Kim
Taehyung langsung membaringkan tubuh sesampainya ia di atas rumah pohon
kesayangan nya. Angin semilir terasa berhembus dari atas sini membuat suasana
terasa lebih sejuk.
“Panas
sekali ya, hari ini Tae?” Jimin, si bocah lelaki yang sangat menyukai apel itu
mengintrupsi ketenangan yang sedang dinikmati Taehyung. Ia mengatakan itu
sembari menikmati apel merah besar digenggaman nya.
“Jangan
ganggu aku Jim, aku sedang malas berbincang saat ini.” Jawab Taehyung yang
sedari tadi masih memejamkan matanya.
“Ah,
aku kira jika kau kesini kita bisa ngobrol-ngobrol,” celoteh Jimin sebelum
kembali mengambil gigitan di buah apelnya.
“Habiskan
dulu apelmu baru bicara lagi denganku,”
“Ya!
Kau tahu itu tak akan mungkin terjadi. Aku tak akan berhenti makan apel seumur
hidupku, asal kau tahu saja.”
Kali
ini Taehyung terkekeh pelan. “Yayaya.. aku ingin tidur sebentar, di atas sini
selalu membuatku mengantuk.”
“Kau
mengantuk dimana saja bodoh,” timpal Jimin cemberut.
“Hmm~”
...
Sebuah
suara yang sayup-sayup terdengar mengusik Taehyung, membuat ia mau tak mau
membuka matanya. Sinar mentari sudah tak seterik saat ia datang menandakan hari
sudah menjelang sore. Jimin masih dengan apel terduduk di pojok dan kelihatan
bosan setengah mati. Ia tengah menyusun beberapa buah apel menjadi piramid,
seperti yang dilakukan penjual buah di pasar.
“V
hyung!”
Suara
itu kembali terdengar. Suara yang membuat Taehyung akhirnya terbangun dan
mengakhiri tidur siangnya dan sekarang membuat susunan apel Jimin jatuh
berantakan.
“Aish~
Tae! Beritahu orang di bawah untuk berhenti memanggilmu karena dia tak
mendengarkan perkataanku sedari tadi.” kata Jimin jengkel. Ia sudah
berkali-kali melongok ke bawah dan menyuruh orang itu pergi tapi tak dihiraukan
sama sekali. Anak lelaki itu tetap saja memanggil-manggil nama samaran
Taehyung. V adalah inisial yang ditulis Taehyung saat ia menggambar sesuatu
dengan cat semprot. Dan karya Taehyung sudah menghiasi di beberapa bagian jalan
maupun gedung.
“Jeon
Jungkook?” Taehyung masih ingat nama anak lelaki yang pernah memergokinya saat
ia sedang bersenang-senang dengan cat semprotnya di suatu malam. Dan untuk
pertama kalinya ada orang yang memuji hasil karyanya. Dengan mata yang berbinar
penuh kekaguman dan senyum kelinci yang polos anak itu bilang jika gambarnya
keren dan bahkan minta untuk diajari tapi tentu saja Taehyung menolak dan
buru-buru meninggalkan anak itu.
“V
hyung! Aku tahu kau diatas sana!” teriaknya lagi membuat Taehyung menyudahi
lamunan nya tentang pertemuan mereka yang pertama kali.
“Cepat
selesaikan urusanmu dengan anak itu karena aku sudah hampir gila mendengar
panggilannya selama kau tidur tahu?!” sungut Jimin melempar satu apel ke arah
Taehyung tapi meleset karena anak itu sudah keburu membuat pergerakan.
Benar
saja. Anak itu yang bernama Jeon Jungkook. Ia rupanya telah mengikuti Taehyung
dan akhirnya dapat menemukan rumah pohon ini. Senyum mengembang di wajah
Jungkook membuat gigi kelincinya terlihat lagi. Taehyung yang sebenarnya masih
bingung mau tak mau memutuskan untuk menghampiri anak itu. Ia mulai menuruni
beberapa anak tangga di batang pohon besar itu sementara Jimin ikut mengawasi
dari atas rumah pohon. Entah kenapa kesal Jimin jadi hilang setelah melihat
senyum Jungkook yang kelihatan tulus. Ia yang tadinya ingin menendang bokong
anak itu kini berfikir jika tak apa mengajak Jungkook bergabung ke atas sini.
“Kau?”
kata Taehyung setelah sampai di hadapan anak lelaki itu. “Apa maumu?”
“Tolong
jadikan aku temanmu,” katanya dengan nada riang.
Jimin
langsung tertawa. Taehyung dapat mendengar tawa Jimin yang nyaring dan
terdengar seperti elmo di acara sesame street.
“Kenapa?”
tanya Taehyung. “Kenapa ingin jadi temanku?”
Senyum
Jungkook makin melebar. Dengan semangat dan kemantapan hati ia kemudian menjawab.
“Karena V Hyung sangat keren! Aku suka semua karya V hyung!”
“Bravo
Jungkook! Kau diterima jadi teman nya Taehyung,” tukas Jimin dari atas sana. Ia
sepertinya sangat menyukai anak itu. Jungkook itu kelewat lucu dan manis
melebihi apel merahnya.
Butuh
waktu beberapa detik untuk Taehyung mencerna perkataan Jungkook. Ia sebenarnya
merasa sedikit tersanjung. Seumur hidupnya belum ada yang mengatakan hal
semacam itu pada dirinya.
“Terima
Kasih,” kata itu meluncur begitu saja dari mulut Taehyung.
“Apakah
berarti V hyung menerimaku sebagai teman?”
“Ya
aku rasa—“
Sebelum
sempat meneruskan perkataan nya Jungkook sudah memberinya pelukan singkat. Hati
Taehyung entah kenapa terasa menghangat.
“Baiklah
ayo kita pulang bersama hyung! Ibu ku sudah mencari ku karena hari sudah mau
petang,” Jungkook membenarkan letak ransel punggunya sambil terkekeh.
“Benar
juga, ranselku masih diatas. Aku akan mengambilnya dulu.” Taehyung segera
berbalik dan menaiki pijakan-pijakan di rumah pohonnya.
“Jungkook
jika kau mau kau boleh ikut ke atas sini!” kata Jimin sembari melambai-lambai
senang.
Taehyung
kembali menoleh sebentar.
“Tinggi
sekali. Aku akan menunggu disini saja.”
...


0 komentar:
Posting Komentar