Jumat, 03 Maret 2017

Two Sides of Coin

Mungkin ini berawal dari perhatian dan ke khawatiran ku yang kelewatan.

Aku sudah mengetahui jika makhluk yang bernama laki-laki tidak suka di kekang. Jadi cukup beri tau atau mengingatkan hal-hal yang menurut mu tidak benar di kehidupan mereka dan biarkan mereka memilih mengikutinya atau tidak.

Itulah yang aku lakukan.

Aku memberi tahu jika kita harus tahu waktu jika berada di luar rumah.

Jika memang hal itu penting dan tak bisa terelakan; seperti contohnya bekerja; karena bekerja pulang malam itu bukan keinginan kita sama sekali kan, itu kewajiban yang harus dilaksanakan.

Yang jadi masalah untuku, adalah saat kita hanya main; kau bilang tujuan mu jelas; ya memang jelas; awalnya; kamu punya keperluan ke kampus untuk registrasi ulang. Nah itu hanya butuh waktu paling lama satu jam. Dan setelah itu kamu pergi kerumah temanmu.

Aku tak pernah mempermasalahkan sebelumnya. Kau mau pergi kemana, seperti saat kamu ingin main futsal, karena futsal itu kamu kerjakan malam minggu, esoknya hari libur, kamu bisa bebas tidur sepanjang hari.

Lain hal nya dengan kejadian kemarin. Persolan dengan kampus sudah selesai. Dan aku juga tidak menyuruh-nyuruh kamu pulang dari rumah kawanmu sebelum jam sudah mendekati tengah malam.

Aku membiarkan mu menghabiskan waktu cukup lama disana.

Sampai akhirnya jam menunjukan pukul sebelas lewat. aku bertanya, kapan kamu mau pulang. kamu jawab sebentar lagi.

Sebentar lagi.

Sudah hampir jam setengah 12.

Kamu belum pulang juga.

Aku memikirkan kamu besok masuk pagi. Dan bukan kah hal yang baik kan jika mengendara tengah malam. Bukan nya aku berpikiran negatif tapi kalau kita bisa cegah dan hindari hal-hal buruk mengapa tidak?

Merasa kamu tak mengindahkan peringatanku. Aku pun memutuskan untuk berhenti saja mengechat mu.

Selama kamu bekerja aku selalu menunggu kamu pulang. Jam berapapun. Aku tunggu. Aku ingin memastikan kamu sampai di rumah.

Lain hal nya dengan kemarin. Kamu cuma main. Dan aku pikir sudah lama juga kamu menghabiskan waktu disana.

Dan disitu aku pikir kamu tak memikirkan hal semacam itu.

Kamu tidak tahu waktu.

Kamu tidak menyayangi diri kamu sendiri.

Terdengar berlebihan. Untukmu.

Aku tahu.

Dan tidak apa-apa. Kita simpan saja pendapat kita masing-masing.

Sekarang kita bahas pendapatmu;

Kamu bilang jika aku di rumah aku tidak melihat jam.

Oke.

90% dari semua chat kita yang sampai malam. Aku yang pertama menyudahi nya. Aku melihat jam. Jika kamu masih tak menerima ini, aku punya yang lain.

90% chat kita yang sampai jam 1 pagi atau lewat set 2 saat kamu shift 2. Yang berarti tidak terlalu bermasalah karena aku pikir kamu bisa bebas bangun tidur jam berapapun paginya. Waktu istirahat kamu tetap terpenuhi. Disini aku melihat jam juga.

90% chat malam kita jika kamu shift dua. Aku selalu mengingatkan "besok kamu masuk pagi. tidurnya jangan malem-malem"

Lagi-lagi aku melihat jam.

Dan jika kamu masih menangkal itu semua, aku tak apa. Masih ada hal lain yang bisa aku jadika tolak ukur fikiran kamu.

Dirumah dan Diluar rumah; Apakah punya resiko yang sama?

Kejadian buruk apa yang mungkin bisa terjadi di dalam rumah?

Dan kejadian buruk apa yang mungkin bisa terjadi di luar rumah?

Tolong renungkan..

Terakhir kamu bilang, tak sering melakukan hal itu. Main tak tahu waktu.

Kembali lagi pada pemikiran ku;

Aku tak akan menyuruhmu pulang jika waktu sudah menunjukan waktu hampir tengah malam, dan besok kamu kerja pagi ditambah kamu juga sudah menghabiskan cukup banyak waktu disana.

Ingat saat kamu bilang teman mu yang dari DP 9 ingin bertemu?

Aku mengijinkan nya bukan?

Itu karena aku mencoba mengerti, kalian sudah lama tak bertemu. Dan tak masalah jika memang ia ingin bertemu. Dan memang keadaan nya kamu sedang shift 2 jadi mau tak mau kalian hanya bertemu selepas tengah malam.

Aku tahu jika kaum lelaki meng agungkan pertemanan.

Dan aku mencoba mengerti.

Mencoba menghargainya.
.

Intinya ini semua untuk kebaikan kamu juga.

Dan aku hanya ingin kamu baik-baik saja.

Aku ingin kamu bisa lebih bijaksana dalam waktu.

Maaf jika kamu tidak menyukai cara ku melakukan hal ini padamu.

Hakikatnya; hidup kamu tetap hidup kamu.

Seberapapun aku peduli.

Seberapapun aku ingin kamu lebih baik.

Keputusan ada di tangan kamu.

Tapi tolong hargai pendapatku juga.

Seperti yang aku bilang. Kita bisa menyimpan pendapat kita masing-masing.

Jika kamu bisa tetap main tak tahu waktu dan aku bisa tak harus menunggumu pulang.

Aku baca perempuan akan lebih cerewet mengurusi hidup kamu jika mereka sudah benar-benar sayang dan peduli terhadap pasangan nya. Perempuan hanya ingin hidup lelakinya lebih baik. Itu saja.

Bukankah menjalani sebuah hubungan harus siap jika zona nyaman mereka terusik?

Biasanya kamu bebas melakukan apa yang kamu mau, jika sudah berpasangan, kamu harus memikirkan apa mau pasangan kamu karena mau tak mau mereka sudah ikut andil dalam kehidupan kamu.



Posted on by Nabila Naomi | No comments

0 komentar:

Posting Komentar