Di suatu sore yang tengah turun hujan, dia
memberiku kabar yang paling menggembirakan.
Sejak saat itulah musim panas datang.
Mentari cerah yang bersinar seiring
menghangatnya perasaan di hatiku.
Semuanya terasa begitu menyenangkan.
Aku seperti tak menginjak bumi.
Aku seperti menggapai bintang-bintang.
Tapi kemudian setiap musim tentu harus
berganti.
Aku terlalu bodoh untuk memirkan hal itu.
Sinarnya meredup
Aku berusaha tetap menggenggam nya
Tak peduli jika harus terbakar
Tak peduli saat mereka bilang sinar itu
membutakanku
Setiap
harinya seperti menghitung mundur
Layaknya bom waktu akhirnya semuanya akan
musnah juga
Sinar itu akhirnya padam
Tangis pun tak mengurangi luka ku
Tangis pun tak mengurangi kegelapan yang
terus mencoba menelanku
Aku dan Dia kami sama-sama tidak
meninggalakan
Kami hanya tak lagi satu
Kami menjadi bagian yang hanya bisa mencoba
menyalakan api kecil di hati yang paling dalam
Setiap tatapan mata akan terasa menyakitkan
dan menyenangkan di saat yang bersamaan
Dua rasa itu sama besarnya
Dua rasa itu sama menyebalkan nya.


0 komentar:
Posting Komentar