The New Girls!
Genre : Horor, Scholl, Teen, Thriller
Cast : Justin Drew Bieber
Niall James Horran
Logan Wade Lerman
Ariana Grande Butera
Taylor Allison Swift
Lucy Hale
Author : Nabila. N
Sorry for bad words, typos, ke gaje-an dan ke absrud-an nya. Saya bukan author yang handal, hanyalah amatiran. Masih mencoba belajar dan memperbaiki setiap saat :) Hope you like it!
Part 2 : Aren't you somethin' to admire ?
“Baiklah.” Jawabnya singkat seraya tersenyum. Pipinya yang berisi naik saat ia tersenyum. Menggemaskan sekali. Rambutnya bergelombang, berwarna cokelat gelap, membingkai wajahnya yang terpahat sempurna.
“Heh! Kau tak mendengar kan cerita ku ya?” Niall melemparkan segenggam popcorn ke wajah Justin. Justin terkisap dan baru menyadari situasi yang tengah terjadi. Logan hanya menggelengkan kepalanya prihatin saat melihat kawan nya yang satu itu kebanyakan termangu seperti orang idiot setelah menemui gadis yang bernama Marrie itu.
“Maaf kan aku kawan-kawan. Aku rasa.. Aku tergila-gila dengan Marrie! Senyum nya tak mau pergi dari kepalaku.” Justin mengacak rambutnya frustasi. “Marrie.. Oh Marrie..” Justin tersenyum sendiri sambil menerawang.
Niall mencibir. “Ah dia biasa saja! Aku sudah melihatnya saat pulang sekolah.”
Justin sama sekali tak mempedulikan tanggapan yang dilontarkan Niall. Baginya Marrie adalah gadis yang sempurna, dan ia begitu ingin memilikinya. “Logan! Ajarkan aku dialog Romeo mu,” pinta Justin beringsut mendekati sahabatnya yang tengah membaca naskahnya dengan cengiran antusias di wajahnya.
Niall beranjak. Mau mengambil coke lagi. Walaupun ini di rumah Justin, tapi ia sudah menggagap nya seperti rumah sendiri. Mereka semua memang bersikap seperti itu. Terlebih lagi rumah Justin sering kosong karena orang tuanya kerja diluar kota. Saat ia berbelok ke arah dapur, hampir saja ia bertabrakan dengan Taylor yang ternyata sudah pulang dari les bahasa perancis nya.
“Ups. Sorry” kata mereka berdua bersamaan. Taylor tertawa kecil. Ia dapat melihat pipi pucat Niall agak memerah. Oh dia benar-benar cowok yang imut!
“Aku berniat mengambil coke,” Niall berkata dengan setengah gugup. Taylor berbalik lalu mengambilkan tiga botol coke dari lemari pendingin. “Ini. Ada Logan juga kan diatas?” Taylor menyodorkan botol minuman nya dengan ramah. Niall hanya mengangguk lalu bergumam thanks. Entah Taylor mendengarnya atau tidak, karena suara nya mendadak tertelan. Sial. Niall bergegas naik ke tangga untuk kembali ke kamar Justin.
“Kurasa ini saatnya kau mendapat giliran,” ucap Logan mengerling pada Niall yang sekarang sedang termangu menggantikan Justin.
“Ah! Tak bisa! Marrie miliku!” tukas Justin sengit.
“Oh ya? Kau juga pernah melakukan ini dua kali kan? Niall pantas mendapatkan keadilan Justin!” Logan terkekeh sambil mengingat-ingat. Justin melemparkan segenggam pop corn pada Logan yang bersikap menyebalkan. “Kalian tak bisa melakukan ini padaku!” protes Justin serius. Ia benar-benar menyukai Marrie tampaknya.
“Tentu saja bisa!” timpal Niall tiba-tiba, berpura pura tegas. Akhirnya perdebatan mereka dilanjutkan dengan adegan liar seperti di mortal combat. Inilah kelakuan mereka yang sesungguhnya. Jauh dari kata cool seperti sikap mereka disekolah dan di hadapan para gadis.
Ariana tersenyum sendiri. Melihat Justin tertawa-tawa saat bermain gulat dengan kedua sahabatnya di kamar sebrang. Tanpa mereka ketahui, Ariana sejak tadi mengawasi mereka dari balik tirainya. Ia memang mengagumi Justin. Sejak Justin pernah membelanya sekali saat diganggu anak-anak jahil di tahun pertama mereka di Junior High School. Saat itulah Justin tiba-tiba datang dan membelanya. Ia menyuruh anak lelaki itu berhenti mengganggu Ariana. Bahkan dengan beraninya ia menantang si anak pengganggu itu. Sejak itulah Ariana menganggap Justin pahlawan. Pahalawan nya. Apalagi sikap Justin yang terkadang sok dewasa jika di hadapan nya hanya membuatnya tambah menyukai cowok itu.
Satu hari terasa begitu lambat buat Justin. Hari-hari yang ia lalui sebelum malam kencan nya dihabiskan dengan terus mendekati Marrie. Sekarang hampir semua cowok di Hayden High School memuja nya. Gadis itu semakin memikat setiap harinya. Yeah kecuali Niall. Ia cowok yang paling terlihat biasa saja saat berpapasan dengan anak baru itu.
Akhirnya saat yang dinantikan pun tiba. Malam ini Justin akan berkencan dengan gadis pujaan nya, Marrie. Walaupun Justin baru mengenalnya tiga hari, tapi rasanya ia sudah yakin dan mantap akan pilihan nya itu. Logan sudah mempersiapkan kameranya. Sambil mengatur kamera barunya itu, Niall mempersiapkan topeng Zombie andalan nya.
Aku tak mau menakutinya, batin Justin. Ini serius. Aku benar-benar menyukainya. Kencan ini kencan sungguhan. Bukan kencan yang berakhir dengan membuat gadis itu berlari sambil berteriak ketakutan. Justin memandangi kedua sahabatnya yang sedang serius mempersiapkan segalanya.
“Kemarin aku melihatnya, tapi dia agak aneh.” Niall memecah keheningan.
“Siapa?” tanya Justin. Logan hanya mendengarkan perbicangan kedua sahabatnya itu
“Marrie. Dia terlihat pucat. Wajahnya seperti kelelahan. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya.”
Niall benar, pikir Justin. Gadis itu terlihat berbeda dari pertama kali ia bertemu dengan nya. Wajahnya bagaikan bunga yang layu. Tentu saja Justin sudah menanyakan tentang keadaan nya tapi Marrie bilang ia baik-baik saja.
Justin mengeluarkan ponsel dari saku jaket nya. Ia mengetuk layar benda itu. Membuka kembali pesan dari Marrie tentang alamat rumahnya. Rodeo Drive. Perumahan baru yang letak nya lumayan jauh dari tempatnya.
“Kau tahu Rodeo Drive?” Justin bertanya pada Logan yang biasanya paling tau tentang daerah suatu tempat. Ia memang yang paling sering berpergian untuk mengejar beasiswa atau lomba.
Logan berfikir sejenak. “Yeah. Komplek itu baru saja jadi beberapa bulan lalu. Masih sepi sepertinya, lumayan jauh dari sini”
“Justin, apakah Marrie kesekolah naik mobil? atau ia menumpang pada murid lain?” tanya Niall tiba-tiba.
“Setahu ku tidak. Ia juga selalu menolak saat aku berniat mengantarnya. Mungkin ia naik bis atau semacam nya, dia kan gadis yang baik.” Wajah gadis itu kembali melintas di fikiran Justin. Membuatnya kembali tersenyum sendiri. “Sudahlah, aku pergi sekarang oke!”
“Ini masih jam 8 bodoh,” Logan mengingatkan karena mereka biasa melaksanakan misi rahasia itu sekitar jam 10 malam dan sampai ke tempat “mengerjai” sekitar setengah sebelas. Lebih malam pastinya lebih menegangkan. Justin tak menghiraukan kata-kata Logan ia bercermin sebentar lalu menghambur keluar melalui pintu depan.
Jujur saja, Justin sudah menunggu-nunggu saat ini. Ia bisa berdua dengan Marrie. Tak ada yang mengganggu.
Awan yang membentuk selimut tebal melayang-layang rendah, menutupi bulan. Lampu mobil nya menyorot terang. Ia membelokan mobil nya untuk masuk ke komplek perumahan itu. Rodeo Drive. Rumah-rumah besar itu berdiri kokoh di sekitarnya. Sayangnya masih banyak sekali yang kosong. Hampir tak ada yang melintasi kawasan itu kecuali mobil Justin. Rumah Marrie terletak di blok dalam. Keadaan semakin gelap, karena sumber cahaya hanya berasal dari lampu jalan. Di blok ini semua rumah kosong. Aneh. Justin memelankan laju mobilnya, menyusuri setiap rumah besar yang agak terihat menyeramkan. Akhirnya ia menemukan rumah Marrie. Rumahnya gelap. Hanya ada cahaya kekuningan di jendela atas. Pasti itu kamar Marrie, batin Justin. Gadis itu sudah bercerita kalau ia sering ditinggal sendiri dirumah.
Kepala Justin menyembul dari jendela mobil. Hembusan angin yang dingin dan kering mengenai tengkuk nya. Membuat nya sedikit bergidik. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Hey tunggu, pintu depan rumah nya terbuka sedikit. Apakah aku masuk saja? pikir Justin. Ia sudah mengirimkan pesan pada Marrie jika ia sudah ada di depan rumahnya. Tunggu saja dulu balasan nya Justin, tuntun nya pada diri sendiri. Semenit terasa setahun baginya. Ditambah rasa penasaran karena pintu rumah itu tak tertutup rapat. Justin memang berjanji datang jam 9, tapi toh sekarang sudah hampir jam sembilan.
Cowok itu pun keluar dari mobilnya. Melangkah mendekati rumah itu. Ia mendorong sedikit pintu nya, menciptakan suara deritan pendek. Rumahnya sangat sepi dan hanya diterangi lampu di atas meja, menciptakan suasana temaram.
“Marrie? Ini aku Justin!” panggil Justin lumayan kencang. Tak ada jawaban. Ia memasuki rumah itu perlahan. “Pintumu tak terkunci Marrie!”
Hatinya terus menuntunnya untuk terus memasuki rumah itu. Justin melihat tangga menuju ke lantai dua rumah itu. Tempat dimana ia melihat cahaya lampu dari luar. Barangkali ada seseorang disana, gumam nya. Tangga itu berderak saat Justin menaikinya. Ia melangkah menyusuri koridor lantai atas rumah itu.
“Marrie?”
Kosong.
Hening.
“Mar—“
Deg.
Justin tersentak kaget saat mendapati Marrie sudah ada dibelakang nya. Gadis itu tersenyum, wajahnya begitu lusuh dan muram. Rambutnya lepek, matanya berkantung. Dia benar-benar terlihat kacau.
“Justin!” pekik nya pelan.
“Eh, hello.” Jawab Justin tergagap. “Maaf aku memasuki rumah mu, tadi pintunya tak terkunci dan apakah kau bai---“ Marrie langsung melumat bibir Justin.
“Oh sial!” Justin tersentak mundur beberapa langkah. “Kau menggigit lidahku,” katanya meringis sambil meraba mulutnya yang beradarah.
“Im sorry. Aku sangat takut dan kesepian disini Justin.” Gadis itu mengelap darah yang masih tersisa di sudut bibirnya lalu menjilatnya dengan penuh kenikmatan.
Apa-apaan dia, dahi Justin berkerut. Marrie bersikap aneh.
Ia kembali mendekati Justin. Memblokadenya. Hidung mereka bersentuhan. Mata Marrie mengkilat. Entah kenapa ada sesuatu dibalik matanya yang. Tunggu. Matanya seharusnya berwarna cokelat bukan biru. Sesuatu yang jahat terasa menghinggapi benaknya. Justin belum pernah merasakan suasana yang mendadak mencekam seperti ini. Tangan Marrie perlahan mengelus wajah Justin. Gadis itu tersenyum.
“Aku harus pulang!” kata Justin tiba-tiba. Sedikit tergagap--berusaha melepaskan diri dari gadis aneh itu.
Senyum nya langsung memudar. Marrie mendadak marah. “Kau tak boleh pulang!!” ia menyeringai penuh kuasa.
Ketika Justin berusaha menjauh darinya. Gadis itu mencengkram tangan cowok itu dengan kuat lalu menghempaskan nya ke tembok. Marrie menggeram.
“Hey! Kau ini kenapa?” sembur Justin yang merasakan tubuhnya remuk. Ia segera bangkit. Marrie langsung menerjang nya. Membuatnya terjatuh kembali. Saat itu Justin tahu kalau ia harus melawan. Ia pun mengumpulkan kekuatan lalu mendorong tubuh gadis itu.
Marrie mendesis. Wajahnya terlihat menyeramkan saat tersembunyi sebagian di balik kegelapan. Justin terbelalak kaget saat mengetahui kalau Marrie bisa berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan. Gadis itu menyerang nya lagi. Kali ini ia berhasil mencakar Jusin cukup dalam. Membuat bajunya robek dan terluka.
Sialan.
Justin memeriksa dadanya yang terasa perih. Apa sih yang sebenarnya terjadi. Ini jelas bukan mimpi. Ia juga tidak mabuk. Ini nyata. Gadis itu tak jauh darinya tengah membungkuk bersiap mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang nya. Dalam keadaan genting tersebut Justin melihat sebuah benda yang tergeletak tak jauh dari posisinya. Tak begitu berguna sih sebenarnya, tapi cukup untuk melukai Marrie. Justin mengambil pensil kayu itu tepat saat Marrie menyerangnya. Ia pun berhasil menusukan pensil itu pada pundak gadis itu. Seketika cairan hitam yang kental keluar dari luka nya. Gadis itu mengerang kesakitan. Justin segera berlari menuruni tangga dan keluar dari rumah terkutuk itu. Dengan gerakan seribu langkah ia sudah masuk ke mobilnya lalu mengunci pintu dan jendela nya rapat. Mesin mobil menggerung saat Justin memutar kuncinya. Mobil nya melaju keluar dari blok perumahan itu. Saat Justin hampir keluar gerbang perumahan itu sekonyong-konyong gadis itu sudah ada di depan jalan nya, menghalangi jalan. Dia terlihat begitu menyeramkan saat disinari cahaya bulan. Sebelah tangan nya memegangi pundaknya yang terluka.
“Justin, keluar lah.. Aku terluka..” katanya lirih. “Tolong aku..”
Ah memang ini aku bodoh! Kau hampir merobek perut ku jika saja tadi aku tak berhasil menghindar. Gadis itu seperti mau memangsanya hidup-hidup.
“Tolong lah,”
“Menyingkirlah Marrie!” teriak Justin. “Aku bukan makanan! Gila saja!”
Gadis itu tersenyum sarkastik. “Kau pengecut! Kau bahkan takut keluar dari mobil bodohmu.” Sekarang langit sudah benar-benar gelap. Awan hitam sudah menelan bulan dengan sempurna. “Ketahuilah, tak ada yang bisa lolos dariku,”
Tabrak.
Tidak.
Tabrak.
Justin berfikir keras. Dia itukan hantu, atau apalah sejenisnya. Gadis itu tak akan mati kan jika Justin menabraknya. Tapi jika ini hanya lelucon yang dibuat untuknya, sungguh keterlaluan. Lagian Justin sudah kapok, jantung nya daritadi terus berderu tak karuan. Ia juga sudah cukup ketakutan. Wajahnya sudah sepucat gading.
Justin menahan nafas saat menjalankan mobilnya menghadang gadis itu. Bayangan menyeramkan itu menghambur padanya. Berteriak murka, seperti iblis yang disiram air suci. Mimpi buruknya telah berakhir, batin Justin lega. Mobil nya melesat cepat menjauhi tempat itu. Tiba-tiba ada sinar yang begitu terang menyorot tajam padanya. Membuat matanya menyipit karena kesilauan. Sedetik kemudian Justin baru menyadari jika itu adalah cahaya dari sebuah mobil tengah mengebut menuju ke arahnya. Tepat ke arahnya.
Shit. Ampuni aku tuhan.
Cowok berambut pirang-platina itu menguap. Niall mulai menggaruk-garuk kepala nya. Ia menoleh ke kanan-kiri lalu melirik jam tangan nya.
“Ini sudah jam setengah dua belas! Mana si Justin?”
Logan juga mulai bosan dan kesal menunggu. Ia menggambil ponselnya yang ia simpan di saku sweternya. Logan menekan beberapa kali lalu mendekatkan benda itu ke telingan nya.
“Sudah cukup bersenang-senang nya Justin.” Gurutu nya kesal sambil menunggu sahabatnya mengangkat telfon nya.
Ceklek. “Hey Kau! Cepat kemari!!” bentak Logan ketika jaringan telfon nya tersambung tapi kemudia dia menyadari itu hanya voice message Justin. Ia tak mengangkat telfon nya.
“Bagaimana? Aku sudah sangat mengantuk! Kurang ajar sekali anak itu!” Niall mendengus sebal. Entah kenapa Logan merasa agak aneh. Justin memang menyebalkan. Dia sangat egois, tapi ia tak pernah sampai tak menjawab telfon nya.
“Justin tak menjawab telfon. Kau ingat tadi dimana rumah Marrie?”
Dua cowok itu pun keluar dari persembunyian mereka. Berlari-lari kecil ke mobil yang mereka parkir agak jauh dari taman itu. Logan masuk terlebih dahulu ke mobilnya lalu segera memegang kemudi. Niall membututinya dari belakang lalu bergegas duduk di sebelah Logan. Mobil itu pun mendecit saat Logan meninjak gas secara tergesa-gesa.
Mobil merah itu membelok kasar saat ditikungan, membuat Niall yang sudah mengantuk berat kembali terjaga sepenuhnya.
“Hati-hatilah sedikit Logan. Kau tak mau kita berdua yang celakan kan,” Niall menyarankan, ia tahu Logan memang yang paling sigap diantara mereka bertiga. Ia juga yang paling dewasa dan bertanggung jawab. Ponsel Niall bergetar. Layar ponsel itu menyala terang di tengah suasana tengah malam yang tengah mereka lalui.
Taylor. Nama itu seketika membuat Niall menelan ludahnya sebelum menjawab.
To be continued~
Sabtu, 12 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar