Selasa, 03 Januari 2017

Stigma—Begin—Lie



            Kim Taehyung langsung membaringkan tubuh sesampainya ia di atas rumah pohon kesayangan nya. Angin semilir terasa berhembus dari atas sini membuat suasana terasa lebih sejuk.
            “Panas sekali ya, hari ini Tae?” Jimin, si bocah lelaki yang sangat menyukai apel itu mengintrupsi ketenangan yang sedang dinikmati Taehyung. Ia mengatakan itu sembari menikmati apel merah besar digenggaman nya.
            “Jangan ganggu aku Jim, aku sedang malas berbincang saat ini.” Jawab Taehyung yang sedari tadi masih memejamkan matanya.
            “Ah, aku kira jika kau kesini kita bisa ngobrol-ngobrol,” celoteh Jimin sebelum kembali mengambil gigitan di buah apelnya.
            “Habiskan dulu apelmu baru bicara lagi denganku,”
            “Ya! Kau tahu itu tak akan mungkin terjadi. Aku tak akan berhenti makan apel seumur hidupku, asal kau tahu saja.”
            Kali ini Taehyung terkekeh pelan. “Yayaya.. aku ingin tidur sebentar, di atas sini selalu membuatku mengantuk.”
            “Kau mengantuk dimana saja bodoh,” timpal Jimin cemberut.
            “Hmm~”
            ...
            Sebuah suara yang sayup-sayup terdengar mengusik Taehyung, membuat ia mau tak mau membuka matanya. Sinar mentari sudah tak seterik saat ia datang menandakan hari sudah menjelang sore. Jimin masih dengan apel terduduk di pojok dan kelihatan bosan setengah mati. Ia tengah menyusun beberapa buah apel menjadi piramid, seperti yang dilakukan penjual buah di pasar.
            “V hyung!”
            Suara itu kembali terdengar. Suara yang membuat Taehyung akhirnya terbangun dan mengakhiri tidur siangnya dan sekarang membuat susunan apel Jimin jatuh berantakan.
            “Aish~ Tae! Beritahu orang di bawah untuk berhenti memanggilmu karena dia tak mendengarkan perkataanku sedari tadi.” kata Jimin jengkel. Ia sudah berkali-kali melongok ke bawah dan menyuruh orang itu pergi tapi tak dihiraukan sama sekali. Anak lelaki itu tetap saja memanggil-manggil nama samaran Taehyung. V adalah inisial yang ditulis Taehyung saat ia menggambar sesuatu dengan cat semprot. Dan karya Taehyung sudah menghiasi di beberapa bagian jalan maupun gedung.
            “Jeon Jungkook?” Taehyung masih ingat nama anak lelaki yang pernah memergokinya saat ia sedang bersenang-senang dengan cat semprotnya di suatu malam. Dan untuk pertama kalinya ada orang yang memuji hasil karyanya. Dengan mata yang berbinar penuh kekaguman dan senyum kelinci yang polos anak itu bilang jika gambarnya keren dan bahkan minta untuk diajari tapi tentu saja Taehyung menolak dan buru-buru meninggalkan anak itu.
            “V hyung! Aku tahu kau diatas sana!” teriaknya lagi membuat Taehyung menyudahi lamunan nya tentang pertemuan mereka yang pertama kali.
            “Cepat selesaikan urusanmu dengan anak itu karena aku sudah hampir gila mendengar panggilannya selama kau tidur tahu?!” sungut Jimin melempar satu apel ke arah Taehyung tapi meleset karena anak itu sudah keburu membuat pergerakan.
            Benar saja. Anak itu yang bernama Jeon Jungkook. Ia rupanya telah mengikuti Taehyung dan akhirnya dapat menemukan rumah pohon ini. Senyum mengembang di wajah Jungkook membuat gigi kelincinya terlihat lagi. Taehyung yang sebenarnya masih bingung mau tak mau memutuskan untuk menghampiri anak itu. Ia mulai menuruni beberapa anak tangga di batang pohon besar itu sementara Jimin ikut mengawasi dari atas rumah pohon. Entah kenapa kesal Jimin jadi hilang setelah melihat senyum Jungkook yang kelihatan tulus. Ia yang tadinya ingin menendang bokong anak itu kini berfikir jika tak apa mengajak Jungkook bergabung ke atas sini.
            “Kau?” kata Taehyung setelah sampai di hadapan anak lelaki itu. “Apa maumu?”
            “Tolong jadikan aku temanmu,” katanya dengan nada riang.
            Jimin langsung tertawa. Taehyung dapat mendengar tawa Jimin yang nyaring dan terdengar seperti elmo di acara sesame street.
            “Kenapa?” tanya Taehyung. “Kenapa ingin jadi temanku?”
            Senyum Jungkook makin melebar. Dengan semangat dan kemantapan hati ia kemudian menjawab. “Karena V Hyung sangat keren! Aku suka semua karya V hyung!”
            “Bravo Jungkook! Kau diterima jadi teman nya Taehyung,” tukas Jimin dari atas sana. Ia sepertinya sangat menyukai anak itu. Jungkook itu kelewat lucu dan manis melebihi apel merahnya.
            Butuh waktu beberapa detik untuk Taehyung mencerna perkataan Jungkook. Ia sebenarnya merasa sedikit tersanjung. Seumur hidupnya belum ada yang mengatakan hal semacam itu pada dirinya.
            “Terima Kasih,” kata itu meluncur begitu saja dari mulut Taehyung.
            “Apakah berarti V hyung menerimaku sebagai teman?”
            “Ya aku rasa—“
            Sebelum sempat meneruskan perkataan nya Jungkook sudah memberinya pelukan singkat. Hati Taehyung entah kenapa terasa menghangat.
            “Baiklah ayo kita pulang bersama hyung! Ibu ku sudah mencari ku karena hari sudah mau petang,” Jungkook membenarkan letak ransel punggunya sambil terkekeh.
            “Benar juga, ranselku masih diatas. Aku akan mengambilnya dulu.” Taehyung segera berbalik dan menaiki pijakan-pijakan di rumah pohonnya.
            “Jungkook jika kau mau kau boleh ikut ke atas sini!” kata Jimin sembari melambai-lambai senang.
            Taehyung kembali menoleh sebentar.
            “Tinggi sekali. Aku akan menunggu disini saja.”
            ...
Posted on by Nabila Naomi | No comments

0 komentar:

Posting Komentar