Sabtu, 12 Oktober 2013

The New Girl Chap 1

The New Girls!
Genre : Horor, Scholl, Teen, Thriller
Cast : Justin Drew Bieber
Niall James Horran
Logan Wade  Lerman
Ariana Grande Butera
Taylor Allison Swift
Lucy Hale
Author : Nabila. N
Sorry for bad words, typos, ke gaje-an dan ke absrud-an nya. Saya bukan author yang handal, hanyalah amatiran. Masih mencoba belajar dan memperbaiki setiap saat :) Hope you like it!

Part 1 : You were popular one, the popular chick!
Mobil Buggati merah itu berkelok seraya terbatuk-batuk mengeluarkan asap. Logan menarik gigi mobil yang sepertinya sudah mengerang untuk berhenti. Mobil mewah itu pun mogok di tengah jalan. Payah. Memalukan. Brittany, cewek yang duduk disebelah kanan nya, menoleh ke sekeliling dengan resah. Gadis berambut jerami itu mendengus karena kencan pertama nya tak berjalan mulus. Brittany adalah anak baru disekolah Hayden High School. Mereka baru mengenal sekitar dua hari, tapi Logan langsung mengakjaknya berkencan. Tentu saja Brittany tak keberatan karena Logan adalah cowok populer di SMU itu. Mereka terhenti di tegah jalanan yang teramat sepi dan dekat dengan pemakaman Cricklewood. Kabut-kabut tipis itu berpendar tersorot lampu mobil yang kekuningan.
“Sepertinya mobil sialan ini tak bisa melanjutkan perjalanan,” Logan tersenyum sekilas, tetap tenang dan kalem. Lensa hijau nya mengilat di bawah sinar bulan purnama. Cowok itu terlihat memikat dengan jaket futball merah marun-kelabu nya yang membalut tubuh nya yang atletis.
Gadis itu mendesah pelan, “Lalu sekarang bagaimana?” ia bertanya dengan nada yang manja.
Semenit kemudian mereka berdua sudah berjalan membelah malam untuk melanjutkan perjalanan.
“Kau tahu kan aku mencintaimu Brittany?” Logan menatap kedua bola mata  gadis itu yang berwarna biru cerah. Wajah gadis itu seketika memerah. Ia tersenyum tersipu lalu mengangguk. Senyum Logan kembali menghiasi wajah tampan nya. Untuk sebagian cewek, senyum Logan bisa membuat mereka meleleh dan lupa diri. “Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu,” sambung nya menggantung.
“Apa Logan? Katakan saja,” jawab gadis itu, senyum nya semakin lebar. Britany sepertinya benar-benar terhipnotis oleh ketampanan si Lerman itu. Logan mendahulai langkah Brittany lalu membalikan badan nya ke arah si gadis sambil berjalan mundur. “Kau tahu, aku berbeda dengan yang lain.” Jawab nya dengan suara dalam. Memberi kesan yang serius.
“Tentu saja kau berbeda! Tak ada yang cowok semanis dirimu,” Ia mengelus rahang Logan yang kokoh. Logan hanya tersenyum terkulum, senyum andalan nya yang selalu berhasil menaklukan para gadis. Lalu perlahan ia menurunkan tangan si gadis dari wajahnya. “Bukan itu. Aku benar-benar berbeda,” katanya dengan suara datar dan wajah yang dingin. Ekspresinya benar-benar berubah drastis menjadi mendadak misterius.
Awan-awan yang berarak perlahan menipis, memperlihakan bulan purnama dengan bulat yang sempurna. Cahaya nya terang. Satu-satunya cahaya di malam yang gelap itu. Logan menenggadah, membiarkan tubuhnya bermandikan cahaya bulan. Ia memejamkan matanya. Cowok itu pun tersenyum kembali lalu melangkah menjauhi Brittany. Memasuki lahan pepohoan yang ada di kanan-kiri bahu jalan. Gadis itu segera mengekori langkah Logan. Tapi tiba-tiba Brittany kehilangan jejak Logan. Cowok keren itu tiba-tiba menghilang diantara pepohonan dan kabut tipis yang berada di sekeliling Brittany. Pohon-pohon besar terlihat merunduk, layaknya monster mengerikan yang bersiap menerkam nya. Suasana mendadak menjadi horor saat Brittany tak juga menemukan Logan.
“Logan? Where are you?” panggil nya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling yang mendadak menyeramkan. Sudah Jam berapa ini? Tanya gadis itu pada diri sendiri. Ia melirik jam tangan nya. 11 pm. “Logan?” suaranya terdengar mulai bergetar.
 Brittany menjerit saat sesuatu menyergap nya dari balik kegelapan.
Memeluk pinggangnya. Logan tertawa lalu mencium pipinya. Brittany mendesah lega. Tak percaya bahwa baru saja jantungnya hampir copot. Jika ia tak meyadari Logan yang melakukan nya. Cowok itu pun sukses membuat wajah Brittany memerah seperti kepiting rebus. Mereka berdua pun tertawa cekikikan.
“Bisakah kita skip bagian ini?” gerutu Niall yang sudah bosan melihat adegan bermesraan Logan-Brittany. Cowok yang disebelahnya terkekeh geli. “Biarkan mereka bersenang-senang dulu, kau tahu, itulah bagian terbaik dari misi rahasia kita ini,” Justin menimpali sambil tetap mengarahkan kameranya. “Yeah, dan kalian curang! Aku tak pernah mendapat giliranku!” sungut Niall. “Kau bisa kencani kakak kelas penggilamu itu, lagian tampang mereka selalu kehausan saat melihatmu.” mendengar jawaban Justin, Niall lalu tertawa sendiri, ia berdehem “Bolehkah aku mengencani Taylor?”
 Justin menoleh kearahnya dengan tatapan jengah. “Kau boleh mengencani semua kakak kelas yang kau mau, KECUALI KAKAK KU!” ia memberikan penekanan pada kalimat terakihir yang menyatakan ketidaksetujuan nya secara tegas. Sekarang giliran Niall yang terkekeh geli. Taylor Allison Swift adalah kakak perempuan dari sahabatnya sendiri, Justin. Aneh bukan jika Taylor masuk kedalam klub penggemar nya disekolah bersama puluhan kakak kelas perempuan nya yang lain. Aneh dan membanggakan, Niall menyimpulkan. Taylor tak kalah keren dari Justin. Kakak-Beradik itu sama sama merajai klub vokal sekolah. Dan Taylor juga cantik, hampir sempurna. Matanya berwarna biru indah, senada dengan mata yang dimilikinya. Tubuhnya ramping, dia selalu kelihatan anggun saat mengenakan dress kesekolah.
“Hey! Logan! Kau kenapa?” tanya Brittany yang melihat kelakuan Logan yang tampak aneh. Logan tak bergeming. Tiba-tiba saja ia mengerang kesakitan, sampai terbungkuk lalu tergopoh-gopoh kembali bersembunyi dibalik pepohonan.
“Logan?!” panggil Brittany panik sambil tetap megikuti jejak nya. Gadis itu menemukan yang Logan tengah memunggunginya, kembali tenggelam di bawah kegelapan. Cowok itu masih terus mengerang. Dan ketika tangan Brittany menyentuh bahu nya perlahan. Logan seketika menoleh dengan wajah yang menyeramkan. Kedua bola matanya hampir terlepas, seringai menyerakam yang robek sampai rahang yang memperlihatkan daging wajahnya. Tulang giginya yang tajam tumbuh liar tak beraturan. Logan menggeram marah. Brittany menjerit ketakutan. Suaranya melengking. Ia segera berbalik lalu segera berlari menjauh. Brittany sempat jatuh terjerembab karena lutut nya gemetar dan kakinya yang seketika melemas seperti karet. Tanpa menoleh ke belakang, ia segera bangkit dan terus berlari.
Tawa pun meledak. Dua cowok itu pun segera muncul dari balik persembunyian nya. Mereka tertawa terbahak sampai memegang perutnya yang terasa sakit.  Justin dan Niall pun segera menghampiri sahabat nya. Logan membuka topengnya. Wajah topeng itu menyeramkan, mirip zombie ratusan tahun. Topeng itu dibeli Niall saat ke karnaval kota dengan harga yang murah. Tapi benda itu sangat berguna karena mampu membuat para gadis berlari  dan menjerit ketakutan.
 “Kau dapat gambarnya kan?” tanya Logan sambil merebut kamera digital dari tangan Justin itu. Justin mengangguk sambil tak henti-hentinya tertawa.
“Aku harap Brittany masuk anggota atlet lari disekolah kita! Aku yakin kita akan selalu menang,” kata Niall disela tawanya. “Yeah. Kau benar! Dia gadis tercepat yang kita punya!” timpal Justin tergelak.
(Backsound : Actin’ Up – Asher Roth ft. Justin, Rye-Rye, ChrisBrown)
Well, itulah kerjaan ketiga cowok kece itu akhir-akhir ini. Menakuti siswi baru di sekolah mereka. Awalnya ide itu mereka dapatkan saat akan membantu Logan membuat adegan pendek untuk seleksi beasiswanya. Tapi lama-kelamaan mereka jadi ketagihan dan  menikmati kegiatan menjahili gadis-gadis itu.
Mereka bertiga memang masuk daftar cowok terkece disekolah bersama atlet-atlet cowok lain nya, seperti Jacob, Zac yang masing-masing merajai Basket dan Futball. Walaupun tak menjadi bintang atlet, mereka cukup menyandang peran yang penting disekolah. Seperti cowok yang berambut spike ini, teman-teman disekolah memanggil nya Biebs. Nama aslinya Justin Drew Bieber. Yang dia butuhkan untuk menjadi pusat perhatian hanyalah dua hal. Gitar dan lagu. Justin adalah pentolan dari grup vokal Grace Harmony. Semua orang terpukau ketika melihat dan mendengar ia bernyanyi sambil memainkan alunan gitarnya yang merdu. Bakat yang dimilikinya bukanlah bakat kacangan. Ia begitu hebat dalam masalah musik. Parasnya yang sempura semakin menambah pesona nya. Banyak cewek disekolah yang naksir padanya. Bahkan sebagian dari mereka membentuk club penggemar yang dianamai Biebzing. Gadis-gadis yang konyol dan gila! tapi aku mencintai mereka, komentar Justin saat mengetahui kegiatan itu. Sikap nya selalu terkesan ramah dan hangat pada semua orang, khususnya pada para wanita dan gadis.
Cowok kece yag kedua, Logan Wade Lerman. Si kalem yang menghanyutkan. Yeah terdengar berlebihan tapi tak ada kata lain yang tepat untuk menggambarkan nya. Matanya yang sewarna batuan jamrud bisa membuat para gadis lupa diri. Apalagi jika ia sudah menyunggingkan senyuman nya yang selalu terkesan dikulum. Dia begitu manis. Logan adalah Romeo, pangeran drama. Dia aktor drama terbaik yang dimiliki sekolah.
Dan yang selalu terlihat paling ceria dan polos diantara mereka, Niall James Horan. Ia mirip Justin model Junior High School. Senyum nya  dan pembawaan nya yang kekanak-kanakan mampu meluluh lantakan puluhan gadis-gadis yang berada satu tingkat diatasnya. Niall adalah buruan kakak kelas. Dia begitu menggemaskan untuk mereka.
Dan bagian terindah dari cerita ini adalah mereka bertiga tergabung dalam sebuah jalinan persahabatan. Hampir selalu bersama dan kompak dalam segala hal. Trio itu mendapat julukan Girlyzer atau penakluk para gadis. Konyol memang. Julukan itu diambil dari istilah Womanizer yang berarti penakluk wanita, karena mereka penankluk para gadis jadilah Girlyzer. Masing-masing dari mereka tak mempunyai pacar tetap. Justin yang selalu bersikap hangat dan manis pada setiap gadis, jadi mereka tak bisa membedakan mana kekasihnya. Logan, dia hanya belum menemukan Julietnya. Dan Niall, sikap nya lumayan merespon pada Taylor, kakak perempuan Justin.
Bel berdering nyaring. Menggema di lorong gedung besar itu. Dalam sekejap koridor yang sepi mendadak ramai. Anak-anak memang sangat cepat merespon bel istrirahat. Dengan satu hitungan mereka berhamburan keluar dari kelas masing-masing layaknya semut yang keluar dari sarang.
“Aku dengar ada anak baru lagi,” Logan bercerita saat ia berkumpul dengan dua sahabat nya di perpustakaan. Walaupun populer, ketiga cowok itu tak pernah mengabaikan pelajaran sekolah. Mereka selalu berusaha mengejar pelajaran. Salah satu metodenya ya pergi membaca ke perpustakaan.
Justin menoleh tertarik, langsung menutup buku yang ia baca. Ia antusias karena sekarang giliran nya yang mengerjai. Sebenarnya Niall tak pernah ada dalam urutan, tapi sepertinya ia tak pernah menyadari. Sekarang anak itu sedang tertidur di kursi sebelah Justin. Mungkin ia masih mengantuk karena misi mereka yang kemarin melebihi jam tidurnya, ledek Logan.
“Siapa?” seringai nakal menghiasi wajah tampan nya.
Logan memundurkan tubuhya. Mencoba menggundur waktu utuk menggoda sahabatnya.
“Katakan Logan! Jangan bilang jika kau hanya bercanda, karena aku sudah menutup buku yang sedang kubaca dan akibatnya sekarang aku harus mencari halaman terakhir yang kubuka,” beo Justin. Sikapnya yang seperti itu sangat mirip dengan Taylor.
Logan tertawa kecil. “Oke baiklah. Dia ada dikelas kimia, namanya Marrie. Dia pindahan dari luar kota, dan anak-anak bilang dia lumayan.”
Bagus, batin Justin. Aku tak menyangka secepat ini mendapat giliran. Biasanya jarang ada gadis baru disekolah ini sebelum kami mempunyai misi rahasia itu.
“Justy!” panggil Ariana sambil kesusahan mengikuti langkah Justin yang terlalu cepat dan lebar untuknya. Justin mendengus. Sudah berapa kali sih ia mengingatkan gadis kecil itu kalau ia benci dipanggil Justy. Panggilan masa kecilnya yang menggelikan. Hanya Taylor dan Ibunya yang masih memanggil nya begitu. Oh ya dan tentu saja si Ariana ini.
“Justy! Tunggu aku!” ulang Ariana. Justin menoleh dengan tatapan datar, tanpa menghentikan atau memperlambat langkahnya. “Jika kau terus memanggil ku seperti itu, aku tak akan menghentikan langkahku.” Jawab nya jahil lalu kembali mengalihkan kepalanya kedepan.
“Oke. Baik. Baik.” Gumam Ariana. “Justin Drew Bieber!!” teriaknya kencang. Justin seketika berhenti. Kenapa gadis itu tak bisa memanggilnya dengan normal sih, protesnya. Akhirnya  Ariana berhasil menghampirinya.
“Ada apa? Cepat katakan.”
“Kau mau tahu tentang gadis baru itu kan?” tanya nya tersenyum. Lesung pipit terlukis di wajahnya yang tirus. Membuat wajahnya lebih terlihat cantik. Ariana sebenarnya manis, tapi Justin selalu menganggapnya sebagai gadis kecil yang menjengkelkan. Rumah mereka berdampingan. Bahkan kamar mereka bersebrangan. Mereka dapat melihat ke kamar satu sama lain dari Jendela. Sialnya, gadis kecil itu selalu mengganti pakaian di kamar mandi. Tahukan maksudku haha. Ariana mengetahui misi rahasia kami, karena ia pernah membuntuti kami sekali dan hampir membuat semuanya gagal jika saja tak kubekap mulutnya.
“Yeah. Sud—“ sebelum Justin menyelesaikan kalimatnya, Ariana sudah memekik pelan saat melihat anak baru itu. Seperti anak kecil yang menginginkan ayahnya melihat mainan favoritnya, Ariana menunjuk gadis itu. Justin segera menepis jari Ariana, takut anak baru itu menyadari jika mereka sedang membicarakan nya. “Turukan jarimu!” sergah Justin. Seperti bapak-bapak yang tak ingin putri kecilnya membuat keributan.
Terlambat.
Gadis itu menoleh padanya.
Tatapan nya tajam. Mata mereka bertemu. Alih-alih kesal atau marah. Gadis itu tersenyum padanya. Senyum yang indah, pikir Justin. Wajahnya khas gadis amerika latin. Menggemaskan dan seksi. Matanya berwarna cokelat terang. Seperti magnet, Justin tertarik pesona gadis itu yang begitu kuat. Justin melangkah mendekatinya tanpa sadar. Marrie. Marrie, ia mengingat kata-kata Logan tentang nama gadis itu.
Dia begitu mempesona, batin Justin.
Gadis itu membuka mulutnya saat Justin mengajaknya bicara. Suaranya renyah dan lembut. Justin belum pernah merasakan ini sebelumnya. Seperti ada aliran listrik yang mengaliri tubuhnya. Wajahnya terasa memanas. Ya ampun. Gadis itu menyentuh pundaknya yang tegap. Jantungnya berderu tak karuan. Sampai-sampai ia takut gadis itu dapat mendengarnya.
Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?
Sebelum ia meledak. Justin memberanikan diri langsung mengajaknya kencan. Jum’at malam. Gadis itu belum menjawab. Bodoh. Ia mengutuki dirinya sendiri. Ini terlalu cepat Justin. Kenapa aku jadi amatiran begini sih.

“Jadi bagaimana?” tanya Justin penasaran karena gadis itu tak langsung menjawab.
Posted on by Nabila Naomi | No comments

0 komentar:

Posting Komentar