Sabtu, 12 Oktober 2013

The New Girl Chap 4

Part 4 : Dirty Little Secret
Wajah Justin tampak menerawang. Berusaha mengingat kembali kejadian malam itu. Jika gadis itu itu bukanlah Marrie seperti yang dikatakan Cassandra, pasti ada petunjuk yang menguatkan peryataan itu. Wajah gadis menyeramkan itu memang mirip sekali dengan Marrie. Kecuali matanya. Yeah gadis itu memiliki bola mata biru yang terkesan sedalam lautan, sedangkan Marrie, bola matanya berwarna cokelat terang.
            “Gadis itu ‘mungkin’ bukanlah Marrie. Matanya yang biru sewarna dan sedalam lautan, menyimpan kemarahan dan kebencian. Aku dapat merasakan sesuatu yang jahat dibalik tatapan nya yang menohok tajam padaku.” Bayangan gadis itu kembali menghampirinya. Membuatnya sedikit bergidik ngeri mengingat kata-kata terakhirnya, Tak akan ada yang bisa lolos dariku. Sejujurnya semenjak kejadian itu Justin memang merasa ada yang mengawasi, dan perasaan terancam masih menyelimuti hati kecilnya. Aura jahat itu masih bisa ia rasakan malahan semakin kuat.
            “Biru ya, tapi bagaimana mungkin ia bisa terlihat serupa dengan Marrie,” Logan bergumam sendiri.
            “Mungkin ia bisa bertranformasi, seperti power rangers misalnya” Niall mengomentari sambil mengunyah sebungkus chips yang ia temukan di kamar Justin.
            “Ah ya, tentu saja. Tapi bagaimana kau bisa mengetahuinya Niall?” Justin sengaja melempar tatapan curiga pada sahabatnya itu. Disaat seperti ini ia sempat-sempat nya berniat menjahili anak itu. Ia harap Logan juga ikut mengerjai Niall.
            “Yeah. Bagaimana kau tahu? Oh ya Justin, kau bisa mengeluarkan aku dari daftar orang yang dicuigai karena mataku berwarna zamrud,” Logan memajukan tubuhnya untuk terlihat lebih serius.
            “Aku hanya menebak, itu saja.” Jawab Niall enteng. Ia melirik ke arah dua sahabatnya yang kini tengah menatapnya lekat-lekat. “Apasih yang kalian fikirkan?”  sungut Niall tersinggung.
            “Sepertinya kau harus berhati-hati buddy, ‘dia’ kelihatan selalu lapar”
            Logan mengangguk prihatin. Niall pun memasukan sengenggam chips itu ke mulut Justin secara paksa. “Jangan banyak bicara Justin, kau baru saja sembuh,” kata Niall dengan kesal. Justin tertawa geli sambil mencoba menutup mulutnya dari serangan chips itu. Logan segera menghampiri untuk membantu Justin menyelamatkan diri.
            Mereka tertawa dan bertingkah seperti biasa. Membuat lelucon lalu saling menertawakan.
            Ariana terperanjat. Ia segera bersembunyi di balik tirai jendelanya saat gadis itu menoleh ke arahnya. Jantungnya berdebar. Ariana tak sengaja melihat orang lain yang tengah mengawasi Justin juga. Gadis itu kelihatan melayang. Aneh dan menakutkan, batin Ariana. Perasaan itu tiba-tiba saja muncul. Semburat oranye yang menghiasi langit sore september membuat bayangan gadis itu nampak samar. Ia tak sempat memerhatikan gadis itu dengan jelas karena sepertinya gadis itu menyadari tatapan nya dan segera menoleh.
             Ariana kembali terlonjak kaget saat pintu nya tiba-tiba terdorong terbuka. Sosok wanita yang masih memakai celemek itu menyembul dari balik pintunya.
            “Sebaiknya kau bantu aku didapur, pie nya sudah hampir siap,” suruh Ibunya sambil membuka pintu nya makin lebar. “Kau kenapa Ari?” sambung nya saat melihat sisa ketakutan di wajah putrinya.
            Ariana menggeleng cepat lalu segera menghampiri ibunya. Ia ingat hari ini akan mengantarkan pie apel kerumah Justin. Senyum nya mengembang, ia memang sangat suka saat ibunya menyuruhnya mengirimkan sesuatu pada tetangga nya yang satu itu. Mereka pun bersama-sama menuruni tangga sambil berbincang.
            Tirai jendela Ariana bergerak-gerak. Memperlihatkan seringai-an gadis itu dibaliknya. Tentu saja ia menyadari tatapan gadis dibalik tirai tadi. Sekarang ia tengah mengawasi gadis itu jika ia berani mengintipnya lagi. Jika sempat ia akan langsung melenyapkan nya, karena tak ada yang boleh tau tentang siapa dia sebenarnya. Ariana sungguh beruntung karena tak memeriksa lagi apa yang ada dibalik tirainya.
            Pie apel itu sekarang sudah ada dipangkuan nya. Ariana berjalan ke pintu depan rumah nya. Hembusan angin kering langsung menghambur padanya ketika ia membuka pintu. Matahari sudah tenggelam sempurna. Cahaya oranye meredup, hampir berubah menghitam. Rumah Justin berada tak jauh dari rumahnya, karena gedung rumah mereka memang bersampingan. Ariana melangkah keluar dan berlari kecil agar cepat sampai. Gara-gara kejadian tadi ia jadi agak sedikit takut.
Gadis aneh itu masih ada tidak ya, gumam Ariana sambil terus mempercepat langkahnya. Ia mendesah lega saat sampai di depan pintu rumah Justin. Mobil Logan sudah tak terlihat terparkir di halaman Justin, kemungkinan dia sudah pulang sekarang. Ariana mengetuk pintu tak sabar. Suasana diluar begitu sepi dan semakin gelap. Entah kenapa ia merasa tak nyaman. Ia kembali mengetuk pintu rumah Justin lebih kencang. Mata nya yang berwarna cokelat gelap menangkap sesuatu yang aneh di sebrang jalan. Ia melihat seseorang tengah duduk di atas pohon besar. Itu gadis yang tadi ia lihat. Sekonyong-konyong ia menjatuhkan dirinya ke bawah. Membuat Ariana memekik tertahan. Ia seakan dapat mendengar retakan tulang gadis itu. Gadis itu bangun lalu tersenyum ke arahnya. Senyum menakutkan. Perlahan ia melangkah ke arahnya dengan gerakan patah-patah.
Tenggorokan nya terasa tercekik. Ariana seperti membeku tak bisa melakukan apa-apa saat melihat sosok itu mendekat padanya.
            “Hey kau kenapa? Ariana!” Justin mencoba menyadarkan Ariana yang memandang ke arah sebrang tanpa berkedip dan bergerak. Ia pun menggoncangkan tubuh gadis itu pelan. Membuat gadis itu tersentak, dan kembali bernafas.
            “Ada apa Ariana?” ulang Justin sambil mengikuti arah pandangan gadis itu tadi. Justin jelas dapat melihat wajah Ariana yang memucat, ia pun segera mempersilahkan gadis itu masuk.
            Ariana meneguk segelas air itu sampai setengah. Ia merasa lebih baik sekarang. Justin tengah menatapnya khawatir, karena ia belum sanggup bicara sepatah kata pun. “Ini aku bawakan pie apel untukmu Justy,” Ariana akhirnya sanggup membuka mulutnya yang terasa terkunci. Ia menyodorkan bungkusan yang sedari tadi dipangkuan nya.
            “Ah ya, Thanks. Begini, aku penasaran dengan apa yang kau lihat diluar tadi, jujur saja kau kelihatan begitu ketakutan.”
            Ariana menelan salivanya. Mencoba mengontrol dirinya yang ketakutan setengah mati. “Itu, aku rasa, hanya ilusi ku saja. Aku memang terlalu banyak menonton film horor akhir-akhir ini. Dan itu membuatku ketakutan sendiri, bodoh memang.”
            Justin mengangguk mengerti walaupun sebenarnya ragu dengan pengakuan Ariana. Ia membuka bungkusan Pie itu lalu tersenyum lebar. Aroma pie nya tercium sangat menggiurkan. “Wow, ibumu memang pandai membuat kue! Aku sudah lama sekali tak memakan ini,” Mata hazel nya berbinar senang.
            Justin meringis kesakitan saat kakinya yang terbalut perban terantuk kaki meja. Seharusnya ia memang tak boleh banyak berjalan-jalan selama seminggu ini. Ariana segera membantunya. Ia pun memapah Justin ke ruang perapian. Jantungnya kembali berdebar, bukan karena takut, tapi ia belum pernah sedekat ini dengan Justin sebelumnya.
            “Em, mana Taylor?” tanya Ariana supaya keliahatan normal, hanya pertanyaan itu saja yanga ada di kepala nya setiap ia datang ke rumah Justin. Mungkin akibat terlalu gugup.
            Justin mendesah. “Kenapa sih kau selalu menanyakan dia setiap datang kemari? Kau tak peduli padaku yang sehabis kecelakaan?” keluh Justin sambil membenarkan posisi kakinya.
            “Bukan. Bukan seperti itu, aku khawatir sekali padamu saat mendengar kabar itu. Aku sungguh senang kau baik-baik saja,” seberendel kata-kata meluncur dari mulut mungil Ariana. Awalnya ia tak berani mengucapkan nya, dan akibat pengakuannya itu, Ari semakin gugup. Gadis itu dapat merasakan wajahnya yang memanas. Dia berharap Justin tak menyadari perubahan sikapnya.
            Cowok itu tersenyum. Senang ternyata Ariana masih peduli padanya. Mereka duduk di sofa yang bersebrangan dan terhalang oleh sebuah laptop yang sedang Justin mainkan. Ia memang sedang mencari sesuatu tentang makhluk aneh yang menyerangnya itu di internet. Di beberapa film pencarian internet sangat membantu biasanya.
            “Li..Li..” Justin terbata saat mencoba membaca tulisan kecil di layar laptop nya.
            “Lillith?” Ariana menebak apa yang mau diucapkan Justin.
            “Yeah. Lillith!”
            Di blog itu tertulis tentang makhluk yang bernama Lilliith. Iblis cantik yang menyeramkan, kutipnya dengan font yang di tebalkan. Justin mengernyit.
            “Kau suka misteri juga ya?” tanya Ariana. Justin memutar bola mata padanya. “Tidak. Aku hanya ingin tahu saja,” ia kembali membaca tulisan itu. Lillith adalah makhluk cantik yang memangsa para pria untuk kelangsungan hidupnya. Awalnya Lillith berasal dari seorang gadis biasa tapi kemudian berubah menjadi iblis saat dibangkitkan kembali. Mata Justin berhenti saat menyadari tulisan itu sudah habis.
            “Sedikit sekali,” batin Justin kecewa. Padahal ia sudah sangat antusias saat mendapat artikel yang cocok. “Kenapa kau bisa menebak Lillith? Apa kau tahu sesuatu tentang makhluk itu?” Justin kembali mengarahkan pandangan nya pada Ariana yang sedari tadi hanya diam sambi memandanginya.
            “Aku pernah membaca ceritanya dulu, di sebuah buku mitologi tua.”
            “Bisakah kau menceritakan tentang makhluk itu padaku, bagian yang kau ingat saja.” Justin menatap penuh harap padanya sambil tersenyum.
            Ariana menekan bibirnya kedalam. Sebenarnya ia bisa saja bercerita secara lancar jika bukan dengan Justin. Cowok itu begitu mempesona di matanya. Dan selalu membuat nya gugup dan salah tingkah.
            “Makhluk itu adalah iblis yang cantik. Makhluk itu berasal dari gadis yang dibangkitkan kembali. Karena ia punya rasa emosi yang kuat, seperti kemarahan, kebencian ia berubah menjadi makhluk yang jahat. Biasanya ia akan mencari mangsa seorang lelaki untuk bertahan hidup. Membuat nya kembali cantik. Dia bisa menirukan rupa seseorang, membuat dirinya sangat mirip bahkan sama persis kecuali...”
            Ariana mengggit bibirnya. Justin memasang wajah serius, ia mendengarkan cerita Ariana dengan seksama. “Selebihnya aku lupa, maaf Justy,” sambung Ariana akhirnya.
            “Kecuali matanya bukan?” ucap Justin penuh keyakinan.
            “Yeah benar. Aku ingat sekarang. Matanya tak akan berubah, misalnya ia bermata..”
            “Biru.” Justin menyarakan. Ia begitu yakin sekarang kalau Lillith adalah makhluk yang menyerangnya.
            “Matanya biru, baiklah. Saat dia menirukan aku, mataku berubah menjadi biru. Makhuk itu akan mengejarmu sampai dapat jika kau berhasil lolos darinya. Karena yang paling ia takutkan adalah ada yang mengetahui siapa dia sebenarnya. Ia akan memberimu tanda, seperti luka atau gigitan supaya ia bisa dengan mudah mengetahui keberadaan mu”
            “Dan pakah kau percaya makhluk itu benar-benar ada?” tanya Justin. Ia merebahkan tubuhnya ke sofa lalu memandang ke langit-langit.
            “Entahlah,” jawab Ariana ragu. Justin menegakan kembali posisi duduknya. Ia menatap Ariana lekat-lekat lalu menyisingkan kaos nya dan perlahan membuka balutan perban nya.
            “Oh!” pekik Ariana tertahan. Justin ditandai makhluk itu.
            Malam ini Ariana benar-benar tak bisa memejamkan matanya. Sehabis dari rumah Justin ia tak bisa tenang apalagi mengingat ia melihat seseorang yang mengawasi Justin. Tirainya berkibar-kibar. Rupanya Ariana lupa mengunci jendela nya. Ia beranjak dari ranjangnya lalu melangkah ke dekat jendela. Sebelum mengunci jendelanya ia sempat melihat ke sebrang kamar Justin yang sudah tertutup rapat. “Selamat malam Justin,” batin nya lalu mengunci dan menutup tirainya juga.
            Suara riak air saling bersahut-sahutan. Setelah tiupan peluit, dalam satu hitungan para gadis itu menjatuhkan diri ke air lalu berenang ke sisi kolam renang secepat mungkin. Logan mengelap wajahnya dengan handuk. Cowok itu tengah beristirahat setelah berenang mengitari kolam. Ia memang butuh kegiatan yang seperti ini setelah seminggu dipenuhi keletihan. Badan dan fikiran nya terasa lebih segar.
            Jeanie, gadis itu sedang tertawa-tawa saat memanjat tiang  untuk nantinya melompat ke kolam renang dari papan diatas sana. Ia salah satu pemain regu cheerleader, mantan ketua regu itu. Gadis itu memang sangat berani, ia juga kebetulan mempunyai keahlian meloncat indah. Tubuhnya yang ramping memang terlihat anggun saat  melakukan nya.
            Jeanie sudah sampai di atas papan itu. Gadis itu meregangkan tangan tubuhnya terlebih dahulu lalu mengambil ancang-ancang untuk melompat. Tatapan tajam itu menohok padanya. Gadis itu merasakan keanehan. Ia mengedarkan pandangan ke orang-orang dibawahnya. Jeanie mengusap tengkuknya. Saat gadis itu bersiap melompat, pijakan nya tergelincir sedikit. Membuatnya limbung dan kehilangan keseimbangan. Jeanie pun terjun terjatuh dari atas sana dengan posisi tidak benar. Ia terjatuh ke dalam air diikuti suara deburan yang kencang.
            “Aaaaaaaaaaaaaaa!!!” teriak gadis-gadis itu sambil membelalak ngeri. Air kolam renang itu seketika berubah semerah darah. Kepala Jeanie jatuh duluan dan terbentur lantai kolam renang. Mereka berhamburan keluar dari kolam. Ariana yang merupakan salah satu dari beberapa gadis yang berada di kolam itu segera naik ke pinggir kolam. Hanya tinggal satu gadis di kolam itu. Ia masih tetap saja berenang di air yang bercampur darah tersebut.
            Joyce Anderson mengangkat kepalanya dari air. Tubuh Jeaine pun mengambang disebelahnya. Gadis itu pun menjerit ketakutan.
            Logan berada di kerubunan anak-anak yang berusaha mengintip apa yang dilakukan para medis yang datang kesekolahnya. Mereka bilang Jeanie tewas akibat benturan di kepala yang membuat tengkorak nya remuk. Kejadian tadi memang begitu menyeramkan. Ariana duduk berbaris sambil memegangi lutunya yang gemetaran. Mereka ditanyai sebentar oleh para medis itu untuk mengetahui kejadian nya sebenarnya terjadi.
            “Kalau ada dua pasti ada tiga,” gumam Sarah, gadis kulit hitam yang duduk disebelahnya. Wajahnya kelihatan sama shoknya dengan Ariana an gadis-gadis lain. “Apa maksudmu Sarah?” Ariana merasa bergidik mendengar ocehan teman nya itu. Sarah menoleh ke arahnya. Mata hitam nya yang pekat menyimpan ketakutan. “Kau pasti tau kan pribahasa itu. Kalau ada dua pasti ada tiga. Ini belum berakhir, sekolah kita dikutuk!”
            Pemakaman Kurt Federick dilangsungkan besok dan sekarang sudah ada lagi yang meninggal.
Apakah semua ini ada sangkut pautnya dengan kecelakaan Justin. Makhluk yang beranama Lillith itukah pelakunya? Tapi Jeanie kan perempuan bukan lelaki. Pasti ada sesuatu yang bisa menghubungkan ini semua, simpul Ariana.
Malam ini Justin kembali sendirian dirumah karena Taylor harus mengikuti les vokal nya, sedangkan kedua orang tuanya belum pulang dari luar kota. Kedua sahabatnya, Logan dan Niall sedang sibuk. Logan harus berlatih untuk pementasan drama nya sedangkan Niall ada acara bersama keluarganya. Justin melempar stick X-Box nya. Kebosanan setengah mati. Ia membuka tirainya sedikit. Ariana kelihatan sedang serius membaca di kamar sebrang.
Seseorang terdengar mengetuk pintu rumahnya. Justin beringsut antusias. Kaki nya sudah mulai normal sekarang, mungkin akibat nya Justin tak bisa diam kakinya cepat sembuh. Cowok itu berjalan secepat yang ia bisa untuk segera membukakan pintu.
Pintu nya terbuka. Ariana terlihat dibalik pintu, tersenyum padanya. Justin juga membalas tersenyum.
“Bolehkah aku masuk Justin?” pintanya ceria.
Deg.
Satu. Setahu Justin, Ariana selalu memanggilnya Justy.
Dua. Dia baru saja melihat Ariana sedang membaca buku dikamarnya.
Tiga. Jika Ariana pernah bilang misalnya ‘matanya biru’ dan sekarang ia tengah berhadapan dengan Ariana yang bermata biru.
“Ayo kita masuk saja! Aku tak suka diluar,” rayu gadis itu sambil mengelus sebelah tangan Justin yang masih memegang kenop pintu.
To Be Continued~
Posted on by Nabila Naomi | No comments

The New Girl Chap 3

Part 3 : The Lucky One
“Hati-hatilah sedikit Logan. Kau tak mau kita berdua yang celakan kan,” Niall menyarankan, ia tahu Logan memang yang paling sigap diantara mereka bertiga. Ia juga yang paling dewasa dan bertanggung jawab. Ponsel Niall bergetar. Layar ponsel itu menyala terang di tengah suasana tengah malam yang tengah mereka lalui.
            Taylor. Nama itu seketika membuat Niall menelan ludahnya sebelum menjawab.
            “Hallo?” suara gadis disebrang itu terdengar khawatir.
            “Yeah. Tay?”
            “Niall! Apakah kau bersama Justin? Dia belum pulang ke rumah. Aku tahu dia memang suka kelayapan, tapi dia tak mengangkat telfon ku.”
            “Em, begini. Aku tak sedang bersamanya,”
            “Oh ya tuhan! Kau tahu dimana dia?” suara Taylor terdengar bergetar dan semain panik.
            Niall mendesah. Merasa tak enak. “Aku dan Logan sekarang sedang menyusulnya ke tempat yang sepertinya ia datangi. Kau tenang saja dulu,”
            “Syukurlah kalau begitu. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu oke? Aku harap anak itu tak membuat masalah. Bye Niall, Thanks.”
            Logan menyusuri jalanan dengan hati-hati berharap bertemu dengan sahabatnya. Alih-alih bertemu Justin, Logan malah melihat Kurt Sullivan. Si kapten Futbal. Kap mobil depan nya menganga lebar. Ia kelihatan sedang sibuk membenarkan mesin mobilnya. Mobil Logan menepi, berniat bertanya sesuatu tentang arah ke Rodeo Drive.
            Klakson nya berbunyi. Mengalihakan perhatian Kurt yang tadi begitu serius mengotal-atik mobilnya. Cowok berbadan besar itu menoleh. Logan menyembul. Tersenyum sekilas untuk menyapa.
            “Aku tak menyangka kalian masih berkeliaran jam segini,” Kurt menggoda sekaligus mengejek. Senyum nya yang kelewat lebar terlihat menyebalkan. “Si Baby Horan! Seharusnya kau sedang bermimpi indah di pelukan ibumu kan,” panggil nya kegelian saat menyadari kehadiran Niall.
            Memang ada sedikit perselisihan antara kaum cowok populer atlet dan bukan atlet disekolah mereka. Satu sama lain menganggap diri mereka paling hebat. Mereka sering bersaing mendapatkan perhatian para gadis disekolah.
            Niall mendecak. Merasa kesal melihat sikap Kurt yang terkesan melecehkan nya. Logan tetap dengan sikap kalem nya, ia tak peduli di Kurt mau bilang apa, yang jelas si HULK itu mau memberi tahu kemana arah tujuan nya.
            “Kau tahu kemana arah Rodeo Drive?”
            Si Kurt berpura-pura berfikir keras. “Yeah. Ikuti saja jalan ini lalu berbelok ke kiri di pertigaan”
            “Thanks.” Logan pun kembali menjalankan mobilnya.
            “Heh hati-hati kudengar disana ada monster yang menyeramkan! Yang suka makan anak-anak kecil seperti kalian! Huuuuu....” teriak cowok itu sambil tertawa puas--mencoba menakut-nakuti Logan dan Niall. Wajahnya memerah karena menahan geli. Setelah puas tertawa, Kurt kembali membenarkan mobilnya yang bermasalah. Ia terkekeh sekali-kali jika mengingat kejadian tadi.
            Dari kejauhan ia melihat seorang gadis berjalan sendiri.
            “Hey Baby! Butuh tumpangan?” ajak nya sambil tersenyum lebar.
            Kepalanya terasa begitu berat. Justin merangkak keluar dari mobilnya yang sekarang dalam keadaan terbalik. Ia tak henti-hentinya mengumpat saat kesusahan mengeluarkan kaki kirinya yang tersangkut.
            “Woho! Malam yang gila!” seru Justin tak karuan. Setelah berhasil keluar dari mobilnya yang terbalik. Justin terkapar tak jauh dari bangkai mobilnya. Ia berusaha mengembalikan semua kesadaran dan roh nya yang tadi sempat tercecer kemana-mana. Sekujur tubuh nya terasa ngilu dan nyeri.
            “Aku masih utuh. Hanya patah kaki kurasa,” gumam nya sambil menatap langit malam. Ini memang bukan yang terburuk, Justin pernah mematahkan tangan dan merontokan giginya saat masih kecil, gara-gara bermain skateboard. Ibu dan kakaknya sampai histeris saat mendapati Justin dalam keadaaan seperti itu.
            Pria gempal bertopi jerami itu melangkah mendekatinya. Dialah si supir mobil yang tadi hampir menabrak Justin.
            “Kau tidak apa-apa nak? Aku benar-benar minta maaf! Aku berjanji akan bertanggung jawab” ucapnya penuh penyesalan, dan beraksen latin. Justin mengangkat kepala nya sebentar, supaya dapat melihat jelas wajah si pria itu. Wajahnya lebar, dengan sedikit kumis tipis di kulitnya yang cokelat. Oh jangan orang latin lagi, dengus Justin. Aku benci mereka, sungguh. Kepalanya di hempaskan kembali.
            “Baiklah tuan. Begini saja, tolong antarkan aku kerumah ku sekarang dan aku tak akan menuntutmu.” Katanya jengah. Aku hanya perlu pulang. Yeah. Memeluk Taylor dan minum seteguk air.
            Bel pintu berdenting. Taylor segera beranjak dari sofa lalu berlari untuk membukanya. Berharap sekali bahwa itu kedatangan adiknya.
            “Justy! Oh Tuhan! Kau! Apa yang terjadi?” pekik Taylor panik melihat adiknya dirangkul seseorang dan luka-luka.
            Justin begitu lega saat sampai dirumah. Akhirnya. Ia hampir gila tadi. Berkencan dengan gadis aneh dan terguling dua kali bersama mobilnya. Sekarang Taylor tengah memandanginya prihatin sambil mencoba mengobati lukanya. Mata birunya berkaca-kaca, tak sanggup melihat keadaan Justin yang kelihatan menyedihkan.
            “Aku tidak apa-apa.” Justin kembali menyakinkan kakaknya sambil meringis sesekali.
            “Ada luka diseluruh tubuhmu! Kau ini sebenarnya berbuat apa sih?”
            “Sudah kubilang. Aku kecelakaan saat pulang berkencan. Itu saja,”
            “Tapi kenapa Logan dan Niall tak mengetahui keberadaan mu? Katakan yang sejujurnya Justy.” Taylor mengganti kapas yang sudah berlumuran darah tersebut. Ia menatap kedua bola mata hazel adiknya lekat-lekat.
            Justin berdehem. “Memangnya dua orang bodoh itu selalu tahu kemana aku pergi apa?”
            Taylor memukul kepala adiknya itu dengan kesal. “Kau yang bodoh!” Ia pun meloyor meninggalkan Justin untuk mengambil cairan antiseptik.
            Sekarang sudah hampir pagi, sekitar jam 4. Taylor bilang akan mengantarnya ke rumah sakit hari ini untuk memeriksakan keadaan nya. Kabar baiknya, ternyata kaki Justin tidak patah, cuma terkilir dan hanya terdapat memar dan luka-luka kecil ditubuhnya. Yang paling sakit si luka cakaran di dada nya akibat gadis aneh itu. Justin bergidik saat mengingat wajah gadis itu. Menyeramkan. Walaupun masih sedikit cantik. Sedikit sekali, ia menekankan pada diri sendiri. Sudah lah ia sudah cukup lelah memikirkan malam itu.
            Justin merebahkan kepala nya ke sofa. Rasanya benar-benar nyaman dirumah. Perlahan ia pun memejamkan matanya yang sudah sayu. Ini semua sudah berakhir, batinya. Yeah, aku beruntung. Sangat beruntung. Terima kasih.
Tapi benarkah sudah berakhir?
Niall mendengkur pelan. Ia tengah tertidur di kelas sejarahnya. Tadi malam memang malam yang berat untuknya. Dia dan Logan berkendara mencari Justin sampai jam 3 pagi. Matanya sudah sangat berat, ia pulang kerumah dan langsung ketiduran. Rasanya baru saja memejamkan mata, jam weker nya berbunyi. Ia harus segera kesekolah.
            “Niall!” panggil Zayn, teman yang duduk di kursi sebelah.
            Cowok berparas pakistan itu mengebrak meja Niall. “Hey! Sudah bel! Pelajaran sudah usai,”
            Niall tersentak kaget, matanya terbuka sekaligus. Zayn benar, kelas sudah sepi. Pelajaran sejarah memang membuatnya merasa dibacakan dongeng. Niall pun menyeret kakinya keluar kelas. Di kantin ia pun bertemu dengan Logan. Mereka duduk satu meja. Tatapan mereka sama-sama lusuh. Kurang tidur ternyata memang mengurangi ketampanan mereka. Misi tadi malam benar-benar gagal. Apalagi Taylor sudah mengabarkan kalau Justin kecelakaan. Malam yang buruk, desah Logan. Mereka bersyukur sahabatnya tidak luka berat.
            Obrolan gadis-gadis di meja sebelah terdengar sayup-sayup. Logan tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Ia terjaga sepenuhnya saat mendengar kata-kata jika si HULK (Kurt) ditemukan polisi pagi tadi, dalam keadaan meninggal di dekat Forest Park. Tempat dimana mereka bertemu Kurt saat menanyakan jalan.
            “Hey! Gladise, maaf tapi apakah aku tak salah dengar, Hulk tewas?” Logan penasaran, dan memanggil salah satu gadis yan tengah bergosip itu. Gadis kulit hitam itu menggangguk. “Yeah, Romeo. Mereka menemukan Kurt dalam keadaan yang mengenaskan tadi pagi, sekitar jam 8.” Destiny, sahabat Gladise menimpali, “Mereka bilang ia kemungkinan diserang makhluk buas! Perut nya terkoyak!”
            Joyce, si kapten Cheers itu lewat. Ia mengenakan seragam regu Cheers yang berwarna merah-putih. Kehadiran nya sontak membuat gadis-gadis itu menghentikan membicarakan Kurt yang malang. Joyce adalah pacar Kurt, mereka adalah pasangan yang terkenal karena keduanya anak populer. Dilihat dari tatapan matanya yang menyimpan kesedihan mendalam, Logan menebak ia sudah tahu kejadian yang menimpa kekasihnya.
            “Aku tak menyangka mereka sanggup menjadikan nya berita hangat di pagi hari, menyedihkan.” Joyce tersenyum getir. Sengaja menyindir gadis-gadis itu. Logan merasa tak enak, ia lalu mengundang Joyce untuk duduk dulu bersama nya.
            “Kami turut berduka, Joyce.” Ucap Logan menguatkan. Yeah walaupun si Kurt menyebalkan tapi ia tak pantas mati seperti itu, terlalu keji. Gadis pirang itu mengangguk pelan. Matanya yang sebiru lautan terlihat basah. “Terima kasih. Bagaimana keadaan teman kalian si Biebs?” tanya nya mencoba tersenyum. Terkesan dipaksakan sih. Mungkin ia tak suka membicarakan kekasihnya yang akan membuatnya semakin sedih.
            “Dia.. Justin juga mengalami musibah, tadi malam ia kecelakaan,” cerita Logan sambil memijat pelipisnya.
            “Benarkah? Aku harap dia baik-baik saja.” tanggap nya dengan nada yang tenang.
            “Yeah. Thanks, Kami juga berharap seperti itu” jawab Logan se mampunya. Ia begitu mengantuk kali ini.
            “Auw!” Joyce meringis saat teman cheers nya menepuk pundaknya. Nama gadis itu Natalie, ia pun mengajak Joyce mengikutinya ke gedung olahraga untuk latihan. Gadis itu pun pamit seraya tersenyum.
            Berita Kurt benar-benar menyita perhatian. Semua anak membicarkan nya, tak ada yang membicarakan kecelakaan Justin. Mungkin kasus Kurt lebih mengerikan. Bayangkan saja cowok berbadan besar itu, yang biasanya menghadang lawan dengan tegap sambil berlari terus memeluk bola sekarang mati dengan keadaan sepert itu. Kurt begitu kuat. Ia beberapa kali memenangkan perlombaan futbal antar sekolah. Pasangan nya, Joyce juga pernah mengalami sesuatu yang mengerikan. Satu bulan yang lalu, gadis itu terjatuh saat berlatih cheer leader. Leher nya patah, kepala nya terbentur keras. Para medis bahkan sampai masuk kesekolah. Mereka hampir saja tak sanggup menyelamatkan nya. Ia sekarat selama beberapa hari. Sampai suatu saat orang tuanya membawa nya pergi diam-diam dari rumah sakit. Tak lama setelah itu, Joyce mengangetkan semua orang, ia kembali kesekolah dengan keadaan begitu sehat. Seperti tak pernah ada yang terjadi padanya.
            Sore nya, Logan dan Niall berniat kerumah Justin. Tentu saja sahabatnya itu sudah cerewet saat meminta mereka cepat datang. Katanya ada sesuatu yang penting. Mereka berdua terlihat lebih segar setelah sengaja tidur di perpustakaan. Dua cowok itu membolos dua kelas mereka masing-masing. Sebelum ke rumah Justin, Logan sempat ke super market untuk membei satu wadah besar es krim rasa cotton candy kesukaan Justin. Sudah kebiasaan nya jika sakit selalu minta dibelikan makanan itu.
            Logan membanting pintu mobilnya sampai tertutup, begitu juga Niall. Taylor pun langsung mempersilahkan mereka berdua masuk.
            “Tak ada yang aneh darinya?” bisik Niall pada Taylor.
            “Ada sedikit. Ia bermimpi buruk sekali, saat tertidur waktu pulang dari malam itu. Sepulang dari rumah sakit ia terus menatap langit-langit dan menutup rapat semua jendelanya. Ia juga cuma mau makan es krim itu sampai dua wadah besar.”
            “Dia bilang apa tentang kejadian tadi malam?” Logan ikutan berbisik-bisik saat mereka menaiki tangga bersama-sama.
            Taylor menggeleng. “Ia tak berbicara banyak. Malah jadi sedikit pendiam, tapi aku yakin ia mau bercerita pada kalian. Aku tahu ada yang disembunyikan nya,”
            “Hey kalian bertiga! Berhenti membicarakanku di depan pintuku seperti itu! Cepat masuk!” teriak Justin tak sabar dari dalam kamarnya. Mereka bertiga terkekeh pelan. Saking seriusnya mereka bertiga tak sadar sudah sampai di lantai dua, di depan kamar Justin dan masih berbisik membicarakan nya.
            Niall lebih dulu masuk. Ia memandangi sahabatnya yang sedang duduk di atas ranjangnya sambi menggenggam stick x-box. Kaki kiri Justin dibungkus perban. Wajahnya di tempeli beberapa plester karena terluka.
            “Apa?” tanya Justin datar.
            Niall menggeleng pelan lalu memicing curiga. Tangan nya menahan Logan yang berniat menyusul langkahnya.
            “Kau kenapa sih Niall? Mana ice cream ku?”
            “Aku akan menanyai mu beberapa pertanyaan, kau harus menjawab nya dengan cepat! Untuk sekedar memastikan kau adalah Justin sahabat kami.” suruh Niall serius. Sebelum Justin mengoceh protes Niall sudah membacakan pertanyaan nya. “Siapa cewek yang menolak Logan saat dia mengajaknya ke prom waktu smp?”
            Logan menoleh pada Niall, wajahnya seketika memerah. Justin tergagap. “Ak-Aku lupa! Untuk apa sih kau—“
            “Waktumu tinggal 3 detik!” tukas Niall.
            “Tunggu! Emma! Yeah namanya itu!” seru Justin terburu-buru.
            “Nama panjang Tuan Bieber,”
            “Emma.. Charlotte..” Justin menimang-nimang kata-kata yang meluncur dari mulutnya.
            “6..5..4..” Niall menghitung mundur tanpa belas kasihan.
            “Watson! Emma Charlotte Watson!” teriak Justin setelah berfikir keras.
            “Bagaimana Logan?” tanya Niall pada Logan yang sedari tadi salah tingkah. Logan hanya mendesah pelan, “Tepat sekali.”
            Cowok pirang itu langsung berlari ke ranjang Justin. Menghambur untuk memeluk sahabatnya.
Setelah cukup berbasa-basi. Justin mulai membuka mulutnya tentang kejadian gila tadi malam. Semua kejadian yang ia alami diceritakan mendetail dan berurut. Justin memang senang sekali bercerita.
            “Kau yakin?” tanya Logan yang merasa sahabatnya tengah meracau.
            “Tentu saja! Aku bisa memperlihatkan cakaran dia yang hampir merobek perutku!” Justin menyisingkan t-shirt nya. Memang ada luka disana tapi tertutup perban. Saat Justin akan membuka perban nya, Logan menyegahnya. “Jangan kau buka, tak perlu.”
            “Kau yakin tak ada yang salah dengan kepalamu,” tanggap Niall sambil memeluk wadah es krim yang tadi mereka bawa.
            “Maksud mu?” dengus Justin.
            “Yeah. Kau terguling dua kali kan?”
            “Kalian tak percaya padaku? Kalian pikir aku ini sinting begitu?” ucap Justin tersinggung. Sejenak suasana mendadak hening. Mereka semua sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
            “Tapi itu tak mungkin! Tadi aku bertemu Cassandra, gadis yang kupikir paling dekat dengan Marrie. Aku bertanya padanya, kenapa Marrie tak masuk hari ini..” cerita perlahan Logan, menatap serius kedua sahabatnya secara bergantian.
            “Lalu apa? Kenapa dia tak masuk?” tanya Niall tak sabar. Justin merasakan kepala nya mendadak pening dengan perkataan Logan yang misterius, dan mendadak membuat Jantungnya berdebar.
            “Dia sakit. Dan tadi malam Cassandra menemani Marrie dirumah nya.” Logan menatap Justin lekat-lekat, “Cass menemani Marrie semalaman. Ponsel Marrie tertinggal di gedung olahraga, jadi ia tak bisa memberitahumu masalah kencan itu. Ia tak berkencan dengan mu tadi malam Justin. Tak pernah.”
            Niall dan Justin sama-sama ternganga. Wajah mereka dipenuhi tanda tanya.
            “Ah! Tidak mungkin! Aku benar-benar bertemu dia!” Justin berteriak frustasi. “Kami bahkan sempat berciuman. Tapi dia menggingit lidahku!” sambungnya sambil menjulurkan lidahnya, untuk memperlihatkan lukanya.
            “Aku butuh makanan! Makanan! Kalau tidak aku bisa gila!” Niall ikut-ikutan berteriak sambil sibuk mencari apapun yang bisa dimakan nya.
            “Jadi  siapa yang aku kencani?!” tanya Justin pada kedua sahabatnya dan dirinya sendiri. “Eh, tunggu..” sambung Justin seperti mendapat secercah ide.
TO BE CONTINUED~
Posted on by Nabila Naomi | No comments

The New Girl Chap 2

The New Girls!
Genre : Horor, Scholl, Teen, Thriller
Cast : Justin Drew Bieber
Niall James Horran
Logan Wade  Lerman
Ariana Grande Butera
Taylor Allison Swift
Lucy Hale
Author : Nabila. N
Sorry for bad words, typos, ke gaje-an dan ke absrud-an nya. Saya bukan author yang handal, hanyalah amatiran. Masih mencoba belajar dan memperbaiki setiap saat :) Hope you like it!

Part 2 : Aren't you somethin' to admire ?
“Baiklah.” Jawabnya singkat seraya tersenyum. Pipinya yang berisi naik saat ia tersenyum. Menggemaskan sekali. Rambutnya bergelombang, berwarna cokelat gelap, membingkai wajahnya yang terpahat sempurna.
“Heh! Kau tak mendengar kan cerita ku ya?” Niall melemparkan segenggam popcorn ke wajah Justin. Justin terkisap dan baru menyadari situasi yang tengah terjadi. Logan hanya menggelengkan kepalanya prihatin saat melihat kawan nya yang satu itu kebanyakan termangu seperti orang idiot setelah menemui gadis yang bernama Marrie itu.
“Maaf kan aku kawan-kawan. Aku rasa.. Aku tergila-gila dengan Marrie! Senyum nya tak mau pergi dari kepalaku.” Justin mengacak rambutnya frustasi. “Marrie.. Oh Marrie..” Justin tersenyum sendiri sambil menerawang.
Niall mencibir. “Ah dia biasa saja! Aku sudah melihatnya saat pulang sekolah.”
Justin sama sekali tak mempedulikan tanggapan yang dilontarkan Niall. Baginya Marrie adalah gadis yang sempurna, dan ia begitu ingin memilikinya. “Logan! Ajarkan aku dialog Romeo mu,” pinta Justin beringsut mendekati sahabatnya yang tengah membaca naskahnya dengan cengiran antusias di wajahnya.
Niall beranjak. Mau mengambil coke lagi. Walaupun ini di rumah Justin, tapi ia sudah menggagap nya seperti rumah sendiri. Mereka semua memang bersikap seperti itu. Terlebih lagi rumah Justin sering kosong karena orang tuanya kerja diluar kota. Saat ia berbelok ke arah dapur, hampir saja ia bertabrakan dengan Taylor yang ternyata sudah pulang dari les bahasa perancis nya.
“Ups. Sorry” kata mereka berdua bersamaan. Taylor tertawa kecil. Ia dapat melihat pipi pucat Niall agak memerah. Oh dia benar-benar cowok yang imut!
“Aku berniat mengambil coke,” Niall berkata dengan setengah gugup. Taylor berbalik lalu mengambilkan tiga botol coke dari lemari pendingin. “Ini. Ada Logan juga kan diatas?” Taylor menyodorkan botol minuman nya dengan ramah. Niall hanya mengangguk lalu bergumam thanks. Entah Taylor mendengarnya atau tidak, karena suara nya mendadak tertelan. Sial. Niall bergegas naik ke tangga untuk kembali ke kamar Justin.
“Kurasa ini saatnya kau mendapat giliran,” ucap Logan mengerling pada Niall yang sekarang sedang termangu menggantikan Justin.
“Ah! Tak bisa! Marrie miliku!” tukas Justin sengit.
“Oh ya? Kau juga pernah melakukan ini dua kali kan? Niall pantas mendapatkan keadilan Justin!” Logan terkekeh sambil mengingat-ingat. Justin melemparkan segenggam pop corn pada Logan yang bersikap menyebalkan. “Kalian tak bisa melakukan ini padaku!” protes Justin serius. Ia benar-benar menyukai Marrie tampaknya.
“Tentu saja bisa!” timpal Niall tiba-tiba, berpura pura tegas. Akhirnya perdebatan mereka dilanjutkan dengan adegan liar seperti di mortal combat. Inilah kelakuan mereka yang sesungguhnya. Jauh dari kata cool seperti sikap mereka disekolah dan di hadapan para gadis.
Ariana tersenyum sendiri. Melihat Justin tertawa-tawa saat bermain gulat dengan kedua sahabatnya di kamar sebrang. Tanpa mereka ketahui, Ariana sejak tadi mengawasi mereka dari balik tirainya. Ia memang mengagumi Justin. Sejak Justin pernah membelanya sekali saat diganggu anak-anak jahil di tahun pertama mereka di Junior High School. Saat itulah Justin tiba-tiba datang dan membelanya. Ia menyuruh anak lelaki itu berhenti mengganggu Ariana. Bahkan dengan beraninya ia menantang si anak pengganggu itu. Sejak itulah Ariana menganggap Justin pahlawan. Pahalawan nya. Apalagi sikap Justin yang terkadang sok dewasa jika di hadapan nya hanya membuatnya tambah menyukai cowok itu.
Satu hari terasa begitu lambat buat Justin. Hari-hari yang ia lalui sebelum malam kencan nya dihabiskan dengan terus mendekati Marrie. Sekarang hampir semua cowok di Hayden High School memuja nya. Gadis itu semakin memikat setiap harinya. Yeah kecuali Niall. Ia cowok yang paling terlihat biasa saja saat berpapasan dengan anak baru itu.
Akhirnya saat yang dinantikan pun tiba. Malam ini Justin akan berkencan dengan gadis pujaan nya, Marrie. Walaupun Justin baru mengenalnya tiga hari, tapi rasanya ia sudah yakin dan mantap akan  pilihan nya itu. Logan sudah mempersiapkan kameranya. Sambil mengatur kamera barunya itu, Niall mempersiapkan topeng Zombie andalan nya.
Aku tak mau menakutinya, batin Justin. Ini serius. Aku benar-benar menyukainya. Kencan ini kencan sungguhan. Bukan kencan yang berakhir dengan membuat gadis itu berlari sambil berteriak ketakutan. Justin memandangi kedua sahabatnya yang sedang serius mempersiapkan segalanya.
“Kemarin aku melihatnya, tapi dia agak aneh.” Niall memecah keheningan.
“Siapa?” tanya Justin. Logan hanya mendengarkan perbicangan kedua sahabatnya itu
“Marrie. Dia terlihat pucat. Wajahnya seperti kelelahan. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya.”
Niall benar, pikir Justin. Gadis itu terlihat berbeda dari pertama kali ia bertemu dengan nya. Wajahnya bagaikan bunga yang layu. Tentu saja Justin sudah menanyakan tentang keadaan nya tapi Marrie bilang ia baik-baik saja.
Justin mengeluarkan ponsel dari saku jaket nya. Ia mengetuk layar benda itu. Membuka kembali pesan dari Marrie tentang alamat rumahnya. Rodeo Drive. Perumahan baru yang letak nya lumayan jauh dari tempatnya.
“Kau tahu Rodeo Drive?” Justin bertanya pada Logan yang biasanya paling tau tentang daerah suatu tempat. Ia memang yang paling sering berpergian untuk mengejar beasiswa atau lomba.
Logan berfikir sejenak. “Yeah. Komplek itu baru saja jadi beberapa bulan lalu. Masih sepi sepertinya, lumayan jauh dari sini”
“Justin, apakah Marrie kesekolah naik mobil? atau ia menumpang pada murid lain?” tanya Niall tiba-tiba.
“Setahu ku tidak. Ia juga selalu menolak saat aku berniat mengantarnya. Mungkin ia naik bis atau semacam nya, dia kan gadis yang baik.” Wajah gadis itu kembali melintas di fikiran Justin. Membuatnya kembali tersenyum sendiri. “Sudahlah, aku pergi sekarang oke!”
“Ini masih jam 8 bodoh,” Logan mengingatkan karena mereka biasa melaksanakan misi rahasia itu sekitar jam 10 malam dan sampai ke tempat “mengerjai” sekitar setengah sebelas. Lebih malam pastinya lebih menegangkan. Justin tak menghiraukan kata-kata Logan ia bercermin sebentar lalu menghambur keluar melalui pintu depan.
Jujur saja, Justin sudah menunggu-nunggu saat ini. Ia bisa berdua dengan Marrie. Tak ada yang mengganggu.
Awan yang membentuk selimut tebal melayang-layang rendah, menutupi bulan. Lampu mobil nya menyorot terang. Ia membelokan mobil nya untuk masuk ke komplek perumahan itu. Rodeo Drive. Rumah-rumah besar itu berdiri kokoh di sekitarnya. Sayangnya masih banyak sekali yang kosong. Hampir tak ada yang melintasi kawasan itu kecuali mobil Justin. Rumah Marrie terletak di blok dalam. Keadaan semakin gelap, karena sumber cahaya hanya berasal dari lampu jalan. Di blok ini semua rumah kosong. Aneh. Justin memelankan laju mobilnya, menyusuri setiap rumah besar yang agak terihat menyeramkan. Akhirnya ia menemukan rumah Marrie. Rumahnya gelap. Hanya ada cahaya kekuningan di jendela atas. Pasti itu kamar Marrie, batin Justin. Gadis itu sudah bercerita kalau ia sering ditinggal sendiri dirumah.
Kepala Justin menyembul dari jendela mobil. Hembusan angin yang dingin dan kering mengenai tengkuk nya. Membuat nya sedikit bergidik. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Hey tunggu, pintu depan rumah nya terbuka sedikit. Apakah aku masuk saja? pikir Justin. Ia sudah mengirimkan pesan pada Marrie jika ia sudah ada di depan rumahnya. Tunggu saja dulu balasan nya Justin, tuntun nya pada diri sendiri. Semenit terasa setahun baginya. Ditambah rasa penasaran karena pintu rumah itu tak tertutup rapat. Justin memang berjanji datang jam 9, tapi toh sekarang sudah hampir jam sembilan.
Cowok itu pun keluar dari mobilnya. Melangkah mendekati rumah itu. Ia mendorong sedikit pintu nya, menciptakan suara deritan pendek. Rumahnya sangat sepi dan hanya diterangi lampu di atas meja, menciptakan suasana temaram.
“Marrie? Ini aku Justin!” panggil Justin lumayan kencang. Tak ada jawaban. Ia memasuki rumah itu perlahan. “Pintumu tak terkunci Marrie!”
Hatinya terus menuntunnya untuk terus memasuki rumah itu. Justin melihat tangga menuju ke lantai dua rumah itu. Tempat dimana ia melihat cahaya lampu dari luar. Barangkali ada seseorang disana, gumam nya. Tangga itu berderak saat Justin menaikinya. Ia melangkah menyusuri koridor lantai atas rumah itu.
“Marrie?”
Kosong.
Hening.
“Mar—“
Deg.
Justin tersentak kaget saat mendapati Marrie sudah ada dibelakang nya. Gadis itu tersenyum, wajahnya begitu lusuh dan muram. Rambutnya lepek, matanya berkantung. Dia benar-benar terlihat kacau.
“Justin!” pekik nya pelan.
            “Eh, hello.” Jawab Justin tergagap. “Maaf aku memasuki rumah mu, tadi pintunya tak terkunci dan apakah kau bai---“ Marrie langsung melumat bibir Justin.
            “Oh sial!” Justin tersentak mundur beberapa langkah. “Kau menggigit lidahku,” katanya meringis sambil meraba mulutnya yang beradarah.
            “Im sorry. Aku sangat takut dan kesepian disini Justin.” Gadis itu mengelap darah yang masih tersisa di sudut bibirnya lalu menjilatnya dengan penuh kenikmatan.
            Apa-apaan dia, dahi Justin berkerut. Marrie bersikap aneh.
Ia kembali mendekati Justin. Memblokadenya. Hidung mereka bersentuhan. Mata Marrie mengkilat. Entah kenapa ada sesuatu dibalik matanya yang. Tunggu. Matanya seharusnya berwarna cokelat bukan biru. Sesuatu yang jahat terasa menghinggapi benaknya. Justin belum pernah merasakan suasana yang mendadak mencekam seperti ini. Tangan Marrie perlahan mengelus wajah Justin. Gadis itu tersenyum.
“Aku harus pulang!” kata Justin tiba-tiba. Sedikit tergagap--berusaha melepaskan diri dari gadis aneh itu.
Senyum nya langsung memudar. Marrie mendadak marah. “Kau tak boleh pulang!!” ia menyeringai penuh kuasa.
Ketika Justin berusaha menjauh darinya. Gadis itu mencengkram tangan cowok itu dengan kuat lalu menghempaskan nya ke tembok. Marrie menggeram.
“Hey! Kau ini kenapa?” sembur Justin yang merasakan tubuhnya remuk. Ia segera bangkit. Marrie langsung menerjang nya. Membuatnya terjatuh kembali. Saat itu Justin tahu kalau ia harus melawan. Ia pun mengumpulkan kekuatan lalu mendorong tubuh gadis itu.
Marrie mendesis. Wajahnya terlihat menyeramkan saat tersembunyi sebagian di balik kegelapan. Justin terbelalak kaget saat mengetahui kalau Marrie bisa berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan. Gadis itu menyerang nya lagi. Kali ini ia berhasil mencakar Jusin cukup dalam. Membuat bajunya robek dan terluka.
Sialan.
Justin memeriksa dadanya yang terasa perih. Apa sih yang sebenarnya terjadi. Ini jelas bukan mimpi. Ia juga tidak mabuk. Ini nyata. Gadis itu tak jauh darinya tengah membungkuk bersiap mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang nya. Dalam keadaan genting tersebut Justin melihat sebuah benda yang tergeletak tak jauh dari posisinya. Tak begitu berguna sih sebenarnya, tapi cukup untuk melukai Marrie. Justin mengambil pensil kayu itu tepat saat Marrie menyerangnya. Ia pun berhasil  menusukan pensil itu pada pundak gadis itu. Seketika cairan hitam yang kental keluar dari luka nya. Gadis itu mengerang kesakitan. Justin segera berlari menuruni tangga dan keluar dari rumah terkutuk itu. Dengan gerakan seribu langkah ia sudah masuk ke mobilnya lalu mengunci pintu dan jendela nya rapat. Mesin mobil menggerung saat Justin memutar kuncinya. Mobil nya melaju keluar dari blok perumahan itu. Saat Justin hampir keluar gerbang perumahan itu sekonyong-konyong gadis itu sudah ada di depan jalan nya, menghalangi jalan. Dia terlihat begitu menyeramkan saat disinari cahaya bulan. Sebelah tangan nya memegangi pundaknya yang terluka.
“Justin, keluar lah.. Aku terluka..” katanya lirih. “Tolong aku..”
Ah memang ini aku bodoh! Kau hampir merobek perut ku jika saja tadi aku tak berhasil menghindar. Gadis itu seperti mau memangsanya hidup-hidup.
“Tolong lah,”
“Menyingkirlah Marrie!” teriak Justin. “Aku bukan makanan! Gila saja!”
Gadis itu tersenyum sarkastik. “Kau pengecut! Kau bahkan takut keluar dari mobil bodohmu.” Sekarang langit sudah benar-benar gelap. Awan hitam sudah menelan bulan dengan sempurna. “Ketahuilah, tak ada yang bisa lolos dariku,”
Tabrak.
Tidak.
Tabrak.
Justin berfikir keras. Dia itukan hantu, atau apalah sejenisnya. Gadis itu tak akan mati kan jika Justin menabraknya. Tapi jika ini hanya lelucon yang dibuat untuknya, sungguh keterlaluan. Lagian Justin sudah kapok, jantung nya daritadi terus berderu tak karuan. Ia juga sudah cukup ketakutan. Wajahnya sudah sepucat gading.
Justin menahan nafas saat menjalankan mobilnya menghadang gadis itu. Bayangan menyeramkan itu menghambur padanya. Berteriak murka, seperti iblis yang disiram air suci. Mimpi buruknya telah berakhir, batin Justin lega. Mobil nya melesat cepat menjauhi tempat itu. Tiba-tiba ada sinar yang begitu terang menyorot tajam padanya. Membuat matanya menyipit karena kesilauan. Sedetik kemudian Justin baru menyadari jika itu adalah cahaya dari sebuah mobil tengah mengebut menuju ke arahnya. Tepat ke arahnya.
Shit. Ampuni aku tuhan.
Cowok berambut pirang-platina itu menguap. Niall mulai menggaruk-garuk kepala nya. Ia menoleh ke kanan-kiri lalu melirik jam tangan nya.
            “Ini sudah jam setengah dua belas! Mana si Justin?”
            Logan juga mulai bosan dan kesal menunggu. Ia menggambil ponselnya yang ia simpan di saku sweternya. Logan menekan beberapa kali lalu mendekatkan benda itu ke telingan nya.
            “Sudah cukup bersenang-senang nya Justin.” Gurutu nya kesal sambil menunggu sahabatnya mengangkat telfon nya.
            Ceklek. “Hey Kau! Cepat kemari!!” bentak Logan ketika jaringan telfon nya tersambung tapi kemudia dia menyadari itu hanya voice message Justin. Ia tak mengangkat telfon nya.
            “Bagaimana? Aku sudah sangat mengantuk! Kurang ajar sekali anak itu!” Niall mendengus sebal. Entah kenapa Logan merasa agak aneh. Justin memang menyebalkan. Dia sangat egois, tapi ia tak pernah sampai tak menjawab telfon nya.
            “Justin tak menjawab telfon. Kau ingat tadi dimana rumah Marrie?”
            Dua cowok itu pun keluar dari persembunyian mereka. Berlari-lari kecil ke mobil yang mereka parkir agak jauh dari taman itu. Logan masuk terlebih dahulu ke mobilnya lalu segera memegang kemudi. Niall membututinya dari belakang lalu bergegas duduk di sebelah Logan. Mobil itu pun mendecit saat Logan meninjak gas secara tergesa-gesa.
            Mobil merah itu membelok kasar saat ditikungan, membuat Niall yang sudah mengantuk berat kembali terjaga sepenuhnya.
            “Hati-hatilah sedikit Logan. Kau tak mau kita berdua yang celakan kan,” Niall menyarankan, ia tahu Logan memang yang paling sigap diantara mereka bertiga. Ia juga yang paling dewasa dan bertanggung jawab. Ponsel Niall bergetar. Layar ponsel itu menyala terang di tengah suasana tengah malam yang tengah mereka lalui.
            Taylor. Nama itu seketika membuat Niall menelan ludahnya sebelum menjawab.

To be continued~
Posted on by Nabila Naomi | No comments

The New Girl Chap 1

The New Girls!
Genre : Horor, Scholl, Teen, Thriller
Cast : Justin Drew Bieber
Niall James Horran
Logan Wade  Lerman
Ariana Grande Butera
Taylor Allison Swift
Lucy Hale
Author : Nabila. N
Sorry for bad words, typos, ke gaje-an dan ke absrud-an nya. Saya bukan author yang handal, hanyalah amatiran. Masih mencoba belajar dan memperbaiki setiap saat :) Hope you like it!

Part 1 : You were popular one, the popular chick!
Mobil Buggati merah itu berkelok seraya terbatuk-batuk mengeluarkan asap. Logan menarik gigi mobil yang sepertinya sudah mengerang untuk berhenti. Mobil mewah itu pun mogok di tengah jalan. Payah. Memalukan. Brittany, cewek yang duduk disebelah kanan nya, menoleh ke sekeliling dengan resah. Gadis berambut jerami itu mendengus karena kencan pertama nya tak berjalan mulus. Brittany adalah anak baru disekolah Hayden High School. Mereka baru mengenal sekitar dua hari, tapi Logan langsung mengakjaknya berkencan. Tentu saja Brittany tak keberatan karena Logan adalah cowok populer di SMU itu. Mereka terhenti di tegah jalanan yang teramat sepi dan dekat dengan pemakaman Cricklewood. Kabut-kabut tipis itu berpendar tersorot lampu mobil yang kekuningan.
“Sepertinya mobil sialan ini tak bisa melanjutkan perjalanan,” Logan tersenyum sekilas, tetap tenang dan kalem. Lensa hijau nya mengilat di bawah sinar bulan purnama. Cowok itu terlihat memikat dengan jaket futball merah marun-kelabu nya yang membalut tubuh nya yang atletis.
Gadis itu mendesah pelan, “Lalu sekarang bagaimana?” ia bertanya dengan nada yang manja.
Semenit kemudian mereka berdua sudah berjalan membelah malam untuk melanjutkan perjalanan.
“Kau tahu kan aku mencintaimu Brittany?” Logan menatap kedua bola mata  gadis itu yang berwarna biru cerah. Wajah gadis itu seketika memerah. Ia tersenyum tersipu lalu mengangguk. Senyum Logan kembali menghiasi wajah tampan nya. Untuk sebagian cewek, senyum Logan bisa membuat mereka meleleh dan lupa diri. “Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu,” sambung nya menggantung.
“Apa Logan? Katakan saja,” jawab gadis itu, senyum nya semakin lebar. Britany sepertinya benar-benar terhipnotis oleh ketampanan si Lerman itu. Logan mendahulai langkah Brittany lalu membalikan badan nya ke arah si gadis sambil berjalan mundur. “Kau tahu, aku berbeda dengan yang lain.” Jawab nya dengan suara dalam. Memberi kesan yang serius.
“Tentu saja kau berbeda! Tak ada yang cowok semanis dirimu,” Ia mengelus rahang Logan yang kokoh. Logan hanya tersenyum terkulum, senyum andalan nya yang selalu berhasil menaklukan para gadis. Lalu perlahan ia menurunkan tangan si gadis dari wajahnya. “Bukan itu. Aku benar-benar berbeda,” katanya dengan suara datar dan wajah yang dingin. Ekspresinya benar-benar berubah drastis menjadi mendadak misterius.
Awan-awan yang berarak perlahan menipis, memperlihakan bulan purnama dengan bulat yang sempurna. Cahaya nya terang. Satu-satunya cahaya di malam yang gelap itu. Logan menenggadah, membiarkan tubuhnya bermandikan cahaya bulan. Ia memejamkan matanya. Cowok itu pun tersenyum kembali lalu melangkah menjauhi Brittany. Memasuki lahan pepohoan yang ada di kanan-kiri bahu jalan. Gadis itu segera mengekori langkah Logan. Tapi tiba-tiba Brittany kehilangan jejak Logan. Cowok keren itu tiba-tiba menghilang diantara pepohonan dan kabut tipis yang berada di sekeliling Brittany. Pohon-pohon besar terlihat merunduk, layaknya monster mengerikan yang bersiap menerkam nya. Suasana mendadak menjadi horor saat Brittany tak juga menemukan Logan.
“Logan? Where are you?” panggil nya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling yang mendadak menyeramkan. Sudah Jam berapa ini? Tanya gadis itu pada diri sendiri. Ia melirik jam tangan nya. 11 pm. “Logan?” suaranya terdengar mulai bergetar.
 Brittany menjerit saat sesuatu menyergap nya dari balik kegelapan.
Memeluk pinggangnya. Logan tertawa lalu mencium pipinya. Brittany mendesah lega. Tak percaya bahwa baru saja jantungnya hampir copot. Jika ia tak meyadari Logan yang melakukan nya. Cowok itu pun sukses membuat wajah Brittany memerah seperti kepiting rebus. Mereka berdua pun tertawa cekikikan.
“Bisakah kita skip bagian ini?” gerutu Niall yang sudah bosan melihat adegan bermesraan Logan-Brittany. Cowok yang disebelahnya terkekeh geli. “Biarkan mereka bersenang-senang dulu, kau tahu, itulah bagian terbaik dari misi rahasia kita ini,” Justin menimpali sambil tetap mengarahkan kameranya. “Yeah, dan kalian curang! Aku tak pernah mendapat giliranku!” sungut Niall. “Kau bisa kencani kakak kelas penggilamu itu, lagian tampang mereka selalu kehausan saat melihatmu.” mendengar jawaban Justin, Niall lalu tertawa sendiri, ia berdehem “Bolehkah aku mengencani Taylor?”
 Justin menoleh kearahnya dengan tatapan jengah. “Kau boleh mengencani semua kakak kelas yang kau mau, KECUALI KAKAK KU!” ia memberikan penekanan pada kalimat terakihir yang menyatakan ketidaksetujuan nya secara tegas. Sekarang giliran Niall yang terkekeh geli. Taylor Allison Swift adalah kakak perempuan dari sahabatnya sendiri, Justin. Aneh bukan jika Taylor masuk kedalam klub penggemar nya disekolah bersama puluhan kakak kelas perempuan nya yang lain. Aneh dan membanggakan, Niall menyimpulkan. Taylor tak kalah keren dari Justin. Kakak-Beradik itu sama sama merajai klub vokal sekolah. Dan Taylor juga cantik, hampir sempurna. Matanya berwarna biru indah, senada dengan mata yang dimilikinya. Tubuhnya ramping, dia selalu kelihatan anggun saat mengenakan dress kesekolah.
“Hey! Logan! Kau kenapa?” tanya Brittany yang melihat kelakuan Logan yang tampak aneh. Logan tak bergeming. Tiba-tiba saja ia mengerang kesakitan, sampai terbungkuk lalu tergopoh-gopoh kembali bersembunyi dibalik pepohonan.
“Logan?!” panggil Brittany panik sambil tetap megikuti jejak nya. Gadis itu menemukan yang Logan tengah memunggunginya, kembali tenggelam di bawah kegelapan. Cowok itu masih terus mengerang. Dan ketika tangan Brittany menyentuh bahu nya perlahan. Logan seketika menoleh dengan wajah yang menyeramkan. Kedua bola matanya hampir terlepas, seringai menyerakam yang robek sampai rahang yang memperlihatkan daging wajahnya. Tulang giginya yang tajam tumbuh liar tak beraturan. Logan menggeram marah. Brittany menjerit ketakutan. Suaranya melengking. Ia segera berbalik lalu segera berlari menjauh. Brittany sempat jatuh terjerembab karena lutut nya gemetar dan kakinya yang seketika melemas seperti karet. Tanpa menoleh ke belakang, ia segera bangkit dan terus berlari.
Tawa pun meledak. Dua cowok itu pun segera muncul dari balik persembunyian nya. Mereka tertawa terbahak sampai memegang perutnya yang terasa sakit.  Justin dan Niall pun segera menghampiri sahabat nya. Logan membuka topengnya. Wajah topeng itu menyeramkan, mirip zombie ratusan tahun. Topeng itu dibeli Niall saat ke karnaval kota dengan harga yang murah. Tapi benda itu sangat berguna karena mampu membuat para gadis berlari  dan menjerit ketakutan.
 “Kau dapat gambarnya kan?” tanya Logan sambil merebut kamera digital dari tangan Justin itu. Justin mengangguk sambil tak henti-hentinya tertawa.
“Aku harap Brittany masuk anggota atlet lari disekolah kita! Aku yakin kita akan selalu menang,” kata Niall disela tawanya. “Yeah. Kau benar! Dia gadis tercepat yang kita punya!” timpal Justin tergelak.
(Backsound : Actin’ Up – Asher Roth ft. Justin, Rye-Rye, ChrisBrown)
Well, itulah kerjaan ketiga cowok kece itu akhir-akhir ini. Menakuti siswi baru di sekolah mereka. Awalnya ide itu mereka dapatkan saat akan membantu Logan membuat adegan pendek untuk seleksi beasiswanya. Tapi lama-kelamaan mereka jadi ketagihan dan  menikmati kegiatan menjahili gadis-gadis itu.
Mereka bertiga memang masuk daftar cowok terkece disekolah bersama atlet-atlet cowok lain nya, seperti Jacob, Zac yang masing-masing merajai Basket dan Futball. Walaupun tak menjadi bintang atlet, mereka cukup menyandang peran yang penting disekolah. Seperti cowok yang berambut spike ini, teman-teman disekolah memanggil nya Biebs. Nama aslinya Justin Drew Bieber. Yang dia butuhkan untuk menjadi pusat perhatian hanyalah dua hal. Gitar dan lagu. Justin adalah pentolan dari grup vokal Grace Harmony. Semua orang terpukau ketika melihat dan mendengar ia bernyanyi sambil memainkan alunan gitarnya yang merdu. Bakat yang dimilikinya bukanlah bakat kacangan. Ia begitu hebat dalam masalah musik. Parasnya yang sempura semakin menambah pesona nya. Banyak cewek disekolah yang naksir padanya. Bahkan sebagian dari mereka membentuk club penggemar yang dianamai Biebzing. Gadis-gadis yang konyol dan gila! tapi aku mencintai mereka, komentar Justin saat mengetahui kegiatan itu. Sikap nya selalu terkesan ramah dan hangat pada semua orang, khususnya pada para wanita dan gadis.
Cowok kece yag kedua, Logan Wade Lerman. Si kalem yang menghanyutkan. Yeah terdengar berlebihan tapi tak ada kata lain yang tepat untuk menggambarkan nya. Matanya yang sewarna batuan jamrud bisa membuat para gadis lupa diri. Apalagi jika ia sudah menyunggingkan senyuman nya yang selalu terkesan dikulum. Dia begitu manis. Logan adalah Romeo, pangeran drama. Dia aktor drama terbaik yang dimiliki sekolah.
Dan yang selalu terlihat paling ceria dan polos diantara mereka, Niall James Horan. Ia mirip Justin model Junior High School. Senyum nya  dan pembawaan nya yang kekanak-kanakan mampu meluluh lantakan puluhan gadis-gadis yang berada satu tingkat diatasnya. Niall adalah buruan kakak kelas. Dia begitu menggemaskan untuk mereka.
Dan bagian terindah dari cerita ini adalah mereka bertiga tergabung dalam sebuah jalinan persahabatan. Hampir selalu bersama dan kompak dalam segala hal. Trio itu mendapat julukan Girlyzer atau penakluk para gadis. Konyol memang. Julukan itu diambil dari istilah Womanizer yang berarti penakluk wanita, karena mereka penankluk para gadis jadilah Girlyzer. Masing-masing dari mereka tak mempunyai pacar tetap. Justin yang selalu bersikap hangat dan manis pada setiap gadis, jadi mereka tak bisa membedakan mana kekasihnya. Logan, dia hanya belum menemukan Julietnya. Dan Niall, sikap nya lumayan merespon pada Taylor, kakak perempuan Justin.
Bel berdering nyaring. Menggema di lorong gedung besar itu. Dalam sekejap koridor yang sepi mendadak ramai. Anak-anak memang sangat cepat merespon bel istrirahat. Dengan satu hitungan mereka berhamburan keluar dari kelas masing-masing layaknya semut yang keluar dari sarang.
“Aku dengar ada anak baru lagi,” Logan bercerita saat ia berkumpul dengan dua sahabat nya di perpustakaan. Walaupun populer, ketiga cowok itu tak pernah mengabaikan pelajaran sekolah. Mereka selalu berusaha mengejar pelajaran. Salah satu metodenya ya pergi membaca ke perpustakaan.
Justin menoleh tertarik, langsung menutup buku yang ia baca. Ia antusias karena sekarang giliran nya yang mengerjai. Sebenarnya Niall tak pernah ada dalam urutan, tapi sepertinya ia tak pernah menyadari. Sekarang anak itu sedang tertidur di kursi sebelah Justin. Mungkin ia masih mengantuk karena misi mereka yang kemarin melebihi jam tidurnya, ledek Logan.
“Siapa?” seringai nakal menghiasi wajah tampan nya.
Logan memundurkan tubuhya. Mencoba menggundur waktu utuk menggoda sahabatnya.
“Katakan Logan! Jangan bilang jika kau hanya bercanda, karena aku sudah menutup buku yang sedang kubaca dan akibatnya sekarang aku harus mencari halaman terakhir yang kubuka,” beo Justin. Sikapnya yang seperti itu sangat mirip dengan Taylor.
Logan tertawa kecil. “Oke baiklah. Dia ada dikelas kimia, namanya Marrie. Dia pindahan dari luar kota, dan anak-anak bilang dia lumayan.”
Bagus, batin Justin. Aku tak menyangka secepat ini mendapat giliran. Biasanya jarang ada gadis baru disekolah ini sebelum kami mempunyai misi rahasia itu.
“Justy!” panggil Ariana sambil kesusahan mengikuti langkah Justin yang terlalu cepat dan lebar untuknya. Justin mendengus. Sudah berapa kali sih ia mengingatkan gadis kecil itu kalau ia benci dipanggil Justy. Panggilan masa kecilnya yang menggelikan. Hanya Taylor dan Ibunya yang masih memanggil nya begitu. Oh ya dan tentu saja si Ariana ini.
“Justy! Tunggu aku!” ulang Ariana. Justin menoleh dengan tatapan datar, tanpa menghentikan atau memperlambat langkahnya. “Jika kau terus memanggil ku seperti itu, aku tak akan menghentikan langkahku.” Jawab nya jahil lalu kembali mengalihkan kepalanya kedepan.
“Oke. Baik. Baik.” Gumam Ariana. “Justin Drew Bieber!!” teriaknya kencang. Justin seketika berhenti. Kenapa gadis itu tak bisa memanggilnya dengan normal sih, protesnya. Akhirnya  Ariana berhasil menghampirinya.
“Ada apa? Cepat katakan.”
“Kau mau tahu tentang gadis baru itu kan?” tanya nya tersenyum. Lesung pipit terlukis di wajahnya yang tirus. Membuat wajahnya lebih terlihat cantik. Ariana sebenarnya manis, tapi Justin selalu menganggapnya sebagai gadis kecil yang menjengkelkan. Rumah mereka berdampingan. Bahkan kamar mereka bersebrangan. Mereka dapat melihat ke kamar satu sama lain dari Jendela. Sialnya, gadis kecil itu selalu mengganti pakaian di kamar mandi. Tahukan maksudku haha. Ariana mengetahui misi rahasia kami, karena ia pernah membuntuti kami sekali dan hampir membuat semuanya gagal jika saja tak kubekap mulutnya.
“Yeah. Sud—“ sebelum Justin menyelesaikan kalimatnya, Ariana sudah memekik pelan saat melihat anak baru itu. Seperti anak kecil yang menginginkan ayahnya melihat mainan favoritnya, Ariana menunjuk gadis itu. Justin segera menepis jari Ariana, takut anak baru itu menyadari jika mereka sedang membicarakan nya. “Turukan jarimu!” sergah Justin. Seperti bapak-bapak yang tak ingin putri kecilnya membuat keributan.
Terlambat.
Gadis itu menoleh padanya.
Tatapan nya tajam. Mata mereka bertemu. Alih-alih kesal atau marah. Gadis itu tersenyum padanya. Senyum yang indah, pikir Justin. Wajahnya khas gadis amerika latin. Menggemaskan dan seksi. Matanya berwarna cokelat terang. Seperti magnet, Justin tertarik pesona gadis itu yang begitu kuat. Justin melangkah mendekatinya tanpa sadar. Marrie. Marrie, ia mengingat kata-kata Logan tentang nama gadis itu.
Dia begitu mempesona, batin Justin.
Gadis itu membuka mulutnya saat Justin mengajaknya bicara. Suaranya renyah dan lembut. Justin belum pernah merasakan ini sebelumnya. Seperti ada aliran listrik yang mengaliri tubuhnya. Wajahnya terasa memanas. Ya ampun. Gadis itu menyentuh pundaknya yang tegap. Jantungnya berderu tak karuan. Sampai-sampai ia takut gadis itu dapat mendengarnya.
Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?
Sebelum ia meledak. Justin memberanikan diri langsung mengajaknya kencan. Jum’at malam. Gadis itu belum menjawab. Bodoh. Ia mengutuki dirinya sendiri. Ini terlalu cepat Justin. Kenapa aku jadi amatiran begini sih.

“Jadi bagaimana?” tanya Justin penasaran karena gadis itu tak langsung menjawab.
Posted on by Nabila Naomi | No comments

Jumat, 04 Oktober 2013

My Biggest Favorite Singer



My Biggest Favourite Singer!

Holla Computer People! Kali ini gue bakalan bahas tentang 3 best singer favorit gue :) Mau tau siapa aja? Apa udah tau? Apa gamau tau? Terserah deh lagian kalian udah terlanjur buka blog gue, jadi check this out aja yey haha._.v

Taylor Swift
Yeah! Siapa yang gak tau penyanyi cewe yang satu ini? Swift is the best-young-female-singer in Hollywood! She’s really talented! Gimana enggak, semua lagu Taylor diciptain sama dia sendiri dan lagunya enak banget, ngena di hati, cucok banget sama perasaan kita para cewek-cewek. Kalo gak percaya, Swift already have 7 grammys untill NOW! Pastinya tiap tahun bakalan nambah :) Ya kalo lo gatau Grammy sih susah. Grammy itu acara musik paling bergengsi di Hollywood sana, search aja deh tentang Grammy biar lebih yakin. Kalau penghargaan lain gausah ditanya deh, kemarin aja taylor dapet 8 award sekaligus di Billboard! Taylor sudah merilis 3 album. Fearless, Speak Now and RED. Semua lagu disetiap album nya enak semuanyaaaa. Tertarik download kah? Download gih, gabakal nyesel dijamin! Atau gue kasih beberapa referensi aja dulu ya, abis nya lagu nya udah banyak. Nih menurut gue yang paling enak di album Fearless ( Love Story, You belong with Me, White Horse, Fearless, Tear Drops on My Guitar, I’d Lie, Fifteen ) Speak Now (The Story of Us, Haunted dsb. Gue lupa yang mana aja lagu di album ini, sorry wk-_-) dan RED ( We are never ever getting back together, I knew you were trouble, 22, I almost Do, Treacherous, RED, Everything has Chenged) . Oia Tay juga menurut gue cantik banget! Liat aja deh, rambutnya lucu, matanya biru, idung nya kayak perosotan pokoknya Flawless. Nama Fandom nya Swifties :3 unyu banget kan? Girly gitu haha.Tay juga baik banget-bangetan! Dia yang pertama kali bawa Justin Bieber sebagai tamu di konser Fearless nya. Dulu Justin masih baru banget. Mana Justin sempet jatoh terus kakinya patah disitu, Taylor yang lagi nyanyi langsung lari ke backstage pas tau kejadian itu. Tay bilang, Justin itu tanggung jawabnya karena lagi ada di konsernya. Ia sempet meluk Justin dan ngasih semangat gitu. Besok nya mereka bikin video di youtube tentang kejadian itu. Mereka akrab banget, seneng deh ngeliatnya<3

Justin Bieber
Gue yakin semua orang udah tau sama bocah ini. Yep, Justin sempet meledak banget pas jaman 2010. Gara-gara dibilang artis You Tube. Gue cuma sedih aja gabanyak orang tau tentang bakat dan karya nya. Disaat Taylor yang sibuk nawar-nawarin musik nya ke label rekaman, One Direction masuk X-Factor, Selena Gomez masuk Disney, Justin cuma nyanyi pake gitar di bawah Teater Avon! Teater Avon itu teaternya Shakespeare, di Kanada loh. Justin ngamen. Dan beberapa turis yang lewat pada terpukau sama bakat nyanyi nya. Bahkan yang masukin video Justin ngamen di teater itu pun turis disitu. Dan si Pencari bakat yang ngejar-ngejar dia, Om scooter! Yeah tapi masih banyak orang yang ngeremehin dia. Mereka bilang nya Justin menang penghargaan karena fans bukan bakat. Hell no banget, buat punya fans lo harus punya bakat lah, think twice dude! Oke gue bakal bahas album nya. Justin itu penyanyi muda paling produktif loh! Dalam waktu 4 tahun dia sudah punya 6 album! My World, My World 2.0, My World Accoustic, Mistletoe, Believe, Believe Accoustic. Di album pertama suara Justin masih lucu, soalnya diakan masih kecil (14 tahun) pas Believe mendadak sekseh wk Gue bingung lagunya yang paling enak apa-_- Gue suka semuanya :) tapi gue kasih aja deh, Nih yang paling yahud Down To Earth, Common Denominator, Overboard, That Should Be Me, One Less Lonely Girl, U Smile, Nothing Like Us, I Would, Boyfriend, As Long As You Love Me, Beauty and a Beat dan masih banyak lagi. Konser dunia nya udah 2 kali, My World 2.0 Tour dan yang sekarang lagi berlangsung Believe. Semuanya SOLD OUT! Konser nya yang di MSG abis dalam waktu 15 detik! Justin selalu menyandang predikat BEST MALE di MTV! He’s really Awesome! Justin udah banyak banget dapet penghargaan darimana-mana, penghargaan musik, majalah, poling internet dsb. Baru-baru ini Justin dapet DIAMOND AWARD! Semuanya berkat Fanbase terkeceh sepanjang masa a.k.a Beliebersssss!!!!! Cinta banget gue sama fanbase ini haha! Kita adalah Fanbase yang paling oke, kompak, seru, rusuh, radikal, cakep, pokoknya asekkk! Sayangnya, banyak banget rumor jelek yang menghinggapi Justin. Padahal dia gak sejelek itu kok, dia baik banget. Media aja yang selalu nyorot sisi buruknya, atau terlalu lebay nanggepin kenakalan Justin yang sebenernya cuma iseng. Gak ada yang tau perlakuan dia ke Beliebers yang bikin gue tambah cinta sama dia. He’s the most sweetest idol ever! Yang paling cetar, Justin beli satu bintang ke NASA buat dinamain BELIEBERS! Seriusan ini! Search aja sana di om google :) Kemarin aja Justin baru mecahin rekor artis yang paling banyak ngabulin permohonan anak-anak di make a wish fondation! Proud :)

One Direction
Ini boyband favorite gua! One Direction adalah boyband bikinan Simon Cowell, alias jebolan X-Factor! Dulu mereka juara ke-3 disana, but see? Sekarang mereka jadi penyanyi X-Factor paling sukses! 1D baru punya 2 album, (Up All Night dan Take Me Home) genre lagunya unik deh, kayak band inggris jadul. One Direction bener—bener menyita perhatian, mereka salah satu pesaing berat Justin dalam memenangkan award. Menurut gue, vokal anak-anak 1D juga keren, apalagi Zayn sama Harry! Wow kalo mereka teriak suara nya lantang banget! One Direction juga mecahin rekor VEVO, videoklip yang paling banyak viewers nya dalam waktu satu hari. Bulan Agustus ini rencananya One Direction bakalan nge-rilis film biografi mereka “THIS IS US”. Boyband yang satu ini sering disama-samain sama The Beatles yang menuai sukses yang sama. Kehadiran One Direction memang benar-benar tak disangka bakalan kayak sekarang. Mereka berlima sering banget mecahin rekor yang udah karatan haha Kek rekor boyband dulu-dulu gitu. Udah cukup lama sih di UK and Hollywood gak ada Boyband yang secetar 1D sekarang. Jonas Brother juga gak sekeren 1D, mereka sekarang lagi ngusahain World Tour nya. Directioner adalah nama Fans mereka! Seru deh, One Direction pernah bikin event Bring Me To 1D. Directioner indonesia ada yang beruntung ketemu mereka. Wah luckiest girl :3 Oia sekarang saat nya ngasih referensi :) Dari album Up All Night yang paling kece itu What Makes You Beautiful, Little Things, More Than This, Tell Me a Lie, I Wish and I Want (teriakan Zayn garang abis, keren) And Take Me Home ( Little Things, Live While We’re Young, They Dont Know About Us, Last Kiss, Nobody Compares, She’s Not Afraid, Over Again, Change My Mind hampir semuanyaaaa haha)

Akhirnya kita sampai ke ujung acara, jiah wkwk-_- Pokoknya gue cinta banget bangetan sama tiga orang itu.
Justin is My First! He’s mah baby baby babyyyyyyy!!! Gue gila sumpah sama dia! Ih dia tuh cowok impian gue ;3 Koplak-_- I love him so much. Cinta pertama gue :) I REALY LOVE DAT CANADIAN WHITE ASS NIGGA :***** Beliebers juga, seneng banget bisa jadi bagian dari mereka, seru bannet!
Swift? She’s my Princess! Duh gue kagum banget sama dia! Otaknya sumpah dah Brilliant! Bikin lagu udah kayak ngapain tau. Jago banget! Enak lagi haha ngena dihati gue yang terombang-ambing gitu ha-ha.
Kelima abang-abang gue itu? Hih They Rock my world! Kocak banget liat kelakuan mereka. Pengen rasanya jadi salah satu dari mereka. Persahabatan nya bikin ngiri! Si Pakistan itu my favorit! Zayyynnnnn :3 alias Veronika di MV Best Song Ever haha

Posted on by Nabila Naomi | No comments

Selasa, 01 Oktober 2013

Wrecking Ball - Miley Cyrus | Terjemahan Lirik Lagu Barat

We clawed, we chained our hearts in vain
Kita mencakar, hati kita terikat dalam kesiaan

We jumped, never asking why
Kita melompat, tak pernah bertanya sebabnya

We kissed, I fell under your spell
Kita berciuman, aku dalam pengaruh mantramu

A love no one could deny
Cinta yang tak seorang pun bisa menyangkalnya


II
Don’t you ever say I just walked away
Jangan bilang dulu aku pergi begitu saja

I will always want you
Aku kan selalu menginginkanmu

I can’t live a lie, running for my life
Aku tak bisa terus berdusta, aku pergi tuk selamatkan nyawa

I will always want you
Aku kan selalu menginginkanmu


III
I came in like a wrecking ball
Hadirku bak bola penghancur

I never hit so hard in love
Tak pernah benar-benar aku jatuh cinta

All I wanted was to break your walls
Yang kuingin hanyalah menghancurkan dinding-dingingmu

All you ever did was wreck me
Yang kau lakukan hanyalah menghancurkanku

Yeah, you wreck me
Yeah, kau menghancurkanku


I put you high up in the sky
Begitu tinggi aku memujamu

And now, you’re not coming down
Dan kini kau tak mau turun

It slowly turned, you let me burn
Perlahan terlihat, kau biarkanku terbakar

And now, we’re ashes on the ground
Dan kini, kita hanyalah abu


Back to II, III

V
I came in like a wrecking ball
Hadirku bak bola penghancur

Yeah, I just closed my eyes and swung
Yeah, kupejamkan mata dan berayun

Left me crouching in a blaze and fall
Biarkanku berjongkok dalam bara dan terjatuh

All you ever did was wreck me
Yang kau lakukan hanyalah menghancurkanku

Yeah, you wreck me
Yeah, kau menghancurkanku


(2x)
I never meant to start a war
Tak pernah ada inginku tuk memulai perang

I just wanted you to let me in
Aku hanya ingin kau membiarkanku masuki hatimu

And instead of using force
Dan bukannya melawan

I guess I should’ve let you in
Kurasa harusnya kubiarkan kau masuki hatiku

I never meant to start a war
Tak pernah ada inginku tuk memulai perang

I just wanted you to let me in
Aku hanya ingin kau membiarkanku masuki hatimu

I guess I should’ve let you in
Kurasa harusnya kubiarkan kau masuki hatiku
Don’t you ever say I just walked away
Jangan bilang dulu kupergi begitu saja

I will always want you
Aku kan selalu menginginkanmu


Back to III, V
Posted on by Nabila Naomi | No comments