-kali jika mengingat kejadian tadi.
            Dari kejauhan ia melihat seorang gadis berjalan sendiri.
            “Hey Baby! Butuh tumpangan?” ajak nya sambil tersenyum lebar.
            Kepalanya terasa begitu berat. Justin merangkak keluar dari mobilnya yang sekarang dalam keadaan terbalik. Ia tak henti-hentinya mengumpat saat kesusahan mengeluarkan kaki kirinya yang tersangkut.
            “Woho! Malam yang gila!” seru Justin tak karuan. Setelah berhasil keluar dari mobilnya yang terbalik. Justin terkapar tak jauh dari bangkai mobilnya. Ia berusaha mengembalikan semua kesadaran dan roh nya yang tadi sempat tercecer kemana-mana. Sekujur tubuh nya terasa ngilu dan nyeri.
            “Aku masih utuh. Hanya patah kaki kurasa,” gumam nya sambil menatap langit malam. Ini memang bukan yang terburuk, Justin pernah mematahkan tangan dan merontokan giginya saat masih kecil, gara-gara bermain skateboard. Ibu dan kakaknya sampai histeris saat mendapati Justin dalam keadaaan seperti itu.
            Pria gempal bertopi jerami itu melangkah mendekatinya. Dialah si supir mobil yang tadi hampir menabrak Justin.
            “Kau tidak apa-apa nak? Aku benar-benar minta maaf! Aku berjanji akan bertanggung jawab” ucapnya penuh penyesalan, dan beraksen latin. Justin mengangkat kepala nya sebentar, supaya dapat melihat jelas wajah si pria itu. Wajahnya lebar, dengan sedikit kumis tipis di kulitnya yang cokelat. Oh jangan orang latin lagi, dengus Justin. Aku benci mereka, sungguh. Kepalanya di hempaskan kembali.
            “Baiklah tuan. Begini saja, tolong antarkan aku kerumah ku sekarang dan aku tak akan menuntutmu.” Katanya jengah. Aku hanya perlu pulang. Yeah. Memeluk Taylor dan minum seteguk air.
            Bel pintu berdenting. Taylor segera beranjak dari sofa lalu berlari untuk membukanya. Berharap sekali bahwa itu kedatangan adiknya.
            “Justy! Oh Tuhan! Kau! Apa yang terjadi?” pekik Taylor panik melihat adiknya dirangkul seseorang dan luka-luka.
            Justin begitu lega saat sampai dirumah. Akhirnya. Ia hampir gila tadi. Berkencan dengan gadis aneh dan terguling dua kali bersama mobilnya. Sekarang Taylor tengah memandanginya prihatin sambil mencoba mengobati lukanya. Mata birunya berkaca-kaca, tak sanggup melihat keadaan Justin yang kelihatan menyedihkan.
            “Aku tidak apa-apa.” Justin kembali menyakinkan kakaknya sambil meringis sesekali.
            “Ada luka diseluruh tubuhmu! Kau ini sebenarnya berbuat apa sih?”
            “Sudah kubilang. Aku kecelakaan saat pulang berkencan. Itu saja,”
            “Tapi kenapa Logan dan Niall tak mengetahui keberadaan mu? Katakan yang sejujurnya Justy.” Taylor mengganti kapas yang sudah berlumuran darah tersebut. Ia menatap kedua bola mata hazel adiknya lekat-lekat.
            Justin berdehem. “Memangnya dua orang bodoh itu selalu tahu kemana aku pergi apa?”
            Taylor memukul kepala adiknya itu dengan kesal. “Kau yang bodoh!” Ia pun meloyor meninggalkan Justin untuk mengambil cairan antiseptik.
            Sekarang sudah hampir pagi, sekitar jam 4. Taylor bilang akan mengantarnya ke rumah sakit hari ini untuk memeriksakan keadaan nya. Kabar baiknya, ternyata kaki Justin tidak patah, cuma terkilir dan hanya terdapat memar dan luka-luka kecil ditubuhnya. Yang paling sakit si luka cakaran di dada nya akibat gadis aneh itu. Justin bergidik saat mengingat wajah gadis itu. Menyeramkan. Walaupun masih sedikit cantik. Sedikit sekali, ia menekankan pada diri sendiri. Sudah lah ia sudah cukup lelah memikirkan malam itu.
            Justin merebahkan kepala nya ke sofa. Rasanya benar-benar nyaman dirumah. Perlahan ia pun memejamkan matanya yang sudah sayu. Ini semua sudah berakhir, batinya. Yeah, aku beruntung. Sangat beruntung. Terima kasih.
Tapi benarkah sudah berakhir?
Niall mendengkur pelan. Ia tengah tertidur di kelas sejarahnya. Tadi malam memang malam yang berat untuknya. Dia dan Logan berkendara mencari Justin sampai jam 3 pagi. Matanya sudah sangat berat, ia pulang kerumah dan langsung ketiduran. Rasanya baru saja memejamkan mata, jam weker nya berbunyi. Ia harus segera kesekolah.
            “Niall!” panggil Zayn, teman yang duduk di kursi sebelah.
            Cowok berparas pakistan itu mengebrak meja Niall. “Hey! Sudah bel! Pelajaran sudah usai,”
            Niall tersentak kaget, matanya terbuka sekaligus. Zayn benar, kelas sudah sepi. Pelajaran sejarah memang membuatnya merasa dibacakan dongeng. Niall pun menyeret kakinya keluar kelas. Di kantin ia pun bertemu dengan Logan. Mereka duduk satu meja. Tatapan mereka sama-sama lusuh. Kurang tidur ternyata memang mengurangi ketampanan mereka. Misi tadi malam benar-benar gagal. Apalagi Taylor sudah mengabarkan kalau Justin kecelakaan. Malam yang buruk, desah Logan. Mereka bersyukur sahabatnya tidak luka berat.
            Obrolan gadis-gadis di meja sebelah terdengar sayup-sayup. Logan tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Ia terjaga sepenuhnya saat mendengar kata-kata jika si HULK (Kurt) ditemukan polisi pagi tadi, dalam keadaan meninggal di dekat Forest Park. Tempat dimana mereka bertemu Kurt saat menanyakan jalan.
            “Hey! Gladise, maaf tapi apakah aku tak salah dengar, Hulk tewas?” Logan penasaran, dan memanggil salah satu gadis yan tengah bergosip itu. Gadis kulit hitam itu menggangguk. “Yeah, Romeo. Mereka menemukan Kurt dalam keadaan yang mengenaskan tadi pagi, sekitar jam 8.” Destiny, sahabat Gladise menimpali, “Mereka bilang ia kemungkinan diserang makhluk buas! Perut nya terkoyak!”
            Joyce, si kapten Cheers itu lewat. Ia mengenakan seragam regu Cheers yang berwarna merah-putih. Kehadiran nya sontak membuat gadis-gadis itu menghentikan membicarakan Kurt yang malang. Joyce adalah pacar Kurt, mereka adalah pasangan yang terkenal karena keduanya anak populer. Dilihat dari tatapan matanya yang menyimpan kesedihan mendalam, Logan menebak ia sudah tahu kejadian yang menimpa kekasihnya.
            “Aku tak menyangka mereka sanggup menjadikan nya berita hangat di pagi hari, menyedihkan.” Joyce tersenyum getir. Sengaja menyindir gadis-gadis itu. Logan merasa tak enak, ia lalu mengundang Joyce untuk duduk dulu bersama nya.
            “Kami turut berduka, Joyce.” Ucap Logan menguatkan. Yeah walaupun si Kurt menyebalkan tapi ia tak pantas mati seperti itu, terlalu keji. Gadis pirang itu mengangguk pelan. Matanya yang sebiru lautan terlihat basah. “Terima kasih. Bagaimana keadaan teman kalian si Biebs?” tanya nya mencoba tersenyum. Terkesan dipaksakan sih. Mungkin ia tak suka membicarakan kekasihnya yang akan membuatnya semakin sedih.
            “Dia.. Justin juga mengalami musibah, tadi malam ia kecelakaan,” cerita Logan sambil memijat pelipisnya.
            “Benarkah? Aku harap dia baik-baik saja.” tanggap nya dengan nada yang tenang.
            “Yeah. Thanks, Kami juga berharap seperti itu” jawab Logan se mampunya. Ia begitu mengantuk kali ini.
            “Auw!” Joyce meringis saat teman cheers nya menepuk pundaknya. Nama gadis itu Natalie, ia pun mengajak Joyce mengikutinya ke gedung olahraga untuk latihan. Gadis itu pun pamit seraya tersenyum.
            Berita Kurt benar-benar menyita perhatian. Semua anak membicarkan nya, tak ada yang membicarakan kecelakaan Justin. Mungkin kasus Kurt lebih mengerikan. Bayangkan saja cowok berbadan besar itu, yang biasanya menghadang lawan dengan tegap sambil berlari terus memeluk bola sekarang mati dengan keadaan sepert itu. Kurt begitu kuat. Ia beberapa kali memenangkan perlombaan futbal antar sekolah. Pasangan nya, Joyce juga pernah mengalami sesuatu yang mengerikan. Satu bulan yang lalu, gadis itu terjatuh saat berlatih cheer leader. Leher nya patah, kepala nya terbentur keras. Para medis bahkan sampai masuk kesekolah. Mereka hampir saja tak sanggup menyelamatkan nya. Ia sekarat selama beberapa hari. Sampai suatu saat orang tuanya membawa nya pergi diam-diam dari rumah sakit. Tak lama setelah itu, Joyce mengangetkan semua orang, ia kembali kesekolah dengan keadaan begitu sehat. Seperti tak pernah ada yang terjadi padanya.
            Sore nya, Logan dan Niall berniat kerumah Justin. Tentu saja sahabatnya itu sudah cerewet saat meminta mereka cepat datang. Katanya ada sesuatu yang penting. Mereka berdua terlihat lebih segar setelah sengaja tidur di perpustakaan. Dua cowok itu membolos dua kelas mereka masing-masing. Sebelum ke rumah Justin, Logan sempat ke super market untuk membei satu wadah besar es krim rasa cotton candy kesukaan Justin. Sudah kebiasaan nya jika sakit selalu minta dibelikan makanan itu.
            Logan membanting pintu mobilnya sampai tertutup, begitu juga Niall. Taylor pun langsung mempersilahkan mereka berdua masuk.
            “Tak ada yang aneh darinya?” bisik Niall pada Taylor.
            “Ada sedikit. Ia bermimpi buruk sekali, saat tertidur waktu pulang dari malam itu. Sepulang dari rumah sakit ia terus menatap langit-langit dan menutup rapat semua jendelanya. Ia juga cuma mau makan es krim itu sampai dua wadah besar.”
            “Dia bilang apa tentang kejadian tadi malam?” Logan ikutan berbisik-bisik saat mereka menaiki tangga bersama-sama.
            Taylor menggeleng. “Ia tak berbicara banyak. Malah jadi sedikit pendiam, tapi aku yakin ia mau bercerita pada kalian. Aku tahu ada yang disembunyikan nya,”
            “Hey kalian bertiga! Berhenti membicarakanku di depan pintuku seperti itu! Cepat masuk!” teriak Justin tak sabar dari dalam kamarnya. Mereka bertiga terkekeh pelan. Saking seriusnya mereka bertiga tak sadar sudah sampai di lantai dua, di depan kamar Justin dan masih berbisik membicarakan nya.
            Niall lebih dulu masuk. Ia memandangi sahabatnya yang sedang duduk di atas ranjangnya sambi menggenggam stick x-box. Kaki kiri Justin dibungkus perban. Wajahnya di tempeli beberapa plester karena terluka.
            “Apa?” tanya Justin datar.
            Niall menggeleng pelan lalu memicing curiga. Tangan nya menahan Logan yang berniat menyusul langkahnya.
            “Kau kenapa sih Niall? Mana ice cream ku?”
            “Aku akan menanyai mu beberapa pertanyaan, kau harus menjawab nya dengan cepat! Untuk sekedar memastikan kau adalah Justin sahabat kami.” suruh Niall serius. Sebelum Justin mengoceh protes Niall sudah membacakan pertanyaan nya. “Siapa cewek yang menolak Logan saat dia mengajaknya ke prom waktu smp?”
            Logan menoleh pada Niall, wajahnya seketika memerah. Justin tergagap. “Ak-Aku lupa! Untuk apa sih kau—“
            “Waktumu tinggal 3 detik!” tukas Niall.
            “Tunggu! Emma! Yeah namanya itu!” seru Justin terburu-buru.
            “Nama panjang Tuan Bieber,”
            “Emma.. Charlotte..” Justin menimang-nimang kata-kata yang meluncur dari mulutnya.
            “6..5..4..” Niall menghitung mundur tanpa belas kasihan.
            “Watson! Emma Charlotte Watson!” teriak Justin setelah berfikir keras.
            “Bagaimana Logan?” tanya Niall pada Logan yang sedari tadi salah tingkah. Logan hanya mendesah pelan, “Tepat sekali.”
            Cowok pirang itu langsung berlari ke ranjang Justin. Menghambur untuk memeluk sahabatnya.
Setelah cukup berbasa-basi. Justin mulai membuka mulutnya tentang kejadian gila tadi malam. Semua kejadian yang ia alami diceritakan mendetail dan berurut. Justin memang senang sekali bercerita.
            “Kau yakin?” tanya Logan yang merasa sahabatnya tengah meracau.
            “Tentu saja! Aku bisa memperlihatkan cakaran dia yang hampir merobek perutku!” Justin menyisingkan t-shirt nya. Memang ada luka disana tapi tertutup perban. Saat Justin akan membuka perban nya, Logan menyegahnya. “Jangan kau buka, tak perlu.”
            “Kau yakin tak ada yang salah dengan kepalamu,” tanggap Niall sambil memeluk wadah es krim yang tadi mereka bawa.
            “Maksud mu?” dengus Justin.
            “Yeah. Kau terguling dua kali kan?”
            “Kalian tak percaya padaku? Kalian pikir aku ini sinting begitu?” ucap Justin tersinggung. Sejenak suasana mendadak hening. Mereka semua sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
            “Tapi itu tak mungkin! Tadi aku bertemu Cassandra, gadis yang kupikir paling dekat dengan Marrie. Aku bertanya padanya, kenapa Marrie tak masuk hari ini..” cerita perlahan Logan, menatap serius kedua sahabatnya secara bergantian.
            “Lalu apa? Kenapa dia tak masuk?” tanya Niall tak sabar. Justin merasakan kepala nya mendadak pening dengan perkataan Logan yang misterius, dan mendadak membuat Jantungnya berdebar.
            “Dia sakit. Dan tadi malam Cassandra menemani Marrie dirumah nya.” Logan menatap Justin lekat-lekat, “Cass menemani Marrie semalaman. Ponsel Marrie tertinggal di gedung olahraga, jadi ia tak bisa memberitahumu masalah kencan itu. Ia tak berkencan dengan mu tadi malam Justin. Tak pernah.”
            Niall dan Justin sama-sama ternganga. Wajah mereka dipenuhi tanda tanya.
            “Ah! Tidak mungkin! Aku benar-benar bertemu dia!” Justin berteriak frustasi. “Kami bahkan sempat berciuman. Tapi dia menggingit lidahku!” sambungnya sambil menjulurkan lidahnya, untuk memperlihatkan lukanya.
            “Aku butuh makanan! Makanan! Kalau tidak aku bisa gila!” Niall ikut-ikutan berteriak sambil sibuk mencari apapun yang bisa dimakan nya.
            “Jadi  siapa yang aku kencani?!” tanya Justin pada kedua sahabatnya dan dirinya sendiri. “Eh, tunggu..” sambung Justin seperti mendapat secercah ide.
TO BE CONTINUED~
Posted on by Nabila Naomi | No comments

0 komentar:

Posting Komentar